Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tampilan Prism dari OpenAI
tampilan Prism dari OpenAI (openai.com)

Intinya sih...

  • Prism adalah workspace kolaboratif berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk peneliti, mahasiswa, dan akademisi.

  • Ditenagai oleh model GPT-5.2 dan integrasi LaTeX, Prism dapat membantu dalam penulisan ilmiah yang ketat dan membutuhkan akurasi tinggi.

  • Prism dilengkapi fitur manajemen referensi, kolaborasi multi-user, pengeditan berbasis suara, dan bisa diakses secara gratis.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ilmuwan, akademisi atau mahasiswa sering terjebak dalam proses kerja yang terpecah-pecah dan melelahkan saat menyusun laporan penelitian. Biasanya, mereka perlu berpindah-pindah ke beberapa alat dengan berbagai fungsi selama proses tersebut. Mengamati fenomena ini, OpenAI merilis Prism untuk mempermudah alur kerja para peneliti.

Prism adalah workspace kolaboratif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang fungsinya lebih dari sekadar chatbot biasa. Alat ini menggabungkan fitur penulisan, pengeditan dokumen, dan kecerdasan model GPT-5.2 dalam satu layar. Penasaran apa saja fitur menarik Prism dari OpenAI ini? Berikut penjelasannya!

1. Apa Itu Prism? Lebih dari sekadar ChatGPT

tampilan Prism dari OpenAI (openai.com)

Prism adalah sebuah "lingkungan kerja" atau workspace terpadu berbasis AI yang ditujukan untuk para peneliti atau akademisi. Biasanya, seorang peneliti harus membuka banyak aplikasi sekaligus seperti pembaca PDF, editor teks, dan manajer referensi secara terpisah di perangkat mereka. Prism hadir untuk menyatukan semua alat-alat kerja tersebut ke dalam satu platform yang mulus dan terintegrasi.

Secara teknis, Prism dibangun di atas fondasi Crixet, sebuah platform LaTeX yang telah diakuisisi oleh OpenAI beberapa waktu lalu. Jadinya, Prism memiliki basis pengeditan dokumen ilmiah yang matang sejak awal peluncurannya.

Dengan integrasi AI, Prism memiliki sifat Context-Aware. Artinya, AI di dalam Prism bisa membaca seluruh draf makalah pengguna secara utuh. Kemampuan ini membuat saran yang diberikan oleh AI menjadi jauh lebih relevan dan spesifik terhadap proyek penelitian yang sedang dikerjakan.

Alat ini bisa digunakan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, dosen, hingga peneliti profesional. OpenAI menyatakan, tujuannya adalah mempermudah siapa saja untuk berpartisipasi dalam proses ilmiah tanpa hambatan teknis yang berarti.

2. Ditenagai GPT-5.2 dan integrasi LaTeX

kemampuan Prism (openai.com)

Menurut TechCrunch, Otak cerdas yang bekerja di balik layar Prism adalah model GPT-5.2 yang memiliki kemampuan penalaran matematika dan sains tingkat lanjut. Model ini diklaim lebih andal dalam menangani logika kompleks dibandingkan model-model pendahulunya. Jadinya, AI dapat membantu pengguna memvalidasi argumen atau hipotesis dalam penulisan ilmiah yang ketat dan membutuhkan akurasi tinggi.

Bagi penulis karya ilmiah atau jurnal internasional, fitur LaTeX-native di dalam Prism merupakan keunggulan utama yang akan sangat membantu. Pengguna bisa mendapatkan hasil format LaTeX yang rapi dan profesional tanpa perlu terlalu memusingkan sintaks yang rumit.

Selain itu, terdapat fitur visual canggih di mana Prism bisa mengubah coretan papan tulis atau gambar diagram langsung menjadi kode LaTeX atau TikZ. Misalnya, pengguna cukup menggambar skema jaringan saraf atau diagram alur di kertas, memfotonya, dan AI akan mengubahnya menjadi grafik digital di makalah.

