Potret Petra (unsplash.com/Alex Vasey)
Kepala Komisioner Petra Development and Tourism Region Authority, Adnan Al Sawair, mengatakan tingkat pembatalan kunjungan wisata ke Petra pada Maret mencapai 100 persen. Menurut dia, kondisi keamanan di kawasan membuat banyak wisatawan internasional memilih menunda perjalanan ke Timur Tengah.
Dilansir Ammon News, sekitar 60 persen pemesanan wisata untuk April juga telah dibatalkan, sedangkan 45 persen reservasi untuk Mei mengalami nasib serupa. Angka tersebut diperkirakan masih bisa bertambah apabila situasi kawasan belum stabil.
Petra sendiri merupakan kota kuno yang dipahat langsung di tebing batu pasir berwarna merah muda oleh peradaban Nabatea sekitar abad ke-4 Sebelum Masehi. Situs bersejarah ini terkenal dengan bangunan ikonik Al-Khazneh atau The Treasury yang berdiri megah di balik lorong batu sempit bernama Siq. Keunikan arsitektur serta nilai sejarahnya membuat Petra masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO dan dikenal juga sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru.
Keindahan dan nilai sejarah tersebut menjadikan Petra sebagai destinasi wisata paling populer di Yordania. Setiap tahunnya, jutaan wisatawan dari berbagai negara datang untuk menjelajahi kompleks kota kuno, menikmati panorama gurun, hingga mempelajari sejarah peradaban kuno yang pernah berkembang di kawasan tersebut. Tak heran jika sektor pariwisata menjadi sumber ekonomi utama bagi banyak warga di sekitar Petra.
Meskipun kunjungan wisatawan menurun drastis, otoritas setempat mulai mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi dampak ekonomi terhadap masyarakat. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali program promosi wisata domestik Urdunna Jannah guna mendorong wisatawan lokal berkunjung ke Petra.
Selain itu, pemerintah setempat juga memanfaatkan periode sepinya wisatawan untuk melakukan pembersihan kawasan dan perbaikan infrastruktur. Tujuannya agar destinasi bersejarah tersebut tetap siap menyambut wisatawan ketika kondisi kembali normal.