Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Kabin Mobil Terlalu Kedap Justru Bikin Ngantuk?

Benarkah Kabin Mobil Terlalu Kedap Justru Bikin Ngantuk?
ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kabin mobil yang terlalu kedap suara dapat mengurangi rangsangan auditori alami, membuat otak kehilangan stimulus penting dan memicu rasa kantuk pada pengemudi.
  • Suasana kabin yang terlalu sunyi memperparah fenomena hipnosis jalan raya, di mana pengemudi bisa melamun karena kombinasi suara monoton dan visual jalan yang seragam.
  • Sirkulasi udara yang minim dalam kabin rapat meningkatkan kadar karbon dioksida, menurunkan oksigen ke otak, dan menyebabkan gejala seperti menguap serta kelelahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kenyamanan berkendara sering kali diukur dari seberapa tenang suasana di dalam kabin mobil. Pabrikan otomotif berlomba-lomba menyematkan peredam suara berkualitas tinggi guna meminimalkan bising jalanan, gesekan ban, dan deru mesin agar perjalanan terasa lebih eksklusif.

Namun, ruangan yang terlalu senyap ternyata menyimpan efek samping yang jarang disadari oleh para pengemudi. Alih-alih meningkatkan fokus, kabin mobil yang tingkat kekedapannya terlalu tinggi justru berpotensi memicu rasa kantuk yang datang lebih cepat.

1. Hilangnya rangsangan sensorik auditori yang menjaga kewaspadaan otak

Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)

Otak manusia membutuhkan stimulus atau rangsangan dari lingkungan sekitar secara konstan agar tetap berada dalam kondisi terjaga dan waspada. Suara-suara frekuensi rendah dari luar kendaraan, seperti desiran angin atau gemuruh ban, sebenarnya berfungsi sebagai pengingat bawah sadar bahwa tubuh sedang bergerak dalam kecepatan tinggi. Ketika suara-suara alami ini diredam secara total oleh lapisan kabin yang terlalu kedap, otak kehilangan pasokan stimulus penting tersebut.

Suasana yang terlalu sepi di dalam kabin akan menciptakan efek menenangkan yang mirip dengan kondisi menjelang tidur. Tanpa adanya gangguan suara dari luar, kerja saraf pusat akan melambat dan memicu pelepasan hormon yang membuat tubuh menjadi rileks secara berlebihan. Kondisi penurunan aktivitas otak ini menjadi pintu masuk utama bagi rasa kantuk yang datang secara perlahan tanpa disadari oleh pengemudi.

2. Fenomena hipnosis jalan raya akibat suara monoton yang konstan

ilustrasi jendela mobil (unsplash.com/Julian Hochgesang)
ilustrasi jendela mobil (unsplash.com/Julian Hochgesang)

Kabin yang sangat kedap juga rentan memperparah fenomena psikologis berkendara yang dikenal dengan istilah highway hypnosis atau hipnosis jalan raya. Saat melaju di jalan bebas hambatan yang lurus, pengemudi hanya akan mendengarkan suara AC yang konstan atau musik berirama tenang. Kombinasi antara visual jalan yang monoton dan suara internal yang seragam ini bertindak layaknya metode relaksasi pikiran.

Suara yang terlalu sunyi justru membuat pengemudi masuk ke dalam kondisi setengah sadar atau melamun dengan mata tetap terbuka. Pikiran akan mudah teralih dari situasi lalu lintas di depan karena tidak ada kejutan suara eksternal yang memutus kejenuhan tersebut. Akibatnya, waktu respons motorik terhadap bahaya akan menurun drastis karena kesadaran penuh pengemudi telah terbuai oleh keheningan kabin.

3. Akumulasi gas karbon dioksida di dalam ruang kabin yang terlalu rapat

Ilustrasi wantia naik mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wantia naik mobil (freepik.com/freepik)

Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah masalah sirkulasi udara di dalam kabin mobil yang dirancang sangat rapat demi mengejar kekedapan suara. Ketika fitur resirkulasi AC diaktifkan secara terus-menerus tanpa adanya pertukaran udara segar dari luar, kadar oksigen di dalam kabin akan menurun. Sebaliknya, gas karbon dioksida atau $CO_2$ hasil embusan napas dari seluruh penumpang akan terperangkap dan terus meningkat kadarnya.

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida di dalam ruang tertutup berdampak langsung pada penurunan suplai oksigen ke otak. Kondisi kekurangan oksigen ringan ini bermanifestasi secara fisik berupa gejala sakit kepala ringan, sering menguap, dan rasa lelah yang luar biasa. Oleh karena itu, sesekali membuka kaca jendela mobil selama beberapa detik sangat disarankan untuk mengembalikan kesegaran udara di dalam kabin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More