Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

13 Maskapai yang Naikkan Tarif dan Kurangi Rute Imbas Perang Timteng

13 Maskapai yang Naikkan Tarif dan Kurangi Rute Imbas Perang Timteng
Potret pesawat terbang parkir di bandara. Gambar hanya sebagai ilustrasi berita (IDN Times/Dewi Suci)
Intinya Sih
  • Konflik geopolitik antara AS, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga avtur global, membuat industri penerbangan menghadapi tekanan biaya operasional yang signifikan.
  • Sebanyak 13 maskapai dunia menyesuaikan strategi dengan menaikkan tarif tiket, memangkas rute kurang menguntungkan, serta menerapkan efisiensi jadwal demi menjaga keberlanjutan bisnis.
  • Dampak bagi penumpang terlihat pada kenaikan harga tiket dan berkurangnya pilihan rute, mencerminkan ketergantungan besar sektor penerbangan terhadap stabilitas energi dan kondisi geopolitik dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang dipicu konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini semakin terasa dampaknya di industri penerbangan global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu jalur distribusi energi dunia membuat pasokan terganggu dan harga avtur meroket.

Kondisi ini memaksa maskapai di berbagai negara melakukan penyesuaian besar-besaran demi menjaga keberlangsungan operasional. Tak hanya berdampak pada biaya, situasi ini juga memengaruhi strategi bisnis maskapai secara keseluruhan. Di antaranya seperti pengurangan rute yang kurang menguntungkan, penggabungan jadwal penerbangan, hingga kenaikan tarif tiket menjadi langkah yang banyak diambil.

Bagi maskapai penerbangan, ini adalah cara menyeimbangkan antara biaya operasional yang meningkat dengan permintaan penumpang yang tetap harus dilayani. Melansir berbagai sumber, berikut daftar maskapai yang telah melakukan penyesuaian beserta langkah strategisnya.

Table of Content

1. Scandinavian Airlines

1. Scandinavian Airlines

Maskapai asal kawasan Nordik ini mengambil langkah drastis dengan membatalkan sekitar 1.000 penerbangan, terutama untuk rute jarak pendek. Rute domestik dan regional menjadi yang paling terdampak, karena dinilai memiliki margin keuntungan yang lebih tipis. Selain itu, Scandinavian Airlines juga menaikkan tarif tiket sebagai upaya menutup lonjakan biaya bahan bakar yang terus meningkat.

2. United Airlines

United Airlines menerapkan strategi efisiensi dengan memangkas penerbangan pada jam-jam sepi, seperti larut malam dan dini hari. Kebijakan ini diambil setelah maskapai memperkirakan lonjakan biaya bahan bakar bisa mencapai miliaran dolar per tahun. Dengan mengurangi frekuensi penerbangan yang kurang produktif, United berupaya menjaga kestabilan keuangan tanpa mengganggu rute utama.

3. Vietnam Airlines

Ilustrasi maskapai Vietnam Airlines. (pexels.com/Jeffry S.S.)
Ilustrasi maskapai Vietnam Airlines. (pexels.com/Jeffry S.S.)

Vietnam Airlines melakukan kombinasi langkah efisiensi dengan menghentikan tujuh rute domestik sekaligus memangkas hingga 23 penerbangan per pekan. Kebijakan ini difokuskan pada rute dengan tingkat okupansi rendah. Maskapai juga membuka kemungkinan pemangkasan tambahan, jika harga avtur terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

4. Air New Zealand

Air New Zealand mengurangi kapasitas penerbangan sekitar 5 persen atau lebih dari 1.100 jadwal. Maskapai ini juga menurunkan frekuensi penerbangan ke kota-kota utama seperti Auckland, Wellington, dan Christchurch. Penggabungan jadwal di luar jam sibuk dilakukan untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan konektivitas utama.

