Ilustrasi servis di bengkel resmi Suzuki (Dok. Suzuki)
Ada satu alasan lain yang membuat diler tetap relevan, yakni layanan setelah mobil dibeli.
Mobil membutuhkan perawatan berkala, pemeriksaan, perbaikan, hingga penggantian suku cadang. Kebutuhan tersebut tetap membutuhkan bengkel fisik dengan teknisi, peralatan diagnostik, serta ketersediaan komponen yang sesuai.
Kedekatan jaringan bengkel resmi juga bisa menjadi pertimbangan ketika konsumen memilih merek. Sebab, kendaraan akan digunakan dalam jangka panjang dan kebutuhan terhadap layanan purnajual tidak berhenti setelah serah terima.
Di sisi lain, digitalisasi justru bisa membuat hubungan antara konsumen dan diler menjadi lebih praktis. Konsumen tidak harus selalu datang langsung untuk melakukan kebutuhan administratif atau mencari informasi layanan.
Suzuki Indomobil Sales (SIS), misalnya, menyediakan aplikasi MySuzuki yang memungkinkan pelanggan melakukan sejumlah kebutuhan seperti membuat jadwal servis, memantau status kendaraan, mendapatkan pengingat servis, mencari diler terdekat, hingga membeli suku cadang resmi.
“Melalui aplikasi ini, pelanggan bisa memesan jadwal servis, memantau status kendaraan, menerima pengingat servis otomatis, mencari diler terdekat, membeli suku cadang resmi, hingga mengumpulkan poin yang bisa ditukar potongan harga servis. Namun, pengerjaan kendaraan tetap berlangsung di bengkel resmi,” ujar Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra, Selasa (6/10/2026).