Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Mendeteksi Kerusakan Suspensi Mobil tanpa Harus ke Bengkel
ilustrasi seorang montir sedang memperbaiki kaki-kaki mobil (pexels.com/Artem Podrez)
  • Sistem suspensi mobil bisa dicek sendiri di rumah tanpa alat khusus, cukup dengan metode tekan-lepas pada bodi kendaraan untuk melihat reaksi pantulannya.
  • Jika bodi hanya memantul sekali lalu diam, suspensi masih sehat; namun jika berayun lebih dari dua kali, berarti peredam kejut rusak atau kehilangan oli.
  • Membiarkan suspensi rusak dapat menurunkan daya cengkeram ban, memperpanjang jarak pengereman, serta mempercepat keausan komponen lain seperti ban dan per.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sistem suspensi kendaraan sering kali diabaikan sampai gejalanya sudah parah dan mengganggu kenyamanan berkendara. Banyak pemilik kendaraan baru menyadari adanya kerusakan setelah mendengar bunyi jedug yang keras atau saat mobil terasa limbung di tikungan. Padahal, mendeteksi kesehatan komponen peredam kejut ini tidak selalu membutuhkan peralatan canggih atau pembongkaran bodi yang rumit di bengkel.

Sebenarnya ada sebuah cara sederhana yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah dalam waktu kurang dari lima menit. Metode ini sangat efektif untuk mengetahui apakah komponen peredam kejut masih berfungsi dengan baik atau sudah aus. Cukup dengan memanfaatkan berat tubuh dan kepekaan visual, kondisi kelayakan komponen ini bisa langsung diketahui saat itu juga.

1. Langkah melakukan uji tekan lepas pada kendaraan

ilustrasi seorang teknisi sedang memperbaiki kaki-kaki mobil (pexels.com/Malte Luk)

Proses pengujian bisa dimulai dengan memarkir kendaraan di permukaan jalan yang rata dan keras. Untuk kendaraan roda empat, posisi ideal untuk menekan adalah pada bagian atas spakbor atau area kap yang cukup kokoh. Sementara untuk kendaraan roda dua, pengujian bisa dilakukan dengan menekan bagian buritan atau behel belakang motor ke arah bawah menggunakan kedua tangan dengan sekuat tenaga.

Setelah kendaraan ditekan ke bawah secara maksimal, lepaskan tekanan tangan secara mendadak dan biarkan bodi kendaraan kembali ke posisi semula. Kunci dari pengujian ini adalah memperhatikan dengan saksama bagaimana reaksi bodi kendaraan setelah tekanan dilepaskan. Gerakan pantulan yang dihasilkan oleh bodi kendaraan inilah yang menjadi indikator utama untuk membaca kondisi kesehatan sistem peredaman.

2. Cara membaca hasil pantulan bodi kendaraan

ilustrasi bengkel tempat servis kaki-kaki mobil (pexels.com/cottonbro studio)

Pada sistem suspensi yang sehat, bodi kendaraan seharusnya hanya memantul ke atas satu kali lalu langsung kembali diam ke posisi normal. Peredam kejut yang prima akan langsung meredam energi kinetik yang dihasilkan oleh per spiral saat menerima tekanan. Jika bodi kendaraan langsung berhenti tanpa ada ayunan tambahan, maka sistem peredaman dipastikan masih bekerja secara optimal.

Sebaliknya, jika bodi kendaraan mengayun naik dan turun lebih dari dua kali seperti odong-odong, itu adalah tanda mutlak adanya kerusakan. Ayunan yang berlebih menunjukkan bahwa komponen peredam kejut sudah mati total atau kehilangan oli peredam di dalamnya. Kondisi ini membuat kendaraan hanya mengandalkan daya elastisitas dari per saja tanpa ada penahan daya kejut sama sekali.

3. Dampak buruk membiarkan peredam kejut yang mati

Ilustrasi kaki-kaki mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Membiarkan kendaraan berjalan hanya dengan mengandalkan pantulan per sangat berbahaya bagi keselamatan berkendara. Tanpa adanya fungsi peredaman, ban kendaraan akan sering kehilangan kontak dengan permukaan jalan, terutama saat melewati jalanan yang bergelombang atau berlubang. Kondisi ini akan membuat daya cengkeram ban menurun drastis dan memperpanjang jarak pengereman kendaraan secara signifikan.

Selain masalah keselamatan, kerusakan ini juga akan mempercepat keausan komponen kendaraan yang lain dalam jangka pendek. Ban mobil atau motor akan mengalami aus yang tidak merata atau botak sebelah karena menerima beban kejut yang tidak stabil. Oleh karena itu, melakukan pengecekan mandiri secara berkala dengan metode sederhana ini sangat penting demi kenyamanan dan keselamatan di perjalanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article