Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Mitos: Ini Alasan Melaju di Jalan Beton Terasa Lebih Melelahkan
ilustrasi sopir yang taksadar sambil menyetir (freepik.com/user18526052)

Perjalanan jauh melintasi jalan tol berkonstruksi beton sering kali menyisakan rasa pegal dan kaku yang luar biasa pada area punggung bawah. Banyak pengemudi mengira rasa lelah ini murni disebabkan oleh durasi duduk yang terlalu lama di dalam kabin mobil.

Namun, rasa tidak nyaman ini sebenarnya dipicu oleh faktor eksternal dari karakteristik material jalanan yang dilewati. Ada alasan ilmiah mengapa permukaan beton jauh lebih kejam terhadap kesehatan pinggang manusia dibandingkan dengan jalan beraspal biasa.

1. Karakteristik material kaku yang menolak meredam getaran roda

ilustrasi sopir travel (pexels.com/Tobi)

Jalan aspal memiliki sifat viskoelastis, yang berarti material tersebut memiliki tingkat kelenturan alami untuk sedikit berubah bentuk saat menerima beban berat dan kembali ke posisi semula. Kelenturan ini membuat aspal bertindak sebagai peredam kejut lapis pertama yang menyerap sebagian besar energi benturan dari perputaran roda mobil. Sebaliknya, jalan beton dibangun sebagai struktur kaku yang tidak memiliki fleksibilitas sama sekali saat menerima tekanan dari atas.

Ketika roda kendaraan menghantam permukaan beton, seluruh energi kinetik dari benturan tersebut tidak diserap oleh jalan, melainkan dipantulkan kembali secara utuh ke arah atas. Energi pantulan ini merambat naik melewati sistem suspensi mobil, menembus lantai kabin, hingga akhirnya diterima oleh kerangka jok tempat duduk. Beban kejut yang konstan dan tidak terfilter ini pada akhirnya harus diredam secara paksa oleh struktur tulang belakang dan otot pinggang pengemudi.

2. Frekuensi getaran mikro yang memicu kelelahan otot secara konstan

ilustrasi sopir yang hilang fokus (freepik.com/pch.vector)

Permukaan beton jalan tol umumnya tidak pernah benar-benar rata, melainkan memiliki pola garis-garis kasar atau sambungan antarlempengan yang berulang setiap beberapa meter. Kontur jalan yang tidak rata ini menciptakan getaran mikro dengan frekuensi tertentu yang merambat terus-menerus ke dalam tubuh selama berkendara. Otak manusia mendeteksi getaran ini sebagai ketidakstabilan posisi tubuh yang harus segera diantisipasi untuk menjaga keseimbangan.

Secara tidak sadar, otot-otot di sekitar pinggang dan punggung bawah akan berkontraksi secara berulang untuk menahan posisi tubuh agar tetap tegak di atas jok. Proses kontraksi mikro yang terjadi ribuan kali dalam hitungan jam ini memaksa otot bekerja ekstra keras tanpa adanya waktu istirahat sejenak pun. Akibatnya, pasokan oksigen ke jaringan otot berkurang, asam laktat menumpuk dengan cepat, dan memicu rasa pegal yang mendalam pada area pinggang.

3. Dampak sambungan ekspansi terhadap bantalan tulang belakang

ilustrasi sopir (unsplash.com/@whykei)

Setiap beberapa meter, konstruksi jalan beton selalu menyisakan celah pembatas yang dinamakan sambungan ekspansi untuk mengantisipasi pemuaian cuaca. Setiap kali ban mobil melewati sambungan ini, kabin akan menerima guncangan vertikal mendadak yang menghasilkan bunyi ketukan khas yang ritmis. Guncangan vertikal ini merupakan musuh utama bagi kesehatan cakram atau bantalan pelindung di antara ruas tulang belakang manusia.

Bantalan tulang belakang di area pinggang berfungsi seperti pegas yang menahan beban tubuh dari guncangan atas dan bawah. Hantaman vertikal yang berulang dari sambungan beton memaksa bantalan ini terus-menerus terkompresi melampaui batas kenyamanan normalnya. Tekanan berulang yang terjadi dalam jangka waktu panjang ini tidak hanya menyebabkan kelelahan fisik yang instan, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya cedera saraf terjepit di area punggung bawah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article