Grok AI mulai menuai sorotan serius ketika digunakan untuk menghasilkan gambar secara nonkonsensual. Awalnya, respons xAI terhadap polemik ini terkesan defensif yakni menyebut bahwa “media arus utama berbohong.” Pernyataan tersebut kemudian diikuti klarifikasi yang disampaikan melalui akun resmi Elon Musk di platform X pada 3 Januari 2026, yang menegaskan bahwa setiap pihak yang menggunakan atau memicu Grok untuk menghasilkan konten ilegal akan dikenai konsekuensi yang sama seperti pengguna yang mengunggah konten ilegal secara langsung.
Lebih lanjut, tim safety X kemudian menegaskan komitmen platform dalam menangani konten ilegal, termasuk materi pelecehan seksual terhadap anak (Child Sexual Abuse Material/CSAM), melalui penghapusan konten, penangguhan akun secara permanen, dan kerja sama dengan aparat penegak hukum dan otoritas setempat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengguna yang memanfaatkan atau memerintahkan Grok untuk menghasilkan konten ilegal tetap akan dikenai sanksi sesuai aturan dan kebijakan X yang berlaku. Situasi ini membuat klaim netralitas menjadi sulit dipertahankan.
Ketika alat generasi konten dan medium distribusinya berada dalam satu kendali korporasi maka tanggung jawab tidak dapat dilepaskan begitu saja. Elon Musk juga tidak dapat memosisikan diri sebagai pengamat pasif yang berdiri di luar dampak sistem yang ia bangun dan kelola. Lantas, mengapa Elon Musk perlu dimintai pertanggungjawaban atas cara Grok menghasilkan dan memublikasikan konten nonkonsensual? Penjelasan berikut akan menguraikan dasar-dasar argumennya.
