Perkebunan anggur yang dikelola Familia Torres di kawasan Penedes, Catalonia, Spanyol. (dok.Familia Torres)
Kami tiba di Bandara Josep Tarredellas Barcelona el Prat, Senin 27 April 2026, sekitar pukul 06.55 pagi waktu setempat (di Jakarta 5 jam lebih cepat) setelah menempuh perjalanan 13 jam 20 menit melalui penerbangan langsung Singapura-Barcelona. Rampung mengurus bagasi, dari bandara minibus membawa rombongan menuju perkebunan anggur dan pembuatan wine terkenal di Spanyol, Familia Torres. Lokasi perkebunan dan pembuatan anggur ini berada di wilayah Vilafranca del Penedes, Barcelona, sekitar 45 menit dari bandara.
Turun dari minibus, pemandangan indah perkebunan anggur Familia Torres (Keluarga Torres) dan angin musim semi langsung menyapa. Sejuk dengan dingin yang sedikit menggigit.
Familia Torres, pelopor anggur non alkohol pertama di Spanyol. (dok.Familia Torres)
Selama lebih dari satu abad, keluarga Torres berhasil menjaga tradisi pembuatan anggur yang jejaknya telah dimulai sejak abad ke-16. Kini, warisan tersebut dikelola oleh generasi kelima di bawah kepemimpinan Miguel Torres Maczassek. Nama keluarga ini juga menjadi bagian dari Primum Familiae Vini, asosiasi eksklusif yang beranggotakan 12 keluarga pembuat anggur tertua dan paling bergengsi di dunia.
Jejak keluarga Torres sebagai petani anggur bermula sejak tahun 1559, namun tonggak penting baru dimulai pada 1870, ketika dua bersaudara, Jaime dan Miguel Torres Vendrell, mendirikan kilang anggur di Vilafranca del Penedes. Dari sana, bisnis keluarga berkembang melampaui Penedes menuju berbagai wilayah penghasil wine ternama di Spanyol, seperti Rioja, Ribera del Duero, Rueda, dan Rías Baixas, bahkan hingga Chili dan California. Kuba tercatat menjadi negara pertama tujuan ekspor wine mereka, sebelum akhirnya anggur Torres menjelajah berbagai belahan dunia.
Namun keluarga Torres tidak hanya dikenal karena menghasilkan wine berkualitas. Inovasi juga menjadi bagian dari identitas mereka. Salah satu upaya terbesarnya adalah menemukan kembali varietas anggur kuno yang berhasil bertahan dari wabah phylloxera pada akhir abad ke-19, penyakit yang sempat menghancurkan kebun anggur di Eropa. Melalui penelitian panjang dan metodologi yang ketat, generasi kelima keluarga Torres kini telah mengembangkan lebih dari 60 varietas anggur, menghasilkan karakter rasa yang unik sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup.
Tempat penyimpanan anggur Familia Torres. (dok.Familia Torres)
Seiring meningkatnya tantangan perubahan iklim, keluarga Torres juga memperkuat komitmennya terhadap lingkungan. Pada 2008, mereka meluncurkan program Torres & Earth, sebuah inisiatif untuk mengurangi jejak karbon sekaligus beradaptasi dengan realitas iklim baru. Upaya tersebut berhasil menurunkan emisi karbon per botol hingga 37 persen di seluruh rantai produksi antara tahun 2008–2023. Target berikutnya bahkan lebih ambisius: menurunkan emisi hingga 60 persen pada 2030 dan mencapai status Net Zero pada 2040.
Bukan hanya itu. Pada tahun 2021, keluarga Torres mulai menerapkan praktik budidaya anggur regeneratif di sejumlah kebun ikonik mereka seperti Mas La Plana, Mas de la Rosa, dan Milmanda. Hingga kini, lebih dari 600 hektar lahan telah menerapkan metode tersebut. Fokusnya bukan sekadar menanam anggur, melainkan menghidupkan kembali ekosistem tanah dengan meniru cara kerja alam. Semakin sehat tanah, semakin besar kemampuannya menyerap karbon dari atmosfer dan membantu menekan peningkatan suhu bumi.
Natureo, wine non alkohol pertama di Spanyol. (IDN Times/Umi Kalsum)
Tidak hanya beradaptasi dengan perubahan iklim, keluarga Torres juga melihat perubahan lain yang mulai membentuk industri wine: pergeseran perilaku konsumen. Generasi muda kini semakin memperhatikan gaya hidup sehat dan konsep mindful drinking atau “minum dengan bijak”. Mereka cenderung lebih sadar terhadap konsumsi alkohol, mencari pilihan yang lebih ringan, atau bahkan memilih minuman tanpa alkohol sama sekali.
