Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi traveling
ilustrasi traveling (pexels.com/TimSon Foox)

Intinya sih...

  • Kota kecil memberi pengalaman berkesan

  • Farm stay simbol liburan dekat alam

  • Aktivitas liburan jadi lebih tenang dan reflektif

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Liburan selama ini sering identik dengan kota besar, destinasi terkenal, dan agenda super padat dari pagi sampai malam. Banyak orang merasa harus pergi jauh supaya dianggap benar-benar “traveling”. Namun, pola itu mulai berubah seiring munculnya tren slow travel.

Slow travel mengajakmu menikmati perjalanan dengan tempo lebih pelan dan fokus pada pengalaman, bukan jumlah tempat yang dikunjungi. Kamu gak harus pergi ke luar negeri atau kota besar untuk merasa puas saat liburan. Perjalanan sederhana justru bisa meninggalkan kesan yang lebih dalam.

Tahun 2026 diprediksi menjadi puncak popularitas slow travel karena semakin banyak orang mencari liburan yang tenang, murah, dan bermakna. Apakah benar? Coba kita bahas, ya!

1. Kota kecil justru memberi pengalaman paling berkesan

ilustrasi kota Cincinnati, Amerika Serikat (pexels.com/Eyes2Soul Eyes2Soul)

Slow travel mendorongmu untuk memilih kota kecil atau destinasi yang jarang dilirik wisatawan. Alih-alih ke tempat penuh hiruk-pikuk, kamu bisa menikmati suasana santai dengan aktivitas sederhana, seperti berjalan di taman kota, nongkrong di bakery lokal, atau naik transportasi umum gratis. Pengalaman ini terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Liburan pun gak terasa seperti lomba mengejar spot foto.

Dilansir CNBC, Farcia Harvey, seorang content creator perjalanan berusia 27 tahun yang sering membagikan pengalaman liburan ke kota-kota kecil, pernah menyampaikan bahwa liburan terbaiknya justru terjadi di Cincinnati, bukan kota besar. Ia merasa perjalanan ke kota yang gak terlalu terkenal memberi kenangan yang lebih kuat karena suasananya tenang dan gak melelahkan. Menurutnya, kamu bisa bersenang-senang bahkan di tempat yang dianggap “biasa saja” oleh banyak orang. Pandangan ini memperkuat bahwa slow travel gak bergantung pada destinasi populer.

2. Farm stay jadi simbol liburan yang lebih dekat dengan alam

ilustrasi area pertanian (pexels.com/Any Lane)

Salah satu bentuk slow travel yang sedang naik daun adalah farm stay atau liburan di area pertanian. Kamu bisa menginap di rumah peternakan dengan suasana alam terbuka, melihat sapi dan kuda, hingga menikmati aktivitas sederhana seperti memasak bersama atau berjalan di ladang. Banyak orang tertarik karena suasana ini sangat berbeda dari rutinitas kota. Liburan terasa seperti reset mental tanpa gangguan keramaian.

Aricka Giglia, seorang profesional muda berusia 28 tahun yang mengadakan acara perayaan bersama teman-temannya di sebuah farm dekat Dallas, memilih konsep ini karena ingin suasana lebih mirip retreat kesehatan daripada pesta. Ia menginginkan liburan yang tenang, dekat alam, dan penuh kebersamaan. Pengalaman tersebut dianggap lebih berkesan dan jauh lebih murah dibandingkan pesta di kota wisata populer. Hal ini menunjukkan bahwa slow travel juga relevan untuk momen penting dalam hidup.

3. Aktivitas liburan berubah jadi lebih tenang dan reflektif

ilustrasi baca buku di taman (pexels.com/John M)

Slow travel gak hanya soal tempat, tapi juga soal aktivitas selama liburan. Banyak orang mulai memilih perjalanan dengan tujuan membaca buku, relaksasi, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama kelompok kecil. Konsep ini dikenal sebagai reading retreat atau liburan membaca. Kamu gak perlu keliling kota, cukup berada di satu tempat dengan pemandangan indah dan suasana sunyi.

Mackenzie Newcomb, pendiri komunitas Bad Bitch Book Club dari New York, mengungkapkan bahwa kota besar gak cocok untuk retreat membaca karena terlalu banyak distraksi. Ia lebih memilih lokasi dengan pemandangan alam dan suasana tenang agar peserta bisa fokus membaca dan bersantai. Menurut pengalamannya, tempat yang membuat orang betah di dalam penginapan justru menjadi lokasi terbaik untuk slow travel. Ini menandakan bahwa liburan gak harus penuh eksplorasi fisik, tapi bisa fokus pada ketenangan pikiran.

4. Lebih murah dibanding liburan konvensional

ilustrasi jalan kaki di alam terbuka (unsplash.com/Frank Holleman)

Slow travel juga dianggap lebih hemat secara finansial. Kamu gak perlu berpindah-pindah kota atau membeli banyak tiket transportasi. Biaya penginapan bisa dibagi bersama teman, sementara aktivitasnya cenderung sederhana dan gak mahal. Liburan menjadi lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas pengalaman.

Melanie Fish, seorang pakar perjalanan dari platform pemesanan akomodasi global, menjelaskan bahwa banyak orang mencari slow travel karena ingin rehat dari rutinitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Menurutnya, traveler tertarik pada aktivitas seperti berjalan di alam, berinteraksi dengan hewan, dan menikmati suasana pedesaan. Pola ini menunjukkan bahwa nilai liburan bukan lagi diukur dari kemewahan, melainkan dari ketenangan yang didapat.

5. Liburan jadi lebih bermakna secara emosional

ilustrasi penduduk lokal Thailand (pexels.com/Anetta Kolesnikova)

Slow travel membuatmu lebih terhubung dengan tempat yang dikunjungi. Kamu gak hanya datang lalu pergi, tapi benar-benar hidup di sana untuk sementara waktu. Ada ruang untuk berbincang dengan warga lokal, memahami kebiasaan mereka, dan merasakan ritme kehidupan yang berbeda. Hal ini menciptakan pengalaman emosional yang lebih kuat.

Banyak pelaku slow travel merasa kenangan mereka lebih bertahan lama karena perjalanan dilakukan tanpa terburu-buru. Liburan berubah menjadi momen refleksi dan kebersamaan, bukan sekadar konsumsi wisata. Kamu pulang bukan hanya membawa foto, tapi juga cerita dan sudut pandang baru tentang hidup. Inilah yang membuat slow travel diprediksi terus tumbuh di tahun 2026.

Slow travel menunjukkan bahwa liburan gak harus jauh, mahal, atau penuh agenda. Kota kecil, farm stay, dan retreat membaca menjadi simbol perubahan cara orang menikmati perjalanan. Praktisi perjalanan dan komunitas wisata melihat tren ini sebagai jawaban atas kejenuhan hidup serba cepat. Kamu diajak menikmati momen, bukan mengejar destinasi.

Tahun 2026 diperkirakan menjadi masa di mana liburan sederhana justru terasa paling mewah. Jika kamu ingin perjalanan yang tenang, hemat, dan penuh makna, slow travel bisa menjadi pilihan terbaik untuk liburan berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team