Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Infrastruktur Telekomunikasi Diperkuat, RI Kejar Kedaulatan Digital
Forum Group Discussion (FGD) Nasional bertajuk “Sinergi Strategis untuk Kedaulatan Digital: Optimalisasi Barang Milik Daerah untuk Infrastruktur Telekomunikasi, Penetapan Tarif Batas Atas Infrastruktur Pasif, dan Deklarasi OVC" (IDN Times/Misrohatun)
  • Pemerintah dan industri sepakat memperkuat infrastruktur telekomunikasi sebagai fondasi utama transformasi digital menuju visi Indonesia Digital 2045 dengan menekankan sinergi lintas pemangku kepentingan.
  • Target jangkauan serat optik nasional ditingkatkan hingga 90 persen pada 2029 untuk memperluas konektivitas, menaikkan penetrasi fixed broadband menjadi 50 persen, dan meningkatkan kecepatan hingga 100 Mbps.
  • APJATEL mendorong pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) guna mengelola infrastruktur pasif secara efisien, memangkas biaya hingga 60 persen, serta mempercepat pemerataan jaringan di seluruh Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seiring dengan semakin pentingnya peran infrastruktur telekomunikasi sebagai tulang punggung ekonomi digital dan layanan publik, infrastruktur digital saat ini tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung, melainkan telah menjadi infrastruktur vital nasional yang memiliki strategi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan akses jaringan serta penguatan kedaulatan digital Indonesia menuju visi Indonesia Digital 2045.

Asosisasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Nasional bertajuk “Sinergi Strategis untuk Kedaulatan Digital: Optimalisasi Barang Milik Daerah untuk Infrastruktur Telekomunikasi, Penetapan Tarif Batas Atas Infrastruktur Pasif, dan Deklarasi OVC".

Pembenahan infrastruktur

Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital, Ditjen Infrastruktur Digital, Mulyadi, ST., MT menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem digital yang kuat dan berkelanjutan.

“Transformasi digital membutuhkan kondisi infrastruktur yang kokoh serta kolaborasi yang erat antara pemerintah dan industri. Dengan sinergi yang tepat, kita dapat mempercepat pemerataan konektivitas, meningkatkan daya saing nasional dan memastikan bahwa manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara luas oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.

Hingga 2029 jangkauan serat optik per kecamatan diharapkan mencapai 90 persen dari 2025 yang jangkauan fiberisasinya hanya 72,5 persen. Jangkauan serat optik bisa meningkatkan penetrasi layanan konektivitas fixed broadband yang baru mencapai 20,83 persen dan pada 2029 ditargetkan 50 persen.

Fiberisasi juga diharapkan dapat meningkatkan kecepatan konektivitas fixed broadband dalam tiga tahun ke depan menjadi 100 Mbps dari tahun 2025 dengan kecepatan 32,1 Mbps.

Fondasi transformasi digital

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), Jerry Mangasas Swandy (IDN Times/Misrohatun)

Ketua Umum Asosisasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), Jerry Mangasas Swandy, menegaskan bahwa infrastruktur telekomunikasi tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar fasilitas teknis, melainkan infrastruktur vital nasional yang menjadi fondasi utama transformasi digital Indonesia.

“Infrastruktur telekomunikasi merupakan tulang punggung ekonomi digital dan layanan publik modern. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah dan industri untuk memastikan pengelolaannya tidak hanya efisien, tetapi juga berorientasi pada kepentingan publik dan kedaulatan nasional,” ujar Jerry.

Dorong pembentukan OVC

Dalam diskusi, disoroti bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala struktural, seperti tingginya biaya regulasi, duplikasi pembangunan jaringan, serta kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Sebagai solusi strategis, APJATEL mendorong pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) sebagai entitas netral yang mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara bersama.

OVC diharapkan dapat menjadi game changer dalam ekosistem telekomunikasi nasional dengan mendorong efisiensi biaya hingga 40–60 persen, mengurangi duplikasi pembangunan, serta meningkatkan pemerataan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia.

Konsep ini mengusung prinsip open access yang memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara efisien oleh berbagai operator, sekaligus menekan biaya investasi dan mempercepat perluasan jaringan secara nasional.

FGD Strategis Nasional APJATEL 2026 juga menghasilkan sejumlah komitmen, di antaranya:

  • Mendorong harmonisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dalam pemanfaatan BMD untuk infrastruktur telekomunikasi.

  • Penetapan tarif batas atas berbasis biaya yang adil, transparan, dan non-diskriminatif.

  • Penguatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator pembangunan infrastruktur digital.

  • Dukungan terhadap pembangunan infrastruktur bersama guna meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.

Editorial Team