Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jangan Menginjak Pedal Rem Mobil Matik Pakai Kaki Kiri, Ini Bahayanya

Jangan Menginjak Pedal Rem Mobil Matik Pakai Kaki Kiri, Ini Bahayanya
ilustrasi pedal rem pada mobil (pexels.com/Mike Bird)
Intinya Sih
  • Mengemudi mobil matik seharusnya hanya menggunakan kaki kanan karena penggunaan kaki kiri di pedal rem bisa memicu pengereman dan akselerasi bersamaan yang berbahaya.
  • Kebiasaan menekan pedal rem dengan kaki kiri dapat menyebabkan gesekan terus-menerus, meningkatkan suhu sistem rem, dan berisiko membuat rem blong akibat panas berlebih.
  • Menempatkan kaki kiri di footrest menjaga keseimbangan tubuh dan kenyamanan berkendara, sementara menggantungkan kaki di pedal rem justru mengurangi stabilitas serta kontrol setir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mengemudikan mobil dengan transmisi otomatis atau matik menawarkan kenyamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mobil manual. Absennya pedal kopling membuat kaki kiri pengendara bebas dari tugas berat memindahkan gigi transmisi sepanjang perjalanan.

Namun, kebebasan ini sering kali memicu kekeliruan fatal bagi sebagian pengemudi pemula di jalan raya. Kebiasaan menempatkan kaki kiri di atas pedal rem dengan alasan kepraktisan justru sangat dilarang karena dapat membahayakan keselamatan berkendara.

1. Risiko terjadinya fenomena pengereman tidak sengaja secara bersamaan

Ilustrasi seseorang menginjak pedal rem (vecteezy.com/gnepphoto)
Ilustrasi seseorang menginjak pedal rem (vecteezy.com/gnepphoto)

Desain ruang kaki pada kabin mobil matik dirancang khusus agar semua operasional berkendara hanya dikendalikan oleh kaki kanan secara bergantian. Ketika kaki kiri diletakkan di atas pedal rem, refleks otot tubuh akan cenderung tidak sinkron saat menghadapi situasi darurat yang mendadak. Pengemudi berisiko tinggi menginjak pedal gas dan pedal rem secara bersamaan karena kepanikan yang terjadi.

Percampuran sinyal mekanis ini akan membuat sistem komputer mobil mengalami kebingungan dalam merespons perintah kendaraan. Akibatnya, laju mobil tidak akan berhenti secara maksimal, melainkan justru berpotensi melompat ke depan atau kehilangan kendali traksi. Kondisi ini menjadi pemicu utama terjadinya tabrakan beruntun di area lalu lintas yang padat.

2. Kerusakan dini pada komponen rem akibat tekanan kaki yang tidak sadar

ilustrasi pedal rem (unsplash.com/Unervi González)
ilustrasi pedal rem (unsplash.com/Unervi González)

Kaki kiri yang tidak terbiasa mengontrol sensitivitas pedal gas biasanya memiliki insting tekanan yang jauh lebih kuat dan tidak beraturan. Tanpa disadari, kaki kiri yang bersandar di atas pedal rem sering kali memberikan sedikit tekanan konstan meskipun mobil sedang melaju. Fenomena ini dikenal dengan istilah riding the brake, di mana kampas rem terus menempel pada piringan cakram sepanjang jalan.

Gesekan yang terjadi secara terus-menerus ini akan menghasilkan suhu panas yang sangat ekstrem pada sistem pengereman kendaraan. Suhu panas yang berlebihan dapat membuat minyak rem mendidih dan memicu terjadinya masuk angin palsu atau vapor lock. Dampak paling fatal dari kebiasaan buruk ini adalah rem mobil bisa mendadak blong karena kampas kehilangan daya cengkeram akibat panas.

3. Gangguan kenyamanan posisi berkendara dan hilangnya tumpuan tubuh

ilustrasi pedal rem mobil (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi pedal rem mobil (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pabrikan mobil telah menyediakan komponen khusus bernama footrest atau pijakan statis di bagian paling kiri ruang kaki kabin. Komponen ini berfungsi sebagai tempat bersandar bagi kaki kiri agar posisi duduk pengemudi tetap seimbang dan ergonomis. Membiarkan kaki kiri menggantung di atas pedal rem akan membuat otot paha dan pinggang menjadi lebih cepat lelah saat perjalanan jauh.

Selain masalah kenyamanan, kaki kiri yang berada di atas footrest bertindak sebagai penopang tubuh utama saat mobil melakukan manuver tajam atau pengereman mendadak. Jika kaki kiri justru berada di atas pedal rem, pengemudi akan kehilangan titik tumpu fisik yang kokoh untuk mempertahankan posisi duduk. Akibatnya, kendali terhadap roda kemudi atau setir menjadi tidak stabil dan memperbesar risiko kecelakaan fatal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More