Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Saja yang Membuat Penerbangan Dibatalkan?
ilustrasi menunggu di bandara (pixabay.com/JoshuaWoroniecki)

Demi menjamin keamanan para penumpang serta awak kabin selama penerbangan, maskapai pastinya memiliki kebijakan preventif mereka masing-masing, lho. Tak hanya memiliki wewenang untuk menunda, maskapai juga berhak membatalkan penerbangan yang dapat mengancam keselamatan operasional mereka.

Meski terkadang pembatalan yang mendadak cukup menjengkelkan, namun maskapai sebenarnya telah mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan tersebut, nih. Penumpang juga akan diberikan opsi untuk melakukan reschedule atau refund tiket. Berikut sederet alasan penerbangan dibatalkan. Apa saja, ya?

1. Cuaca yang buruk

ilustrasi pesawat (pixabay.com/DaniloBueno)

Cuaca buruk menjadi penyebab paling umum penerbangan dibatalkan. Maskapai tidak ingin mengambil risiko dengan kondisi yang dapat mengancam keselamatan operasional mereka, termasuk para penumpang dan awak kabin.

Cuaca buruk akan membuat jarak pandang terbatas akibat kabut tebal atau yang disebabkan oleh asap. Tak hanya itu, angin kencang hingga badai petir juga bisa mengganggu jalur penerbangan atau landasan pacu pesawat, lho.

2. Masalah teknis dan perawatan

ilustrasi pesawat (pixabay.com/code83)

Tentunya, keselamatan penumpang merupakan prioritas utama. Karena itu, biasanya akan dilakukan inspeksi sebelum penerbangan. Apabila ditemukan masalah pada pesawat, maskapai kemungkinan akan membatalkan penerbangan secara mendadak.

Kekurangan suku cadang atau antrean panjang di bengkel pesawat juga membuat perbaikan tepat waktu terhambat, sehingga penerbangan harus dibatalkan. Tak hanya itu, pesawat yang tidak melakukan perawatan rutin lebih berisiko mengalami masalah teknis.

3. Keterbatasan personel dan kru

ilustrasi pramugari membantu penumpang (pixabay.com/StockSnap)

Operasional pesawat sangat bergantung pada ketersediaan pilot, awak kabin, hingga personel darat yang memenuhi syarat. Apabila kru telah mencapai limit maksimal jam terbang, maskapai akan membatalkan penerbangan pada hari itu.

Berdasarkan Civil Aviation Safety Regulations (CASR), kru yang telah mencapai Flight Time Limitation dilarang keras terbang demi alasan keselamatan. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mencegah pilot dan kru kabin kelelahan yang dapat menyebabkan kesalahan fatal dan kondisi medis darurat.

4. Kendala operasional maskapai

ilustrasi pesawat yang parkir (pixabay.com/dmncwndrlch)

Apabila sebuah bandara mengalami penumpukan pesawat, maskapai kemungkinan besar kehilangan slot waktu lepas landasnya. Karena itu, penerbangan tersebut sering kali akan dibatalkan untuk mencegah efek domino yang memicu serangkaian penundaan atau pembatalan jadwal penerbangan selanjutnya secara berturut-turut.

Selain itu, kendala operasional juga bisa berasal dari ketidaksiapan pesawat itu sendiri. Masalah pada rantai pasok suku cadang global dapat menyebabkan pesawat harus menginap lebih lama di bengkel dari jadwal perawatan rutin. Kondisi tersebut membuat maskapai akhirnya tidak memiliki armada yang memadai untuk terbang.

5. Pembatasan udara

ilustrasi pemandangan saat naik pesawat (pexels.com/ArtHouse Studio)

Pembatasan udara biasanya berkaitan dengan kondisi geopolitik dan keamanan dunia. Konflik politik atau militer dapat berdampak pada penutupan mendadak jalur penerbangan tertentu, seperti yang baru-baru ini terjadi di sejumlah bandara di Timur Tengah yang memaksa maskapai untuk membatalkan rute atau melakukan pengalihan.

Selain itu, penerbangan dapat dibatasi sementara di wilayah tertentu karena adanya kunjungan tamu kenegaraan penting, acara besar, dan penanganan bencana alam. Pembatalan ini dilakukan bukan hanya karena kondisi alamnya, tetapi maskapai lebih memprioritaskan operasional logistik dan keselamatan selama masa darurat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team