Melihat perubahan tersebut, keluarga Torres mulai memikirkan bagaimana menghadirkan pengalaman menikmati wine tanpa harus mengorbankan gaya hidup yang lebih sehat. Dari sinilah lahir Natureo, merek wine non-alkohol pertama di Spanyol, yang kini hadir dalam berbagai varian seperti Muscat, Chardonnay, Rosé, Red, Sparkling, dan Sparkling Rosé. Produk ini berkembang pesat dan menjadi salah satu lini bisnis yang paling menjanjikan bagi perusahaan.
Menariknya, lahirnya Natureo berawal dari kisah personal di dalam keluarga. Saat mengandung anak pertamanya, Mireia Torres Maczassek mulai bertanya-tanya, apakah perempuan hamil tetap bisa menikmati segelas wine tanpa kandungan alkohol. Ia kemudian meyakinkan ayahnya, Miguel Agustín Torres Riera, untuk mengeksplorasi ide tersebut. Melihat kegigihan putrinya, sang ayah justru memberikan tantangan: ciptakan wine non-alkohol yang tetap mempertahankan karakter rasa seperti wine asli. Setelah melalui proses pengembangan selama tiga tahun sejak 2004, Natureo resmi diluncurkan pada 2008.
Sajian produk lokal dan wine di El Celleret (dok.Familia Torres)
Keterbukaan keluarga Torres terhadap inovasi juga tercermin melalui pengalaman yang mereka tawarkan kepada publik. Sejak 1992, mereka membuka kesempatan bagi wisatawan untuk menjelajahi dunia wine dan gastronomi secara langsung di perkebunan Penedès. Dengan biaya mulai dari 39 euro untuk peserta dewasa, pengunjung dapat menikmati pengalaman yang membawa mereka lebih dekat dengan sejarah dan proses di balik setiap botol wine.
Di perkebunan seluas 29 hektar tersebut—yang sejak tahun 1964 ditanami Cabernet Sauvignon untuk menghasilkan Mas La Plana, salah satu wine merah ikonik Torres—pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan wine, mengunjungi museum keluarga, hingga mencicipi berbagai jenis wine dengan pendampingan para ahli.
Pengalaman ini terasa semakin lengkap dengan kehadiran El Celleret, restoran yang menyajikan hidangan khas Mediterania menggunakan bahan-bahan lokal pilihan. Dari sini, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Montserrat yang menjulang di kejauhan. Sementara itu, perjalanan kereta bertenaga surya membawa wisatawan melintasi kebun anggur regeneratif menuju Waltraud Winery, bangunan yang dirancang arsitek Javier Barba.
Waltraud Winery, bangunan yang dirancang arsitek Javier Barba. (dok.Familia Torres)
Waltraud Winery menghadirkan perpaduan menarik antara sejarah, arsitektur, dan keberlanjutan. Bangunan tiga lantai tersebut memanfaatkan pasir pantai di atas ruang penyimpanan barel untuk menciptakan efek albedo—kemampuan permukaan memantulkan kembali sinar matahari—serta menggunakan guci damajuana sebagai elemen dekoratif yang memperkuat identitasnya. Di tempat inilah berbagai wine dari perkebunan bersejarah Penedès dan Conca de Barberà dihasilkan.
Tidak jauh dari sana, pengunjung juga dapat melihat jejak inisiatif Torres & Earth yang menjadi bagian penting perjalanan keberlanjutan keluarga ini. Tentu saja, pengalaman seperti ini sulit diselesaikan hanya dalam waktu satu jam. Sedikitnya kami menghabiskan hampir tiga jam untuk menikmati seluruh rangkaian tur. Namun percayalah, waktu yang dihabiskan terasa sepadan dengan pengetahuan baru, pengalaman, dan kenikmatan yang didapat.
Sagrada Familia yang sampai hari ini proses pembangunannya masih berlangsung. (dok.Fundació Junta Constructora del Temple Expiatori de la Sagrada Família)
Tujuan kedua di hari pertama adalah Sagrada Familia, bangunan ikonik di tengah kota Barcelona yang dibangun 144 tahun lalu (1882) oleh Fransisco de Paula del Villar dengan mengikuti pedoman yang berlaku pada masa itu, elemen neo-Gotik, di mana jendelanya berbentul ogival, penopang, penopang terbang, dan menara lonceng runcing. Pada 1883, Antoni Gaudi mengambil alih pembangunan basilika ini. Saat itu ia baru berusia 31 tahun. Gaudi lalu mengubah desainnya menjadi perpaduan unik antara gaya Gothic dan Art Nouveau. Bangunan ini menjadi mahakarya Gaudi dan sampai sekarang masih dalam proses pembangunan.
Berbeda dengan arsitektur Gothic yang cenderung gelap dan berat, Gaudi menghadirkan nuansa hidup dan organik pada desain Sagrada Familia. Karya Gaudi dipenuhi garis melengkung alami serta bentuk yang terinspirasi dari alam, seperti tumbuhan dan bunga. Hal ini terlihat jelas pada detail fasadnya, termasuk ornamen buah-buahan berwarna-warni yang melambangkan musim, hasil bumi Catalonia, serta simbol spiritual.
