Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mendaki (unsplash.com/Dmytro Matsiuk)
ilustrasi mendaki (unsplash.com/Dmytro Matsiuk)

Intinya sih...

  • Menentukan kecepatan berdasarkan anggota terlemah

  • Mengatur pola jalan dan istirahat secara konsisten

  • Memperhatikan kondisi fisik dan psikologis tim

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menyesuaikan dengan jalan pada saat mendaki gunung ternyata merupakan langkah penting yang dapat menentukan keberhasilan dan keselamatan tim. Ritme yang terlalu cepat ternyata bisa menyebabkan risiko kelelahan berlebih, sedangkan ritme yang terlalu lambat justru hanya akan mengganggu estimasi waktu dan kondisi fisik dari anggota tim.

Dalam pendakian berkelompok, setiap anggota memiliki kemampuan fisik dan daya tahan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, simaklah beberapa cara berikut ini untuk menyesuaikan ritme jalan dengan kondisi tim pada saat mendaki gunung.

1. Menentukan kecepatan berdasarkan anggota terlemah

ilustrasi mendaki gunung (unsplash.com/Toomas Tartes)

Menentukan ritme jalan sebaiknya dapat mengacu pada kemampuan anggota dengan kondisi fisik yang paling lemah daripada yang lainnya. Pendekatan ini dapat membantu untuk memastikan kekompakan tim, sekaligus mencegah terjadinya kelelahan ekstrem yang mungkin terjadi pada anggota tertentu.

Dengan menyesuaikan kecepatan pada anggota terlemah, maka seluruh tim bisa berjalan dengan lebih stabil dan berkelanjutan. Cara ini juga dapat mengurangi risiko berhenti terlalu sering yang diakibatkan karena kelelahan yang semestinya dapat dicegah.

2. Mengatur pola jalan dan istirahat secara konsisten

ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Flo Maderebner)

Pola jalan dan istirahat yang konsisten ternyata cukup efektif untuk membantu tubuh dalam menyesuaikan ritme bekerja selama proses pendakian berlangsung. Sebagai contoh, berjalan selama 20 hingga 30 menit dan beristirahat singkat justru bisa memastikan stamina terjaga dengan stabil.

Istirahat yang terencana juga dapat memberikan kesempatan bagi anggota tim untuk mengatur nafas dan menghidrasi tubuh dengan baik. Dengan pola yang jelas, maka tim tidak mudah kehilangan fokus dan energi di tengah perjalanan berlangsung

3. Memperhatikan kondisi fisik dan psikologis tim

ilustrasi pendakian (unsplash.com/Ashim D’Silva)

Kondisi fisik seperti nafas yang sudah mulai terengah-engah, kram, atau pusing seolah menjadi tanda bahwa ritme Jalan harus mulai diturunkan. Selain itu, kondisi psikologi seperti stres dan kehilangan semangat harus diperhatikan selama proses pendakian berlangsung.

Komunikasi terbuka antar anggota tentu merupakan bagian penting agar setiap orang tetap merasa aman dalam menyampaikan keluhannya. Dengan saling memahami kondisi masing-masing pihak, maka penyesuaian ritme pun dapat dilakukan dengan tepat waktu tanpa masalah.

4. Menyesuaikan ritme dengan medan dan cuaca

ilustrasi pendakian (unsplash.com/MChe Lee)

Medan yang terjal atau licin memang memerlukan ritme jalan yang lebih lambat dan penuh kehati-hatian. Begitu pula dengan kondisi cuaca yang ekstrem karena bisa memengaruhi stamina tim secara keseluruhan.

Berusaha menurunkan kecepatan pada medan sulit setidaknya dapat membantu untuk mengurangi risiko cidera atau bahkan kelelahan berlebih. Penyesuaian ini dapat membuat tim jadi tetap aman, sekaligus menjaga energi untuk melakukan pendakian selanjutnya.

Menyesuaikan ritme jalan dengan kondisi tim saat mendaki bukan hanya soal kecepatan, namun juga tentang keselamatan dan kebersamaan. Dengan memahami beberapa hal di atas, maka pendakian pun bisa berjalan dengan lebih aman, nyaman, dan menyenangkan. Kekompakan dalam tim tentu merupakan bagian pada saat mendaki bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian