ilustrasi mobil terbakar (pixabay.com/Oskars Zvejs)
Risiko lain adalah munculnya kembali api atau asap setelah kebakaran tampak terkendali. Hal ini dapat terjadi apabila masih ada sel baterai yang menyimpan panas atau mengalami kerusakan internal. Sel tersebut berpotensi melanjutkan reaksi berantai dan memicu kebakaran kembali, bahkan setelah kendaraan tidak lagi mengeluarkan nyala api yang jelas.
Karena itu, penanganan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Petugas perlu memantau suhu baterai, mengantisipasi penyalaan ulang, dan mengikuti prosedur penanganan kendaraan yang baterainya rusak. Mobil juga mungkin perlu ditempatkan di area terpisah sesuai arahan petugas agar risiko terhadap lingkungan sekitar dapat dikendalikan. Penanganan lanjutan sebaiknya dilakukan oleh tim terlatih, bukan pemilik kendaraan sendiri.
Kesimpulannya, kebakaran baterai litium-ion sulit dipadamkan karena dapat memicu thermal runaway, menyimpan panas di bagian dalam paket baterai, dan mengalami penyalaan ulang. Meski begitu, risiko tersebut bukan berarti mobil listrik pasti lebih berbahaya dalam setiap situasi. Pemahaman tentang karakteristik baterai dan penanganan yang tepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak kebakaran.