Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi paspor Malaysia
ilustrasi paspor Malaysia (commons.wikimedia.org/มองโกเลีย๔๔)

Intinya sih...

  • Strategi diplomasi bebas aktif dan netralitas global

  • Keistimewaan akses visa-free ke China

  • Jaringan luas persemakmuran Inggris (Commonwealth)

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak dari kita mungkin terperangah ketika mengetahui fakta bahwa dokumen perjalanan dari negara tetangga bisa memiliki "kesaktian" yang menyaingi negara Amerika. Yap, fenomena mengenai apa yang membuat paspor Malaysia lebih kuat dari Amerika Serikat dalam aspek-aspek tertentu bukanlah sekadar klaim kosong. Realitas geopolitik memperlihatkan Malaysia mempunyai aksesibilitas yang setara dengan Amerika Serikat, bahkan lebih unggul dari negara adikuasa tersebut. 

Kekuatan sebuah paspor di era modern gak lagi hanya dihitung dari jumlah negara yang bisa dikunjungi, tetapi juga dari kemudahan birokrasi dan penerimaan global terhadap warga negaranya. Para pemegang paspor Malaysia sering menikmati perjalanan lintas benua yang jauh lebih mulus tanpa beban stigma politik yang kerap melekat pada warga negara Amerika Serikat.

Yuk, bedah mendalam, kita bahas tujuh faktor utama yang menjadi alasan di balik keunggulan diplomasi paspor Negeri Jiran ini dibandingkan dengan paspor Paman Sam. Kira-kira, kenapa, ya?

1. Strategi diplomasi bebas aktif dan netralitas global

ilustrasi bendera Malaysia (pexels.com/Ihsan Adityawarman)

Salah satu pondasi utama yang memperkuat posisi paspor Malaysia adalah sikap politik luar negeri mereka yang sangat berhati-hati dan cenderung netral. Berbeda dengan Amerika Serikat yang sering terlibat dalam konflik terbuka atau perang dagang di berbagai belahan dunia, Malaysia memposisikan diri sebagai sahabat bagi semua bangsa. 

Sikap non-blok ini membuat pintu perbatasan di negara-negara yang mungkin "bermusuhan" dengan blok Barat tetap terbuka lebar bagi warga Malaysia. Hasilnya, pemegang paspor Malaysia bisa melenggang masuk ke negara-negara dengan sentimen anti-Amerika tanpa rasa was-was atau pemeriksaan keamanan yang berlebihan, deh.


2. Keistimewaan akses visa-free ke China

ilustrasi Forbidden City, China (pexels.com/Sabel Blanco)

Dalam peta geopolitik terkini, kemenangan terbesar diplomasi Malaysia adalah berhasilnya kesepakatan bebas visa dengan raksasa ekonomi dunia, China. Sementara warga negara Amerika Serikat masih harus melalui prosedur pengajuan visa yang rumit, memakan waktu, dan mahal untuk masuk ke China, warga Malaysia kini menikmati fasilitas bebas visa untuk kunjungan singkat. 

Kemudahan akses ke pasar terbesar di Asia ini memberikan keunggulan kompetitif yang luar biasa bagi pebisnis dan wisatawan Malaysia. Faktor aksesibilitas ke Tiongkok inilah yang sering menjadi poin penentu "kemenangan" paspor Malaysia atas Amerika Serikat dalam konteks kemudahan berbisnis di Asia, lho.


3. Jaringan luas persemakmuran Inggris (Commonwealth)

ilustrasi Inggris (pexels.com/Michael Kabus)

Sebagai negara bekas jajahan Inggris, Malaysia mewarisi keanggotaan dalam organisasi Persemakmuran (Commonwealth) yang memberikan keuntungan jaringan diplomatik yang gak dimiliki oleh Amerika Serikat. Hubungan historis yang erat dengan Inggris, Australia, Selandia Baru, dan puluhan negara anggota lainnya kerap diterjemahkan menjadi kemudahan imigrasi khusus. 

Warga Malaysia kerap mendapatkan jalur prioritas, kemudahan visa pelajar, atau izin kerja liburan (working holiday visa) yang lebih mudah didapat dibandingkan warga negara non-Persemakmuran. Jaringan "persaudaraan" sejarah ini tentu menjadi jaring pengaman yang memperluas cakupan bebas visa paspor Malaysia hingga ke negara-negara kepulauan kecil di Pasifik dan Karibia.


