Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Urutan Tradisi Nyepi di Bali, Mulai Melasti hingga Ngembak Geni
umat Hindu Bali melakukan Melasti di Pantai Petitenget (dok.pribadi/Natalia Indah)

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu di Bali yang terkenal dengan suasana hening selama 24 jam penuh. Bayangkan sebuah pulau yang biasanya dipenuhi suara ombak, tawa, dan obrolan banyak orang, tiba-tiba berubah menjadi sunyi. Lampu-lampu padam, jalanan kosong, dan langit malam penuh bintang, satu-satunya hari di dunia ketika semuanya berhenti sejenak dari segala aktivitas sehari-hari.

Namun, keheningan Nyepi tidak datang begitu saja. Sebelum hari sunyi itu tiba, masyarakat Bali menjalani serangkaian ritual sakral yang sarat makna. Sama halnya setelah Nyepi berakhir, mereka bertemu kembali saling bersilaturahmi, saling memaafkan, dan memulai semangat yang baru.

Jika kamu ingin memahami keindahan budaya Bali lebih dalam, berikut urutan tradisi Nyepi di Bali. Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini sampai selesai!

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti di Pantai Petitenget (dok.pribadi/Natalia Indah)

Upacara Melasti adalah ritual penyucian diri dan benda sakral umat Hindu Bali yang dilakukan di sumber air suci seperti laut, danau, atau sungai. Upacara ini dilaksanakan 2 - 3 hari sebelum Nyepi, biasanya pada Tilem Kesanga atau bulan mati ke-9 dalam kalender Bali. Makna dari upacara ini adalah sebagai proses pembersihan diri manusia secara lahir dan batin, serta pembersihan alam.

Sebelum melaksanakan Melasti, umat Hindu Bali akan melakukan persembahyangan terlebih dahulu. Setelah membaca doa-doa dan sembahyang bersama, mereka akan menuju sumber air untuk melaksanakan Melasti sembari membaca doa-doa. Sesampainya di sumber air seperti laut, pemimpin akan melarung sesaji, doa bersama, dan mengambil air tersebut untuk menyucikan umat Hindu lainnya serta Pralingga.

Bagi wisatawan, prosesi Melasti sering menjadi momen menarik karena ribuan warga Bali berjalan bersama menuju pantai dengan pakaian adat yang indah. Kamu pun bisa melihatnya dan ikut serta, namun jangan mengganggu prosesi sembahyang mereka, ya.

2. Tawur Kesanga

ogoh-ogoh yang siap diarak (dok.pribadi/Natalia Indah)

Setelah Melasti, ada Upacara Tawur Kesanga yang disebut juga dengan pangrupukan atau tawur agung. Ritual ini diselenggarakan sehari sebelum Nyepi dan dilakukan upacara Bhuta Yadnya untuk memberikan persembahan kepada Bhuta Kala. Tujuan dari upacara ini adalah menjaga keseimbangan alam semesta maupun diri manusia dari gangguan Bhuta Kala.

Ritual ini dimulai dengan menyebarkan nasi tawur, mengobori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah, dan memukul kentongan hingga gaduh. Hal ini bertujuan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan sekitarnya.

Setelah itu, biasanya dilanjutkan dengan pengerupukan dan pawai Ogoh-ogoh, patung raksasa simbol Bhuta Kala atau kekuatan negatif, yang diarak keliling desa dan dibakar untuk menetralisir energi negatif. Tradisi ini melambangkan penyucian diri dan lingkungan dari unsur jahat serta menjaga keharmonisan alam, agar umat manusia dapat melaksanakan Catur Brata Penyepian dalam suasana yang harmonis.

Tradisi ini menjadi salah satu acara paling meriah dalam rangkaian Nyepi. Kamu pun bisa ikut serta melihat pawai Ogoh-ogoh di tepi jalan raya sehari sebelum Nyepi.

3. Hari Raya Nyepi

langit cerah bertabur bintang saat Nyepi (dok.pribadi/Natalia Indah)

Setelah berbagai prosesi meriah, Bali akan memasuki Hari Raya Nyepi, yaitu hari penuh keheningan selama 24 jam penuh. Mulai pukul 06.00 Wita sampai dengan 06.00 Wita besok paginya, umat Hindu Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual ini terdiri dari amati geni: tidak ada api atau penerangan dan tidak boleh mengobarkan api hawa nafsu, amati karya: tidak bekerja, amati lelungan: tidak bepergian atau keluar rumah, serta amati lelangua: tidak mencari hiburan atau rekreasi.

Bagi mereka yang mampu melaksanakan Catur Brata Penyepian secara utuh, biasanya disertai dengan puasa, tidak berbicara, dan tidak tidur. Selama Nyepi, seluruh aktivitas di Bali pun hampir berhenti total, termasuk bandara, jalan raya, hingga tempat wisata. Hari ini dimanfaatkan untuk introspeksi diri, meditasi, dan refleksi spiritual.

4. Ngembak Geni

ilustrasi silaturahmi dengan keluarga (unsplash.com/Hybrid Storytellers)

Tahapan terakhir adalah Ngembak Geni yang menjadi momen berakhirnya Catur Brata Penyepian. Ritual ini mirip dengan momen Idul Fitri bagi umat Muslim di Indonesia. Masyarakat Hindu Bali akan saling mengunjungi keluarga, kerabat, atau teman dekat untuk saling memaafkan atas segala kesalahan yang telah terjadi sebelumnya.

Tradisi ini juga menandai dimulainya kehidupan baru di Tahun Saka. Sebuah awal yang baru dengan hati yang bersih serta hubungan yang harmonis.

Rangkaian tradisi Nyepi di Bali menunjukkan filosofi mendalam tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Dimulai dari Melasti, Tawur Kesanga, Pengerupukan, Nyepi, hingga Ngembak Geni, setiap tahapan memiliki makna mendalam serta spiritual yang kuat. Bagi kamu yang berkunjung ke Bali saat Nyepi, tradisi ini bukan hanya menambah wawasan budaya tapi juga bisa ikut beristirahat sejenak dengan tenang serta menghormati kearifan lokal Bali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team