Mengapa Jalan Beraspal Gampang Terkelupas Saat Musim Hujan?

Guyuran hujan deras yang terus-menerus sering kali meninggalkan jejak kerusakan berupa lubang dan aspal yang terkelupas di berbagai ruas jalan. Fenomena ini bukan hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan yang bisa terjebak dalam lubang tersembunyi di balik genangan air.
Secara teknis, aspal memiliki kelemahan mendasar terhadap paparan air yang berlebihan dan dalam durasi yang lama. Kombinasi antara sifat kimiawi material jalan serta beban kendaraan yang melintas menjadi pemicu utama mengapa permukaan jalan yang semula mulus bisa hancur berantakan hanya dalam hitungan hari selama musim penghujan.
1. Proses pengelupasan akibat penetrasi air ke lapisan pori

Aspal merupakan campuran antara agregat (batu pecah dan pasir) dengan aspal cair yang berfungsi sebagai pengikat atau lem. Saat hujan turun, air akan masuk melalui pori-pori kecil atau retakan halus pada permukaan jalan. Masalah muncul ketika air tersebut mulai memisahkan ikatan antara aspal dengan batuan agregat, sebuah proses yang dalam dunia teknik sipil dikenal sebagai stripping.
Air bertindak sebagai penghalang yang membuat daya rekat aspal melemah secara drastis. Ketika lem pengikat ini tidak lagi mampu memegang batuan dengan kuat, butiran-butiran aspal akan mulai lepas satu per satu. Proses ini sering kali dipercepat oleh drainase jalan yang buruk, sehingga air tidak segera mengalir ke saluran pembuangan melainkan menggenang dan meresap lebih dalam ke struktur pondasi jalan.
2. Efek tekanan hidrostatik dari beban kendaraan yang melintas

Hancurnya aspal saat hujan tidak hanya disebabkan oleh air secara pasif, tetapi juga oleh faktor mekanis dari kendaraan yang melintas. Saat roda kendaraan menindas genangan air di atas retakan aspal, air tersebut akan tertekan masuk ke dalam struktur jalan dengan kekuatan yang sangat besar. Tekanan ini disebut sebagai tekanan hidrostatik yang mampu melebarkan retakan dari dalam secara instan.
Beban berat dari truk atau bus memberikan efek "pompa" pada air yang terjebak di dalam pori-pori aspal. Tekanan yang berulang-ulang ini memaksa air untuk bergerak ke segala arah di dalam struktur jalan, yang pada akhirnya meledakkan lapisan tipis aspal dari bawah ke atas. Akibatnya, permukaan jalan yang semula hanya retak rambut akan segera pecah dan membentuk lubang-lubang besar dalam waktu singkat karena struktur di bawahnya sudah tidak lagi solid.
3. Degradasi pondasi jalan akibat saturasi air yang berlebih

Kerusakan aspal yang terlihat di permukaan sering kali merupakan cerminan dari kegagalan struktur pondasi di bawahnya. Jika air berhasil menembus lapisan aspal teratas dan masuk ke lapisan tanah dasar, maka daya dukung tanah tersebut akan menurun drastis karena kondisi jenuh air (saturasi). Tanah yang basah dan lembek tidak akan mampu menahan beban kendaraan sekuat saat kondisi tanah kering.
Ketika pondasi jalan melunak, lapisan aspal di atasnya akan kehilangan tumpuan yang stabil. Setiap kali kendaraan melintas, aspal akan melengkung secara berlebihan melampaui batas elastisitasnya hingga akhirnya patah dan terkelupas. Oleh karena itu, perbaikan aspal yang hanya dilakukan di permukaan tanpa membenahi sistem drainase dan kekuatan pondasi bawah biasanya hanya akan bertahan sebentar sebelum kembali rusak saat hujan berikutnya datang.
Apakah perlu dibuatkan panduan mengenai teknik penambalan jalan yang tepat agar aspal tidak mudah rusak kembali di musim hujan


















