Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bahaya Engine Flush Terlalu Sering, Bikin Mesin Mobil Menipis

Bahaya Engine Flush Terlalu Sering, Bikin Mesin Mobil Menipis
Ilustrasi Mesin Mobil Tetap Awet Muda (pexels.com/Jose Richardo)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Penggunaan engine flush terlalu sering dapat merusak sil karet dan paking mesin karena paparan zat kimia keras yang membuat material cepat getas dan menyebabkan kebocoran oli.
  • Pembersihan berlebihan pada mesin tua bisa memicu rontokan kerak besar yang menyumbat jalur oli, menghambat pelumasan, dan berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada komponen mesin.
  • Cairan pembersih yang digunakan terlalu sering dapat mengikis lapisan pelindung logam serta menurunkan efektivitas aditif oli baru, sehingga mempercepat keausan komponen mesin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Perawatan ruang bakar dan sistem pelumasan merupakan kunci utama untuk menjaga performa mesin kendaraan tetap optimal dalam jangka panjang. Salah satu metode perawatan tambahan yang sering ditawarkan oleh bengkel saat jadwal ganti oli adalah prosedur engine flush.

Metode ini mengandalkan cairan kimia khusus untuk merontokkan kerak dan endapan lumpur oli di dalam mesin sebelum pelumas lama dikuras. Namun, melakukan pembersihan intensif ini terlalu sering atau pada setiap jadwal ganti oli justru dapat memicu dampak buruk yang merugikan.

1. Kerusakan dini pada komponen sil karet dan paking penyekat mesin

ilustrasi mengecek mesin mobil
ilustrasi mengecek mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Cairan pembersih internal mesin umumnya dirancang menggunakan formulasi senyawa pelarut atau solven kimia yang memiliki sifat sangat keras. Zat kimia ini bekerja secara agresif untuk mengikis serta melarutkan kotoran karbon membandel yang menempel di dinding logam. Masalah akan timbul ketika zat kimia keras ini terlalu sering bersentuhan dengan komponen non-logam di dalam mesin.

Komponen penyekat seperti sil karet, paking, dan segel oli yang terus-menerus terpapar cairan solven akan kehilangan elastisitas alaminya. Akibatnya, material karet tersebut akan cenderung menjadi cepat mengeras, getas, dan akhirnya retak atau robek. Kerusakan pada sistem penyekat ini akan memicu masalah baru berupa kebocoran oli di berbagai titik krusial yang membutuhkan biaya perbaikan besar.

2. Risiko rontoknya kerak secara masif yang menyumbat jalur sirkulasi oli

ilustrasi mesin mobil Subaru STI
ilustrasi mesin mobil Subaru STI (unsplash.com/Nathan Marquardt)

Melakukan pengurasan kimiawi secara berlebihan pada mesin yang sudah berumur atau memiliki riwayat perawatan buruk dapat menjadi bumerang. Cairan kimia yang kuat akan merontokkan kerak hitam atau sludge dalam ukuran yang cukup besar secara sekaligus dari dinding mesin. Serpihan kotoran yang terlepas ini tidak selalu dapat larut sepenuhnya menjadi cairan yang encer.

Gumpalan kerak keras yang mengapung di dalam bak penampungan berpotensi besar terisap dan menyumbat saringan oli atau jalur sirkulasi mikro. Ketika jalur pelumasan tersumbat, aliran oli menuju bagian atas mesin seperti poros nok dan katup akan terhenti seketika. Kegagalan pelumasan total ini dapat menyebabkan komponen saling bergesekan tanpa pelindung hingga memicu mesin macet dan rusak permanen.

3. Pengikisan lapisan pelindung logam dan penurunan fungsi aditif oli baru

ilustrasi mesin mobil
ilustrasi mesin mobil (pexels.com/Sergey Meshkov)

Di dalam ruang mesin, terdapat lapisan film pelindung tipis yang terbentuk secara alami oleh aditif oli untuk melindungi gesekan antarlogam. Penggunaan cairan pembersih yang terlalu sering akan mengikis habis lapisan pelindung tersebut hingga membuat permukaan komponen menjadi sangat kering. Kondisi kering ini meningkatkan risiko keausan dini pada piston dan dinding silinder saat mesin pertama kali dinyalakan setelah dikuras.

Selain itu, sisa-sisa cairan kimia pembersih sering kali tidak dapat terbuang seluruhnya dan tetap tertinggal di sela-sela mesin. Sisa cairan solven yang terperangkap ini akan langsung bercampur dan merusak struktur kimia dari oli baru yang dimasukkan. Aditif penting di dalam oli baru, seperti zat antikarat dan peningkat viskositas, akan mengalami penurunan fungsi secara drastis sebelum waktunya bekerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More