Alasan Utama Bus dan Truk Mengandalkan Penggerak Roda Belakang

- Penggerak roda belakang memberikan traksi optimal saat membawa muatan maksimal
- Konstruksi RWD meningkatkan durabilitas komponen dan kemudahan perawatan mekanis
- Radius putar yang lebih baik dan keseimbangan manuver menjadi keunggulan lain dari penggunaan penggerak roda belakang pada bus dan truk
Kendaraan niaga berukuran besar seperti bus dan truk dirancang untuk mengemban tugas berat yang tidak mungkin dilakukan oleh mobil penumpang biasa. Salah satu karakteristik teknis yang paling konsisten dipertahankan pada jenis kendaraan ini adalah penggunaan sistem penggerak roda belakang atau Rear Wheel Drive (RWD).
Keputusan rekayasa ini didasarkan pada prinsip fisika dasar mengenai distribusi beban dan kebutuhan akan daya dorong yang maksimal. Dengan menempatkan tenaga pada poros belakang, bus dan truk mampu beroperasi dengan stabil meskipun harus mengangkut puluhan ton muatan atau melintasi medan tanjakan yang menantang di berbagai pelosok daerah.
1. Optimalisasi traksi saat membawa muatan maksimal

Faktor utama yang mendasari penggunaan penggerak roda belakang pada kendaraan berat adalah hukum distribusi beban. Ketika sebuah truk atau bus diisi dengan muatan penuh, pusat gravitasi akan bergeser ke bagian belakang kendaraan. Beban yang sangat berat ini menekan roda belakang ke permukaan aspal, sehingga memberikan cengkeraman atau traksi yang jauh lebih kuat dibandingkan jika tenaga disalurkan ke roda depan.
Jika kendaraan seberat bus menggunakan penggerak roda depan, roda penggerak tersebut akan cenderung kehilangan traksi atau mengalami selip saat mencoba mulai bergerak dari posisi diam, terutama pada kondisi jalan yang licin atau menanjak. Dengan sistem RWD, semakin berat beban yang dibawa, semakin besar pula daya tekan yang diterima roda belakang, yang secara otomatis meningkatkan kemampuan ban untuk mendorong kendaraan maju tanpa hambatan berarti.
2. Durabilitas komponen dan kemudahan perawatan mekanis

Konstruksi kendaraan dengan penggerak roda belakang memungkinkan pemisahan fungsi yang jelas antara poros roda depan dan belakang. Roda depan hanya bertugas sebagai pengatur arah atau kemudi, sementara roda belakang murni berfungsi sebagai penyalur tenaga dari mesin. Pemisahan beban kerja ini membuat komponen kaki-kaki depan memiliki usia pakai yang lebih panjang karena tidak harus menanggung beban torsi mesin yang sangat besar dari mesin diesel bertenaga tinggi.
Selain itu, tata letak mekanis sistem RWD pada bus dan truk cenderung lebih sederhana dan kokoh. Mesin yang biasanya diletakkan secara longitudinal (membujur) memungkinkan penggunaan transmisi dan poros kopel (propeller shaft) yang besar dan kuat. Desain ini sangat memudahkan para mekanik saat melakukan perawatan rutin atau perbaikan besar. Ruang yang lebih luas di bawah sasis mempermudah akses ke komponen-komponen vital, sehingga waktu pengerjaan di bengkel menjadi lebih efisien yang berdampak pada produktivitas operasional armada.
3. Radius putar yang lebih baik dan keseimbangan manuver

Meskipun memiliki dimensi yang sangat panjang, bus dan truk tetap membutuhkan kelincahan saat bermanuver di ruang terbatas atau tikungan tajam. Dengan tidak adanya komponen penggerak (seperti drive shaft) di roda depan, sudut belok roda dapat dirancang lebih lebar. Hal ini memungkinkan kendaraan besar memiliki radius putar yang lebih kecil dibandingkan jika roda depannya harus berbagi ruang dengan mekanisme penggerak yang rumit.
Stabilitas juga menjadi aspek krusial yang ditawarkan oleh konfigurasi RWD. Pembagian berat yang lebih merata antara mesin di depan (atau tengah pada bus tertentu) dan penggerak di belakang menciptakan keseimbangan dinamika berkendara yang lebih baik. Hal ini mencegah gejala limbung yang berlebihan dan memastikan kendali tetap berada di tangan pengemudi saat kendaraan harus melakukan pengereman mendadak atau manuver darurat di jalan raya dalam kondisi bermuatan penuh.


















