Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos vs Fakta: Mengisi Baterai Mobil Listrik Gak Boleh Sampai 100 Persen

ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
Intinya sih...
  • Ketegangan kimiawi pada kapasitas maksimal Baterai lithium-ion bekerja dengan cara memindahkan ion antara katoda dan anoda.
  • Peran sistem manajemen baterai dan cadangan kapasitas Perlu dipahami bahwa produsen mobil listrik sebenarnya telah mengantisipasi risiko pengisian penuh melalui sistem yang disebut Battery Management System (BMS).
  • Strategi pengisian ideal untuk menjaga keawetan Banyak pakar otomotif dan produsen merekomendasikan batas pengisian harian antara 80 persen hingga 90 persen untuk penggunaan rutin di dalam kota.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Teknologi baterai pada kendaraan listrik telah mengalami kemajuan pesat, namun cara perawatan yang tepat masih sering menjadi perdebatan hangat di kalangan pemilik kendaraan. Banyak anggapan muncul bahwa kebiasaan mengisi daya hingga menyentuh angka 100 persen secara terus-menerus dapat memicu kerusakan permanen pada sel baterai.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang berkaitan dengan sifat kimiawi baterai lithium-ion yang digunakan pada mayoritas mobil listrik saat ini. Memahami batasan energi dan cara kerja sistem manajemen baterai menjadi kunci utama untuk memastikan kendaraan tetap memiliki performa optimal dalam jangka waktu yang panjang.

1. Ketegangan kimiawi pada kapasitas maksimal

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)
Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Baterai lithium-ion bekerja dengan cara memindahkan ion antara katoda dan anoda. Saat daya diisi hingga mencapai 100 persen, sel baterai berada dalam kondisi tegangan tinggi yang maksimal. Kondisi ini menciptakan tekanan fisik dan kimiawi pada komponen internal baterai. Jika baterai dibiarkan dalam keadaan penuh dalam waktu lama, terutama di lingkungan yang panas, struktur kimia di dalamnya dapat mengalami degradasi lebih cepat dibandingkan jika berada di level menengah.

Sama halnya dengan menjaga kondisi fisik pada usia 44 tahun, keseimbangan adalah hal yang krusial. Memaksakan baterai untuk selalu berada pada titik jenuh energi ibarat memaksa jantung bekerja pada detak maksimal tanpa henti. Ketegangan tinggi ini secara bertahap akan mengurangi kemampuan sel untuk menyimpan energi, yang pada akhirnya akan memperpendek usia pakai efektif baterai kendaraan sebelum waktunya.

2. Peran sistem manajemen baterai dan cadangan kapasitas

ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)
ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)

Perlu dipahami bahwa produsen mobil listrik sebenarnya telah mengantisipasi risiko pengisian penuh melalui sistem yang disebut Battery Management System (BMS). Secara teknis, angka 100 persen yang muncul pada layar dasbor seringkali bukanlah kapasitas fisik yang sebenarnya. Pabrikan biasanya menyisakan ruang cadangan atau buffer yang tidak bisa diakses guna melindungi sel baterai dari kerusakan akibat pengisian berlebih (overcharge).

Meskipun sistem proteksi ini sudah bekerja secara otomatis, kebiasaan pengguna tetap memegang peranan penting. Sistem tersebut berfungsi sebagai jaring pengaman, namun tidak menghilangkan sepenuhnya stres termal yang terjadi saat energi dipaksakan masuk ke ruang-ruang terakhir dalam sel. Oleh karena itu, mengikuti rekomendasi teknis untuk penggunaan harian tetap menjadi langkah preventif yang jauh lebih bijak daripada hanya mengandalkan perlindungan sistem komputer kendaraan.

3. Strategi pengisian ideal untuk menjaga keawetan

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Banyak pakar otomotif dan produsen merekomendasikan batas pengisian harian antara 80 persen hingga 90 persen untuk penggunaan rutin di dalam kota. Batas ini dianggap sebagai titik manis yang mampu meminimalkan degradasi sel tanpa mengorbankan jarak tempuh yang dibutuhkan untuk mobilitas harian. Pengisian hingga 100 persen sebaiknya hanya dilakukan saat kendaraan akan segera digunakan untuk perjalanan jarak jauh yang membutuhkan daya jelajah maksimal.

Selain membatasi level pengisian, menjaga baterai agar tidak sering menyentuh angka 0 persen juga sama pentingnya. Siklus pengisian yang ideal adalah menjaga daya tetap berada di rentang 20 persen hingga 80 persen. Dengan menerapkan pola ini, umur pakai baterai dapat bertahan jauh lebih lama, bahkan melampaui masa garansi yang diberikan oleh pabrikan. Perawatan yang disiplin akan memastikan investasi pada kendaraan listrik tetap bernilai tinggi di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

BYD Beri Sinyal Denza B5 Masuk Pasar Indonesia

16 Jan 2026, 11:34 WIBAutomotive