Sagrada Familia, basilika yang menjadi ikon paling hit di Barcelona, Spanyol. (dok.Fundació Junta Constructora del Temple Expiatori de la Sagrada Família)
Gaudi meninggal pada 1926 secara tragis. Pada tahun 1969, tujuh belas karyanya dinyatakan sebagai Monumen Artistik Sejarah yang Bernilai Budaya oleh Kementerian Kebudayaan Spanyol. Pada tahun 2005, bersamaan dengan Casa Vicens dan Casa Batlló, di Barcelona, dan ruang bawah tanah di Colònia Güell, di Santa Coloma de Cervelló, fasad Kelahiran dan ruang bawah tanah Kuil Penebusan Sagrada Família dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia. Semua elemen ini dikelompokkan bersama dalam daftar UNESCO yang disebut "Karya Antoni Gaudí".
Bagi turis, belum sah ke Barcelona kalau belum berkunjung ke Sagrada Familia. Setiap harinya bangunan gereja ini dikunjungi antara 13.500 hingga 16.000 orang. Tahun 2025 jumlah turis yang berkunjung tercatat lebih dari 4,8 juta. Pengunjung terbanyak berasal dari Amerika Serikat, disusul Tiongkok, Italia, Prancis, Korea Selatan, Inggris dan Jerman. Untuk masuk ke basilika, pengunjung bisa membayar 26 Euro sampai 30 Euro. Pendapatan dari tiket masuk ini digunakan untuk kelanjutan pembangunan yang sampai hari ini masih berlangsung.
Fasad Ohla Barcelona dengan seribu matanya yang jadi ikon hotel ini. (dok.Ohla Barcelona)
Hari pertama ditutup dengan mengunjungi Ohla Barcelona, hotel ikonik di jantung kota yang memiliki roof-top dengan pemandangan indah kota Barcelona. Hotel ini juga disebut 'hotel mata' karena memiliki fasad yang unik, dengan ornamen 1.000 bola mata keramik.
Roof top Ohla Barcelona yang mampu merekam pemandangan kota dengan baik. (dok.Ohla Bercelona)
Penciptaan karya ini berawal ketika arsitek hotel, Daniel Isern, mendekati pematung terkenal Frederic Amat dengan visi yang unik: membuat bangunan tersebut menonjol di tengah kemegahan arsitektur Via Laietana. Jalan ini memang dikenal dengan bangunan-bangunannya yang elegan dan kaya karakter. Lalu Amat merespons dengan menciptakan 'dialog visual' antara tamu dengan kehidupan kota Barcelona yang ramai. Para tamu seolah memandang keluar dari jendela mereka, sementara orang-orang yang terpikat fasad hotel akan membayangkan kisah-kisah di dalamnya.
Ohla Barcelona juga mengadopsi patung karya Samuel Salcedo yang ditempel di dinding dalam hotel untuk menciptakan narasi bisu, mengundang para tamu untuk menafsirkan emosi dan cerita di dalamnya. Hotel ini dilengkapi dengan roof-top yang mampu merekam pemandangan kota dari atas. Dari atap ini, pengunjung bisa melihat kemegahan Katedral Barcelona.
Ohla Eixample dengan fasad vertikal dan horizontalnya. (dok.Ohla Eixample)
Desain Ohla Barcelona berbeda dengan Ohla Eixample yang menjadi lokasi menginap kami. Fasad Ohla Eixample lebih banya menonjolkan elemen keramik vertikal dan horizontal untuk menghasilkan efek unik. Berkat kolaborasi antara arsitek proyek Daniel Isern, seniman keramik Toni Cumella, dan Institut Arsitektur Lanjutan Catalonia, sebuah algoritma dikembangkan untuk mengontrol lengan robot yang mengukir setiap bagian keramik. Algoritma ini didasarkan pada reinterpretasi Max Richter terhadap Empat Musim karya Vivaldi. Setiap bagian mewakili delapan detik musik.
Kroket udang La Plasshola. (IDN Times/Umi Kalsum)
Di hotel ini, kami mendapat kesempatan wisata gastronomi dengan mencicipi makan malam di restoran La Plasshola yang bisa menampung 60 pengunjung. Hidangan yang disajikan dalam bentuk tapas dan hidangan kecil untuk berbagi, antara lain kroket udang, paprika padron, steak tartar klasik, tataki tuna sirip biru, apel titan dengan es krim vanila, dan truffle coklat hitam. Masakan diracik dengan kreativitas tinggi dengan mengeksplorasi beragam estetika gastronomi.
Terletak di lantai dasar Ohla Barcelona, restoran ini memiliki ruang terbuka dan santai dengan jendela besar yang menghadap Carrer Comtal dan Via Laietana, memungkinkan para tamu untuk menikmati ritme dan energi kota yang terbentang di luar.