Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Keunikan Arsitektur Pasar Gede Solo yang Sering Terlewatkan, Sarat Nilai Sejarah
Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Pasar Gede Hardjonagoro selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan dengan berbagai keperluan. Saat pagi hingga siang hari layaknya pasar tradisional pada umumnya yang menyediakan aneka sayur, buah-buahan, dan bahan pokok lainnya. Sore hingga malam hari lebih ramai oleh penjaja kuliner yang diminati keluarga maupun kawula muda.

Di balik popularitasnya sebagai salah satu pusat kuliner favorit di Solo, pasar tersebut punya sejarah panjang. Bangunan utama Pasar Gede telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek asal Belanda yang dikenal karena filosofi desainnya sangat menghargai konteks lingkungan tropis.

Jika diperhatikan lagi, kamu akan menjumpai arsitekturnya yang unik dan fungsional, bukan sekadar estetika karena Thomas Karsten tidak ingin membangun bangunan Eropa di tanah Jawa, sehingga selalu ada perpaduan kedua unsur di setiap rancangannya. Agar gak makin penasaran, perhatikan keunikan arsitektur Pasar Gede Solo yang sering terlewatkan berikut ini.

1. Atap limasan ganda yang ikonik

Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Pasar Gede Solo yang resmi beroperasi pada 1930 itu punya bentuk bangunan serupa benteng, mengadopsi gaya Indis (Indische Empire) tanpa mengabaikan fungsinya. Tampak pada atapnya yang ikonik berbentuk limasan ganda menyerupai joglo, khas rumah adat Jawa. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian dengan visi besar Karsten untuk membuat bangunan dengan sirkulasi udara yang baik dan cahaya tidak terbatas.

Gaya limasan dua tingkat bukan memberikan kesan bangunan yang besar, megah, tapi membumi. Selain dari sisi estetika, juga menyesuaikan kebutuhan sesuai iklim tropis. Jika kamu perhatikan, bagian langit-langit pasar dibuat sangat tinggi dengan bukaan lebar, sehingga memungkinkan udara panas naik dan keluar, sementara udara segar terus mengalir masuk.

Meski suhu di Solo cenderung panas dan gerah saat siang hari, namun suasana di Pasar Gede terasa sejuk dan tidak terlalu lembap, bahkan saat kamu menyusurinya pada siang hari. Hak tersebut menunjukkan bahwa desain arsitektur yang matang dapat memenuhi kebutuhan fungsi dan estetika sekaligus, termasuk ventilasi silang yang canggih pada zamannya.

2. Pencahayaan alami dari bukaan atas dan jendela

interior atap Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Sebelum masuk ke dalam pasar, kamu akan menjumpai pintu masuk utama yang lebar. Bagian atas terdapat beberapa jendela hampir seukuran pintu yang sering dijumpai pada bangunan peninggalan kolonial. Kemudian, menuju lantai dua dan lihat ke atas di area tengah pasar yang menunjukkan interior atapnya.

Di balik atap limasan yang bertingkat, terdapat celah di antara kerangka besi dan deretan panel transparan sebagai sumber pencahayaan alami. Cahaya yang masuk akan tersebar halus tanpa membuat suhu di dalam pasar terasa panas dan air hujan tidak masuk. Masih ada pula blok ventilasi kotak-kotak yang disebut roster untuk memberikan kesan modern pada masanya dan sirkulasi udara 24 jam.

3. Jendela krepyak yang multifungsi

interior Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Masih di lantai dua, kamu dapat melihat area yang digunakan sebagai kafe dengan deretan jendela krepyak (louvered wood). Jendela tersebut punya fungsi ganda yakni sebagai sistem ventilasi silang (cross-ventilation) dan pencahayaan alami tambahan. Udara segar akan masuk dan membuang udara panas ke lua.

Selain itu dengan adanya jendela krepyak, tidak perlu menyalakan lampu saat siang hari. Kamu dapat memperhatikan bahwa area di dalam pasar cukup terang saat siang hari, meski mendung. Bagi pencinta fotografi pun tidak perlu kesulitan mengatur pencahayaan. Suasana pasar yang hidup , kesan tradisional, dan pengunjung yang betah berlama-lama di sini.

4. Akses dan lorong terbuka yang estetik

selasar Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Sentuhan Art Deco ala bangunan Eropa yang kuat dari masa kolonial dapat dilihat pada detail archway, gerbang lengkung yang menghubungkan dengan selasar lantai dua. Spot ini sering menjadi pilihan untuk pengunjung yang ingin menyantap makanan sambil menikmati keramaian kota dari sudut berbeda.

Bentuk lengkung tersebut memberi kesan luas dan membingkai pandangan ke arah jalan raya di luar. Pengunjung lain tetap bisa berjalan bergantian di lorong tanpa mengganggu yang sedang kulineran. Hal ini memberikan transisi yang halus antara padatnya bagian dalam pasar dengan area terbuka.

5. Kombinasi unik struktur besi dan lantai tegel merah

tangga menuju lantai dua Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Apakah kamu pernah memperhatikan lantai terakota yang berpadu dengan struktur besi sebagai pegangannya? Perpaduan material tersebut menunjukkan unsur modern pada masanya, tetapi tetap mempertahankan ubin tegel merah yang memberi kesan vintage.

Material besi pada rangka bangunan dan railing tangga menunjukkan teknologi industri pada abad ke-20. Sementara itu, tegel merah memberikan sentuhan hangat yang identik dengan nuansa rumah tradisional di Jawa. Kombinasi material yang kontras itu menciptakan harmoni arsitektur yang tetap relevan dan estetik hingga kini.

Sekarang rasa penasaranmu sudah terjawab, bukan? Keunikan arsitektur Pasar Gede Solo bukan sekadar estetika, tapi juga tetap mempertahankan fungsinya. Pantas saja kalau pengunjung betah berlama-lama di sini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team