5. AirAsia X dan AirAsia

AirAsia X mengumumkan rencana kenaikan harga tiket, sekaligus evaluasi rute-rute yang tidak lagi menguntungkan. Di sisi lain, AirAsia sebagai grup juga melakukan penyesuaian jadwal pada sejumlah rute domestik dan internasional. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan kapasitas dengan kondisi pasar sekaligus menekan biaya operasional.

6. Japan Airlines dan All Nippon Airways

Potret dari jendela pesawat
Potret dari jendela pesawat (unsplash.com/Anne Nygård)

Dua maskapai besar Jepang ini memilih menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) hingga dua kali lipat. Penyesuaian ini akan diberlakukan mulai Juni 2026 dan ditinjau setiap dua bulan. Kebijakan ini memungkinkan maskapai lebih fleksibel dalam merespons fluktuasi harga energi global.

7. Batik Air Malaysia

Batik Air Malaysia memangkas sekitar 35 persen penerbangan berjadwal, terutama pada rute dengan permintaan rendah. Selain itu, maskapai juga menawarkan program cuti tanpa gaji bagi karyawan sebagai langkah penghematan. Kebijakan ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi maskapai berbiaya rendah di tengah kenaikan harga avtur.

8. Air India

Air India mengurangi frekuensi penerbangan domestik, sekaligus menerapkan skema tarif baru berbasis jarak tempuh. Artinya, semakin jauh rute penerbangan, semakin tinggi pula kenaikan harga tiket yang dikenakan kepada penumpang. Strategi ini dianggap lebih adaptif dalam menghadapi biaya bahan bakar yang fluktuatif.

9. China Eastern Airlines

Potret pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di bandara
Potret pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di bandara (unsplash.com/ CHUTTERSNAP)

China Eastern Airlines menaikkan biaya tambahan bahan bakar dan menerapkan sistem manajemen darurat. Langkah ini mencakup pengendalian biaya operasional secara ketat, serta penyesuaian jadwal penerbangan untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian global.

10. Korean Air

Korean Air juga menerapkan kebijakan serupa dengan menaikkan fuel surcharge dan menjalankan manajemen darurat. Fokus utama maskapai adalah menjaga efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas layanan kepada penumpang.

11. Air France-KLM

Grup maskapai Eropa ini berencana menaikkan harga tiket, khususnya untuk penerbangan jarak jauh. Rute interkontinental menjadi yang paling terdampak, karena konsumsi bahan bakarnya jauh lebih besar dibandingkan rute pendek.

12. Cathay Pacific

Potret maskapai Cathay Pacific
Potret maskapai Cathay Pacific (unsplash.com/Richard Liu)

Cathay Pacific juga tercatat menaikkan biaya tambahan bahan bakar mereka hingga 34 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu yang paling signifikan di Asia dan berdampak langsung pada harga tiket penerbangan internasional.

13. Qantas

Qantas menaikkan tarif penerbangan internasional sekitar 5 persen. Maskapai ini memilih pendekatan bertahap, agar tetap kompetitif di pasar global, sekaligus menyesuaikan dengan lonjakan biaya operasional.

Itu dia beberapa maskapai dunia yang mulai menaikkan tarif mereka imbas konflik Iran dengan dengan Amerika Serikat dan Israel. Gelombang penyesuaian yang dilakukan berbagai maskapai ini menunjukkan bahwa industri penerbangan sangat bergantung pada stabilitas global, terutama dalam hal energi. Bagi penumpang, dampaknya tidak hanya pada harga tiket yang cenderung naik, tetapi juga pada pilihan jadwal dan rute yang semakin terbatas.

Situasi ini bisa saja terus berkembang tergantung pada kondisi geopolitik dunia. Oleh karena itu, penting bagi calon penumpang untuk lebih fleksibel dalam merencanakan perjalanan, memantau informasi terbaru dari maskapai, serta mempertimbangkan waktu pemesanan, agar tetap mendapatkan opsi terbaik di tengah dinamika yang terjadi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
Eddy Rusmanto
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu
Follow Us

Latest in Travel

See More