Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kapan Sebaiknya Traveling ke Luar Negeri saat Harga Dolar Naik?
ilustrasi traveling (unsplash.com/Job Savelsberg)
  • Traveler kini memilih bepergian saat low season agar biaya tiket dan hotel lebih terjangkau, sehingga pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak besar pada total pengeluaran liburan.
  • Kota alternatif di Asia seperti Da Nang, Penang, dan Busan makin diminati karena menawarkan pengalaman unik dengan harga lebih ramah dibanding destinasi mainstream seperti Tokyo atau Seoul.
  • Tren liburan singkat dan fokus pada pengalaman lokal makin populer; banyak orang memilih perjalanan 3–4 hari atau menghadiri event tertentu untuk menjaga bujet tetap realistis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nilai tukar rupiah yang turun langsung bikin rencana traveling ke luar negeri terasa goyah. Harga tiket cepat berubah. Biaya hotel ikut bergerak naik. Bujet liburan yang awalnya terasa aman mendadak terasa tipis.

Meski begitu, bepergian ke luar negeri belum tentu harus dibatalkan total. Banyak traveler tetap berangkat dengan cara yang lebih fleksibel dan realistis. Destinasi dekat mulai lebih diminati. Pola liburan juga berubah karena orang mulai lebih fokus pada pengalaman dibandingkan dengan gengsi tujuan wisata.

1. Low season di negara tujuan bisa jadi waktu paling aman

ilustrasi traveling (unsplash.com/SERGEI BEZZUBOV)

Banyak wisatawan Indonesia masih terpaku pada libur panjang nasional untuk pergi ke luar negeri. Padahal, periode itu justru sering jadi momen paling mahal untuk membeli tiket dan hotel. Harga naik hampir bersamaan. Tempat wisata juga jauh lebih ramai karena turis dari berbagai negara datang pada waktu yang sama.

Traveler yang lebih hemat biasanya justru melihat musim wisata di negara tujuan lebih dulu. Jepang, misalnya, jauh lebih mahal ketika musim sakura atau Golden Week tiba. Korea Selatan juga mengalami lonjakan harga saat musim gugur mulai populer di media sosial.

Sebaliknya, kota seperti Bangkok di Thailand, Hanoi di Vietnam, atau Kuala Lumpur di Malaysia, masih punya banyak tarif hotel murah ketika memasuki periode sepi wisatawan. Kondisi seperti ini membuat pelemahan rupiah tidak terlalu terasa ekstrem karena biaya penginapan dan penerbangan sudah lebih rendah sejak awal.

2. Kota alternatif di Asia mulai lebih menarik dibanding destinasi mainstream

Da Nang, Vietnam (unsplash.com/Khoi Tran)

Banyak orang tetap berpikir traveling ke luar negeri harus identik dengan Tokyo, Seoul, atau Singapura. Padahal, kota sekunder di Asia mulai memiliki daya tarik yang tidak kalah menarik. Harga makanan lebih masuk akal. Transportasi juga cenderung lebih murah dibandingkan dengan kota besar yang sudah terlalu padat dengan turis internasional.

Da Nang, Vietnam, mulai sering dilirik karena suasananya lebih santai dibandingkan dengan Ho Chi Minh City. Penang, Malaysia, juga makin populer untuk wisata kuliner tanpa bujet berlebihan. Busan perlahan menjadi alternatif Seoul karena biaya hotel dan suasananya lebih tenang.

Pergeseran pilihan destinasi seperti ini membuat traveling tetap terasa realistis meski kurs dolar sedang tinggi. Pengalaman yang didapat juga terasa lebih berbeda dibanding liburan ke kota yang terlalu mainstream.

3. Tren liburan singkat mulai lebih masuk akal

Kuala Lumpur, Malaysia (unsplash.com/Job Savelsberg)

Liburan panjang ke luar negeri mulai terasa berat ketika nilai tukar rupiah melemah. Banyak orang akhirnya mengubah pola perjalanan menjadi lebih singkat. Durasi 3—4 hari sekarang terasa cukup untuk city trip sederhana tanpa harus menguras tabungan terlalu dalam.

Liburan short getaway seperti ini makin populer karena penerbangan ke negara dekat semakin banyak tersedia. Singapura masih jadi pilihan cepat untuk konser atau wisata kuliner singkat. Kuala Lumpur juga sering dipilih karena biaya transportasi dan makan masih relatif aman untuk wisatawan Indonesia.

Traveler sekarang tidak selalu mengejar itinerary penuh dari pagi sampai malam. Banyak yang justru lebih menikmati perjalanan santai tanpa tuntutan untuk mengunjungi terlalu banyak tempat sekaligus.

4. Event dan festival kini jadi alasan utama orang tetap berangkat

Songkran di Thailand (commons.wikimedia.org/Takeaway)

Traveling sekarang tidak selalu soal berburu tempat wisata terkenal. Banyak orang rela untuk tetap pergi ke luar negeri karena ada konser, festival budaya, atau event tertentu yang memang sulit ditemukan di Indonesia. Pengeluaran terasa lebih sepadan karena ada pengalaman spesifik yang ingin dicari.

Bangkok dan Singapura masih menjadi pusat konser internasional di Asia Tenggara. Jepang juga ramai dikunjungi saat festival musim panas mulai berlangsung. Sebagian traveler akhirnya memilih memangkas budget hotel atau belanja agar tetap bisa datang ke acara yang diinginkan. Hal seperti ini membuat perjalanan terasa lebih fokus dan tidak terlalu dipenuhi pengeluaran impulsif. Liburan juga terasa punya tujuan yang lebih jelas dibanding sekadar mengikuti tren media sosial.

5. Gaya traveling mulai bergeser ke pengalaman lokal

Taiwan Night Market (unsplash.com/K X I T H V I S U A L S)

Kondisi rupiah melemah perlahan-lahan mengubah cara orang menikmati perjalanan. Banyak wisatawan mulai meninggalkan konsep liburan mewah yang terlalu berfokus pada hotel mahal dan tempat yang viral. Aktivitas sederhana justru makin diminati karena terasa lebih autentik dan tidak terlalu menguras budget.

Night market di Taiwan, kedai kopi kecil di Kyoto, sampai street food di Bangkok mulai dianggap lebih menarik dibandingkan dengan belanja barang branded. Hostel estetik dan penginapan minimalis juga makin populer di kalangan traveler muda. Pengeluaran bisa ditekan tanpa membuat pengalaman liburan terasa membosankan. Pergeseran gaya traveling seperti ini membuat perjalanan ke luar negeri tetap terasa menyenangkan meski kondisi kurs belum benar-benar stabil.

Rupiah yang melemah memang membuat rencana traveling perlu dipikirkan lebih matang. Pilihan waktu, kota tujuan, dan gaya liburan sekarang jauh lebih menentukan dibandingkan dengan sekadar besar-kecilnya bujet. Liburan luar negeri masih tetap mungkin dilakukan selama cara bepergiannya ikut menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team