Benarkah Musik Keras Memperlambat Refleks Saat Berkendara?

- Kompetisi kognitif antara indra pendengaran dan fokus visual
- Pengaruh tempo musik terhadap detak jantung dan gaya mengemudi
- Hilangnya isyarat auditori dari lingkungan luar kendaraan
Mendengarkan musik favorit saat menempuh perjalanan jauh sering kali dianggap sebagai cara paling ampuh untuk mengusir rasa kantuk dan kebosanan. Namun, volume suara yang terlalu kencang di dalam kabin kendaraan dapat menciptakan isolasi sensorik yang memisahkan pengemudi dari kondisi nyata di jalan raya, sehingga potensi bahaya sering kali terlambat disadari.
Berbagai penelitian di bidang psikologi transportasi menunjukkan adanya kaitan erat antara intensitas suara dengan kecepatan reaksi manusia dalam mengambil keputusan darurat. Musik dengan volume tinggi bukan sekadar hiburan, melainkan stimulus kuat yang mampu membebani kapasitas kerja otak, yang pada akhirnya dapat mengompromikan keselamatan seluruh penumpang.
1. Kompetisi kognitif antara indra pendengaran dan fokus visual

Otak manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi yang datang secara bersamaan dari saluran sensorik yang berbeda. Ketika musik diputar dengan volume yang sangat keras, sistem saraf pusat akan memberikan perhatian besar untuk memproses rangsangan audio tersebut. Hal ini menciptakan fenomena yang disebut dengan beban kognitif tinggi, di mana sumber daya otak yang seharusnya dialokasikan untuk memantau pergerakan lalu lintas justru terbagi untuk merespons ritme dan lirik lagu.
Akibatnya, koordinasi antara mata dan tangan menjadi kurang sinkron. Pengemudi yang terpapar musik keras cenderung mengalami penurunan kewaspadaan terhadap perubahan kecil di lingkungan sekitar, seperti kendaraan yang tiba-tiba berpindah jalur atau lampu lalu lintas yang berubah warna. Gangguan konsentrasi ini membuat otak membutuhkan waktu sepersekian detik lebih lama untuk menerjemahkan informasi visual menjadi tindakan fisik, seperti menginjak pedal rem atau memutar kemudi.
2. Pengaruh tempo musik terhadap detak jantung dan gaya mengemudi

Selain volume, tempo atau detak per menit (BPM) dari musik yang didengarkan juga memengaruhi perilaku berkendara secara bawah sadar. Musik dengan tempo cepat dan suara keras cenderung meningkatkan detak jantung dan tekanan darah pengemudi. Kondisi fisiologis ini sering kali memicu pengemudi untuk menginjak pedal gas lebih dalam tanpa disadari, seolah-olah ritme berkendara harus mengikuti tempo lagu yang sedang diputar.
Peningkatan kegembiraan atau gairah (arousal) yang berlebihan ini dapat mengaburkan penilaian terhadap risiko. Pengemudi menjadi lebih agresif dan kurang sabar dalam menghadapi kemacetan. Dalam kondisi jantung yang berdegup kencang karena pengaruh audio, refleks yang dihasilkan cenderung menjadi lebih kasar dan tidak terukur. Hal ini sangat berbahaya saat berada dalam situasi kritis yang membutuhkan ketenangan serta akurasi gerak untuk menghindari kecelakaan.
3. Hilangnya isyarat auditori dari lingkungan luar kendaraan

Satu hal yang sering terlupakan adalah peran penting indra pendengaran dalam mendeteksi bahaya sebelum mata melihatnya. Suara klakson kendaraan lain, sirine mobil ambulans, atau decit ban dari mobil di jalur sebelah merupakan isyarat auditori vital yang memberikan peringatan dini bagi pengemudi. Ketika kabin mobil dipenuhi oleh suara musik yang menggelegar, suara-suara peringatan dari luar ini akan teredam sepenuhnya atau mengalami maskara suara (sound masking).
Tanpa masukan audio dari luar, pengemudi kehilangan salah satu sistem pertahanan alaminya. Keterlambatan dalam mendengar suara peringatan ini secara otomatis memperpendek waktu reaksi yang tersedia untuk menghindari benturan. Membatasi volume musik agar suara luar tetap terdengar merupakan langkah krusial untuk menjaga agar refleks tetap tajam. Kesadaran situasional yang utuh hanya dapat dicapai jika semua indra bekerja secara harmonis tanpa ada satu stimulus yang mendominasi secara berlebihan.


















