ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Gustavo Fring)
Jarak tempuh yang ditampilkan mobil listrik biasanya dihitung berdasarkan data penggunaan sebelumnya dan kondisi berkendara. Karena itu, angka tersebut dapat berubah meskipun kapasitas baterai masih menunjukkan 100 persen. Jika sebelumnya mobil digunakan dengan gaya berkendara agresif atau konsumsi energi tinggi, perkiraan jarak tempuh berikutnya bisa ikut turun.
Perbedaan juga dapat muncul antara angka pengujian resmi dan kondisi nyata di jalan. Pengujian dilakukan menggunakan prosedur dan kondisi tertentu, sedangkan perjalanan sehari-hari menghadirkan lalu lintas, tanjakan, suhu, muatan, serta gaya berkendara yang berbeda-beda. Jadi, baterai penuh bukan berarti mobil pasti mencapai angka jarak tempuh maksimum yang tercantum pada spesifikasi.
Pada akhirnya, perubahan jarak tempuh ketika baterai penuh merupakan hal yang dapat terjadi dalam penggunaan normal. Selama tidak disertai penurunan kapasitas secara tidak wajar atau masalah pada sistem baterai, perubahan tersebut belum tentu menandakan baterai mengalami kerusakan. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola konsumsi energi dan kondisi kendaraan dari waktu ke waktu.