Prism juga dibekali kemampuan penalaran matematika untuk menangani, memfaktorkan ulang, dan memeriksa persamaan. Ibaratnya, GPT-5.2 akan bertindak seperti asisten riset yang siap mengecek hitunganmu kapan saja.

3. Dilengkapi fitur manajemen referensi dan kolaborasi

fitur kolaborasi di Prism (openai.com)

Dilansir ZDNet, Prism memiliki kemampuan untuk mencari dan memasukkan literatur relevan, seperti dari sumber arXiv, langsung ke dalam naskah yang sedang ditulis. Pengguna tidak perlu lagi membuka banyak tab di peramban hanya untuk mencari jurnal, lalu mengimpornya secara manual.

Fitur yang tak kalah memanjakan penulis adalah sinkronisasi otomatis dengan Zotero, aplikasi yang menjadi andalan dalam mengelola daftar pustaka. Integrasi ini memastikan format kutipan dan daftar pustaka di akhir dokumen selalu sinkron dan sesuai standar.

Dalam hal kerja tim, Prism menyediakan fitur kolaborasi multi-user yang memungkinkan beberapa pengguna mengedit dokumen yang sama secara bersamaan. Komentar, revisi, dan saran perubahan dari rekan tim bisa dilihat secara real-time tanpa perlu saling mengirim file. Fitur ini juga bisa mengatasi masalah klasik konflik versi file yang kerap melahirkan dokumen bernama unik seperti "Skripsi_Final_Banget_V3.docx".

Menariknya lagi, Prism menyediakan opsi pengeditan berbasis suara untuk melakukan revisi cepat tanpa harus mengetik. Terkadang ide brilian muncul saat tangan mulai pegal mengetik, dan fitur ini menjadi solusi praktis untuk menuangkan gagasan tersebut.

4. Prism bisa diakses secara gratis

Prism untuk proofread naskah (openai.com)

Saat ini, Prism dapat digunakan secara gratis bagi siapa saja yang memiliki akun ChatGPT pribadi. Meskipun gratis, pengguna dapat menambahkan proyek dan kolaborator tanpa batas. Selain itu, OpenAI juga tidak membatasi waktu kompilasi dokumen yang kadang menjadi fitur premium di platform LaTeX komersial.

Karena berbasis cloud, kamu tidak perlu mengunduh perangkat lunak yang berat di laptop. Misalnya, mahasiswa bisa mengerjakan skripsi mereka dari laptop dengan spesifikasi rendah sekalipun asalkan memiliki koneksi internet yang stabil. Semua data juga tersimpan di cloud, jadi bisa meminimalisir risiko file hilang.

Rencananya, OpenAI akan menambahkan fitur AI yang lebih canggih untuk paket berbayar di masa depan. Saat ini, Prism juga belum tersedia bagi pelanggan Enterprise atau Education.

5. Bukan untuk menggantikan peran peneliti

Prism dapat menambahkan diagram (openai.com)

OpenAI menyebut Prism sebagai power tool atau alat bantu, bukan sebagai pengganti peran ilmuwan atau penulis manusia. Kreativitas, penyusunan hipotesis awal, dan pengambilan keputusan final masih harus berada di tangan manusia. Pengguna sebaiknya tidak terlena dan menyerahkan seluruh proses berpikir kritis mereka kepada AI.

Isu penting yang perlu diperhatikan adalah privasi, di mana Prism saat ini belum menerapkan Zero Data Retention (ZDR) secara default untuk pengguna gratis. Artinya, data interaksi dan tulisan pengguna mungkin disimpan sebentar untuk keperluan peningkatan produk AI mereka. Pengguna harus sangat sadar akan risiko ini sebelum memasukkan data yang sensitif.

Selain itu, kamu juga perlu mengingat risiko halusinasi AI atau kemungkinan munculnya sitasi fiktif. Jadi, jangan lupa untuk selalu verifikasi naskah sebelum dipublikasikan. OpenAI sendiri berharap kehadiran alat semacam ini akan mempercepat laju dunia riset, bukan malah membanjirinya dengan publikasi sampah atau AI slop.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team