4. Solidaritas negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

ilustrasi bendera Malaysia (pexels.com/Thilipen Rave Kumar )

Malaysia memegang peran kunci sebagai anggota yang disegani dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), sebuah status yang membuka akses eksklusif ke dunia Islam. Warga negara Amerika Serikat sering menghadapi tantangan birokrasi atau biaya visa yang tinggi saat hendak memasuki negara-negara di Timur Tengah atau Afrika Utara, karena alasan keamanan atau politik. 

Sebaliknya, paspor Malaysia diterima dengan hangat di kawasan ini atas dasar solidaritas sesama negara anggota OKI, sering kali dengan fasilitas visa-on-arrival yang sangat mudah. Akses tanpa hambatan ke negara-negara kaya minyak dan destinasi ziarah ini menambah bobot kekuatan paspor Malaysia secara signifikan.


5. Prinsip resiprositas visa yang menguntungkan

ilustrasi pria memandangi Kuala Lumpur (pexels.com/Adil Alimbetov)

Malaysia menerapkan kebijakan pintu terbuka yang cukup murah hati terhadap turis asing, dan dalam dunia diplomasi, kebaikan ini berbalas kebaikan (resiprositas). Karena Malaysia jarang mempersulit warga negara lain untuk masuk ke wilayahnya, negara-negara lain pun cenderung memberikan kemudahan serupa bagi warga Malaysia. 

Berbeda dengan Amerika Serikat yang memiliki kebijakan imigrasi yang sangat ketat dan biaya visa yang mahal bagi orang asing, yang akhirnya memicu negara lain untuk memberlakukan aturan balasan yang sama ketatnya bagi warga AS. Nah, strategi "memberi untuk menerima" ini terbukti ampuh meningkatkan skor bebas visa Malaysia secara global.


6. Pionir teknologi keamanan paspor biometrik

ilustrasi paspor Malaysia (commons.wikimedia.org/European Union)

Kepercayaan dunia terhadap paspor Malaysia juga didasari oleh reputasi negara tersebut sebagai pelopor teknologi keamanan identitas. Malaysia mencatatkan sejarah sebagai negara pertama di dunia yang meluncurkan paspor biometrik (e-passport) pada 1998, jauh sebelum negara-negara maju lainnya mengadopsinya, seperti dilansir Departemen Imigrasi Malaysia.

Rekam jejak inovasi ini memberikan jaminan integritas dokumen yang tinggi di mata petugas imigrasi internasional, sehingga mengurangi risiko pemalsuan identitas. Tingkat kepercayaan teknis yang tinggi ini memudahkan negosiasi perjanjian bebas visa dengan blok negara-negara maju, seperti Uni Eropa (Schengen Area).


7. Minimnya risiko keamanan dan target politik

ilustrasi Petaling Street Market, Malaysia (unsplash.com/Ravin Rau)

Faktor terakhir, tapi sangat krusial, adalah profil keamanan warga negara Malaysia yang dianggap "rendah risiko" di mata dunia internasional. Warga Amerika Serikat, sayangnya, sering menjadi target penculikan atau tindakan kriminal bermotif politik di daerah-daerah konflik tertentu karena status negara mereka sebagai polisi dunia. 

Sebaliknya, warga Malaysia dipandang sebagai pelancong yang netral dan gak membawa agenda politik global, sehingga mereka lebih aman dan leluasa bergerak di daerah-daerah sensitif, nih. Kebebasan bergerak tanpa rasa takut menjadi target politik inilah yang secara kualitatif mendefinisikan kekuatan paspor yang sesungguhnya.

Kekuatan sebuah dokumen perjalanan ternyata gak melulu soal supremasi ekonomi atau militer, melainkan tentang seni menjalin hubungan baik antarnegara. Melalui kombinasi strategi diplomasi cerdas, pemanfaatan sejarah, dan inovasi teknologi, kini terjawab sudah apa yang membuat paspor Malaysia lebih kuat dari Amerika Serikat dalam konteks kebebasan dan kenyamanan perjalanan global, ya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team