ilustrasi aktivitas peretasan sistem digital (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dalam laporan Simply Data adalah banyaknya indikator berbahaya yang muncul di dark web. Sepanjang 2025, tim intelijen ancaman mendeteksi 33,2 juta indikator terkait entitas Malaysia, mulai dari kredensial bisnis yang dicuri, akses VPN yang dijual, hingga dokumen sensitif yang tersebar di forum kriminal online. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan eksternal secara rutin, karena perusahaan sering kali baru sadar data mereka tersebar setelah serangan terjadi.
“Organisasi yang tidak memantau aktivitas dark web untuk nama domain dan alamat IP mereka ibarat terbang tanpa panduan,” tegas Kepala Intelijen Ancaman Simply Data. Meski laporan ini fokus pada Malaysia, risiko serupa bisa terjadi di negara lain, termasuk Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat dan jutaan pengguna yang mengandalkan layanan cloud, perusahaan maupun instansi pemerintah di Indonesia berpotensi menjadi target jika langkah pencegahan tidak ditingkatkan. Pakar keamanan siber menekankan pentingnya mengadopsi strategi keamanan zero-trust, meningkatkan autentikasi, dan bekerja sama dengan penyedia layanan untuk memantau kemungkinan kebocoran kredensial di luar jaringan internal. Langkah-langkah ini penting untuk memperkuat pertahanan digital sebelum organisasi menjadi target berikutnya.
Kasus serangan terhadap Microsoft 365 di Malaysia menjadi peringatan bagi Indonesia. Perusahaan dan instansi pemerintah perlu segera meningkatkan keamanan digital untuk mencegah serangan serupa.