Ford Gandeng BYD Perkuat Lini Kendaraan Hybrid

Ford Motor Company dilaporkan tengah berada dalam tahap negosiasi intensif dengan raksasa otomotif Tiongkok, BYD, untuk mengamankan pasokan baterai bagi model-model hybrid masa depan. Langkah strategis ini mencerminkan perubahan arah Ford yang kini lebih memprioritaskan teknologi powertrain campuran dibandingkan kendaraan listrik murni demi menghadapi dinamika pasar global yang sedang berubah.
Kemitraan potensial ini mempertimbangkan pengiriman baterai dari BYD ke fasilitas manufaktur Ford di luar Amerika Serikat, guna memanfaatkan keunggulan biaya dan teknologi mutakhir yang dimiliki produsen Tiongkok tersebut. Melalui kolaborasi ini, Ford berharap dapat mempercepat ambisi transisinya di mana kendaraan hybrid dan plug-in hybrid diproyeksikan menyumbang setengah dari penjualan globalnya pada tahun 2030.
1. Pergeseran prioritas dari listrik murni ke mesin hybrid

Keputusan Ford untuk mendekati BYD sejalan dengan revisi strategi perusahaan yang baru-baru ini diumumkan. Setelah menghadapi tantangan berupa melambatnya permintaan kendaraan listrik murni (Electric Vehicle), Ford memutuskan untuk mengurangi investasi pada segmen tersebut dan menanggung biaya penyesuaian strategi hingga 19,5 miliar USD. Sebagai gantinya, Ford berencana memperluas jajaran kendaraan berbahan bakar bensin dan meningkatkan pilihan model hybrid secara signifikan.
Penjualan kendaraan hybrid Ford menunjukkan momentum yang sangat positif, dengan peningkatan sebesar 18 persen pada kuartal keempat tahun lalu. Untuk mempertahankan pertumbuhan ini, Ford membutuhkan pasokan baterai yang stabil dan efisien yang dirancang khusus untuk sistem hybrid. Teknologi baterai BYD dianggap sebagai solusi ideal karena rekam jejak mereka yang kuat dalam memproduksi sel baterai yang andal bagi kendaraan energi baru di berbagai pasar dunia.
2. Memanfaatkan teknologi baterai blade dan keunggulan biaya BYD

BYD bukan sekadar produsen mobil, melainkan kekuatan manufaktur baterai global yang pertumbuhan pengirimannya mencapai 47 persen pada tahun lalu. Dengan kapasitas produksi yang mencapai 286 gigawatt-hours, BYD menawarkan skala ekonomi yang sulit ditandingi oleh kompetitor lain. Akses terhadap teknologi baterai dari anak perusahaan BYD, FinDreams, akan memberikan Ford keunggulan kompetitif dalam hal efisiensi harga dan performa baterai di pasar Asia Tenggara, Eropa, hingga Brasil.
Menariknya, Ford sebenarnya sudah memiliki hubungan dasar dengan BYD sejak tahun 2020 melalui usaha patungan di Tiongkok bersama Changan. Hubungan ini terus berkembang hingga peluncuran Ford Bronco PHEV terbaru yang sudah mulai menggunakan teknologi baterai dari anak perusahaan BYD. Kesepakatan baru yang sedang dinegosiasikan ini akan memperluas jangkauan kolaborasi tersebut ke lebih banyak model dan wilayah produksi di luar pasar domestik Tiongkok.
3. Ekspansi kapasitas produksi baterai di pasar internasional

Meskipun BYD memiliki basis produksi utama di Tiongkok, mereka sedang giat memperluas fasilitas manufaktur di luar negeri. Hal ini menjadi kunci penting bagi Ford yang ingin mengirimkan baterai tersebut ke pabrik-pabrik global mereka tanpa sepenuhnya bergantung pada rantai pasok Amerika Serikat yang sering terkendala regulasi ketat. Hingga saat ini, BYD memang belum memproduksi baterai kendaraan penumpang di AS, namun ekspansi mereka di kawasan lain memberikan fleksibilitas bagi Ford dalam mengatur logistik produksi global.
Dengan mengamankan kemitraan ini, Ford dapat menstabilkan operasionalnya di tengah pembatalan kontrak baterai dengan pihak lain, seperti pembatalan kontrak senilai Rp108 triliun dengan LG Energy Solution. Kemitraan dengan BYD memberikan kepastian pasokan bagi Ford untuk terus berinovasi pada lini kendaraan hybrid yang kini menjadi tulang punggung baru perusahaan dalam menjaga keuntungan sekaligus memenuhi standar emisi global yang semakin ketat di masa depan.


















