Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Mobil Listrik Lebih Mudah Memicu Mual di Perjalanan?

Mengapa Mobil Listrik Lebih Mudah Memicu Mual di Perjalanan?
ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Torsi instan dan pengereman regeneratif pada mobil listrik menciptakan dorongan serta perlambatan mendadak yang mengacaukan sistem keseimbangan tubuh, memicu rasa mual bagi penumpang.
  • Kabin mobil listrik yang terlalu senyap menghilangkan suara dan getaran mesin sebagai jangkar sensorik otak, menyebabkan ketidaksesuaian antara persepsi visual dan sensasi gerak tubuh.
  • Gelombang frekuensi rendah dari komponen elektronik mobil listrik menimbulkan tekanan fisik halus pada tubuh, memperparah gejala seperti pusing dan mual selama perjalanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah merasakan tubuh mendadak lemas, pusing, hingga mual yang tidak tertahankan saat pertama kali menjadi penumpang di dalam mobil listrik (EV)? Fenomena ini bukan sekadar sugesti atau perasaan cemas yang berlebihan karena menaiki teknologi baru. Mabuk perjalanan atau motion sickness di dalam kabin mobil listrik adalah sebuah realita medis yang dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.

Meskipun mobil listrik menawarkan kenyamanan berupa kabin yang senyap dan bebas dari getaran mesin konvensional, karakteristik mekanisnya justru menjadi tantangan tersendiri bagi tubuh manusia. Ada alasan ilmiah yang konkret mengapa sistem navigasi tubuh menjadi kacau saat berada di dalam kendaraan masa depan ini. Berikut adalah faktor-faktor utama yang menjadi penyebab di balik munculnya rasa mual tersebut.

1. Efek kejut torsi instan dan sistem pengereman regeneratif

Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)

Mobil listrik tidak memiliki jeda transmisi seperti mobil berbahan bakar bensin, sehingga mampu menghasilkan torsi instan yang membuat mobil melesat sangat cepat dalam hitungan detik. Sensasi akselerasi yang tiba-tiba ini sering kali membuat tubuh terhentak ke belakang tanpa adanya persiapan visual yang cukup dari mata. Akselerasi linier yang terlalu agresif ini memberikan tekanan mendadak pada sistem keseimbangan di telinga dalam.

Kondisi ini diperparah oleh fitur pengereman regeneratif (regenerative braking) yang berfungsi mengisi ulang daya baterai saat pedal gas dilepas. Ketika pengemudi mengangkat kaki dari pedal gas, mobil listrik akan melambat secara signifikan dengan efek seperti mengerem mendadak secara konstan. Pola berkendara yang penuh dengan dorongan maju instan dan perlambatan mendadak ini menciptakan gerakan mengayun berulang yang sangat cepat memicu rasa mual bagi penumpang.

2. Kabin yang terlalu senyap merusak jangkar sensorik otak

ilustrasi naik mobil pribadi (unsplash.com/Andraz Lazic)
ilustrasi naik mobil pribadi (unsplash.com/Andraz Lazic)

Mabuk perjalanan pada dasarnya terjadi karena adanya ketidakselarasan informasi antara apa yang dilihat oleh mata dan apa yang dirasakan oleh tubuh. Di dalam mobil konvensional, suara raungan mesin dan getaran sasis menjadi petunjuk bawah sadar bagi otak untuk memprediksi seberapa cepat kendaraan bergerak. Komponen suara dan getaran ini berfungsi sebagai jangkar sensorik yang menyelaraskan persepsi tubuh dengan realita pergerakan di luar.

Ketika berada di dalam mobil listrik, lingkungan kabin menjadi sangat senyap karena ketiadaan mesin pembakaran dalam. Hilangnya distorsi suara dan getaran frekuensi rendah ini membuat otak kehilangan salah satu sumber informasi utamanya untuk menerjemahkan kecepatan. Akibatnya, saat mata melihat pemandangan luar bergerak cepat tetapi telinga dalam tidak merasakan getaran mesin, otak mengalami kebingungan sinyal yang berujung pada gejala mabuk darat.

3. Frekuensi rendah yang tidak terdengar tetapi dirasakan tubuh

Ilustrasi wantia naik mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wantia naik mobil (freepik.com/freepik)

Selain masalah kesenyapan, komponen elektronik pada mobil listrik seperti baterai besar, inverter, dan motor penggerak menghasilkan gelombang elektromagnetik dan suara frekuensi sangat rendah. Suara dengan frekuensi di bawah 20 Hz ini umumnya tidak dapat didengar oleh telinga manusia secara sadar, namun getaran gelombangnya tetap bisa merambat masuk ke dalam tubuh. Paparan gelombang frekuensi rendah yang konstan ini memiliki dampak psikologis dan fisik yang nyata.

Tubuh manusia merespons getaran frekuensi rendah ini dengan mengaktifkan sistem peringatan bahaya secara bawah sadar. Dampak yang paling sering dirasakan adalah tekanan aneh di dalam gendang telinga, sakit kepala ringan, hingga rasa tidak nyaman di area perut. Kombinasi antara gangguan frekuensi tak kasat mata ini dengan gerakan kinetik mobil yang tidak konstan menjadi pemicu akhir yang membuat pengalaman berkendara dengan mobil listrik terasa melelahkan bagi sebagian orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More