China Perketat Regulasi Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

Pemerintah China secara resmi menerbitkan aturan ketat bertajuk "Langkah-Langkah Sementara untuk Pengelolaan Daur Ulang dan Pemanfaatan Komprehensif Baterai Bekas Kendaraan Listrik". Regulasi yang mulai berlaku pada 1 April 2026 ini mewajibkan baterai tetap berada di dalam kendaraan saat proses pembongkaran awal guna menjamin keamanan dan efisiensi pengolahan limbah energi.
Langkah strategis ini diambil sebagai respon atas pesatnya pertumbuhan industri otomotif listrik yang diprediksi akan menghasilkan satu juta ton baterai bekas pada tahun 2030. Dengan nilai pasar yang mencapai ratusan miliar yuan, kebijakan ini menjadi fondasi penting bagi China untuk memimpin ekonomi sirkular global sekaligus memitigasi risiko lingkungan yang diakibatkan oleh limbah baterai berskala besar.
1. Sistem pelacakan digital sepanjang siklus hidup baterai

Pusat dari regulasi baru ini adalah pembangunan platform informasi nasional oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT). Platform ini dirancang untuk melacak setiap unit baterai sepanjang siklus hidupnya, mulai dari tahap produksi, penjualan, perbaikan, hingga proses pembongkaran dan pemanfaatan akhir. Setiap baterai wajib memiliki identitas unik sesuai standar GB/T 34014 agar alirannya tidak hilang dari pengawasan regulator.
Melalui sistem pelacakan ini, produsen dan importir diwajibkan melaporkan informasi teknis serta data penjualan dalam jangka waktu yang sangat ketat setelah produk mendapatkan sertifikasi. Hal ini bertujuan untuk menutup celah pasar gelap baterai bekas dan memastikan bahwa setiap komponen baterai yang habis masa pakainya kembali ke pusat daur ulang yang sah secara hukum.
2. Tanggung jawab penuh produsen dalam ekosistem daur ulang

Aturan ini menggarisbawahi prinsip tanggung jawab produsen yang diperluas. Setiap produsen maupun importir baterai dan kendaraan energi baru wajib mendirikan stasiun layanan daur ulang di setiap wilayah tempat produk mereka dipasarkan. Mereka juga bertanggung jawab untuk mempublikasikan kontak stasiun layanan tersebut dan menerima kembali semua baterai bekas dari konsumen tanpa terkecuali.
Selain itu, para pemain industri didorong untuk menggunakan bahan baku yang rendah tingkat toksisitasnya namun mudah untuk didaur ulang sejak tahap manufaktur. Perusahaan jasa perawatan dan penukaran baterai pun tidak boleh sembarangan membuang limbah; mereka harus menyerahkan baterai bekas kepada perusahaan pemanfaatan komprehensif yang telah disetujui pemerintah atau pusat daur ulang resmi milik produsen kendaraan.
3. Standarisasi teknologi dan efisiensi pemulihan material berharga

China telah menunjukkan kemajuan teknologi yang luar biasa dalam memulihkan material baterai, di mana beberapa perusahaan lokal dilaporkan mampu memulihkan hingga 96,5 persen litium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan. Standar baru ini akan semakin memperkuat pencapaian tersebut melalui standarisasi proses pembongkaran yang selama ini mahal dan berisiko tinggi akibat desain baterai yang tidak seragam di pasar.
Dengan adanya komite teknis nasional yang mengawal standarisasi ini, China berupaya menurunkan biaya operasional daur ulang sekaligus meningkatkan keamanan dari risiko kebakaran. Pengaturan yang lebih tertib ini diharapkan mampu menjaga dominasi China di industri baterai dunia, mengingat daur ulang baterai bukan hanya masalah kelestarian ekologis, tetapi juga merupakan industri padat modal yang sangat strategis bagi ketahanan energi nasional.


















