Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sering Lewat Jalan Mulus, Kenapa Kaki-kaki Mobil Tetap Cepat Aus?

2 min read
Sering Lewat Jalan Mulus, Kenapa Kaki-kaki Mobil Tetap Cepat Aus?
ilustrasi tanjakan (pexels.com/Harvey Tan Villarino)
  • Kaki-kaki mobil tetap aus karena komponen seperti bushing, tie rod, ball joint, bearing, dan shockbreaker bekerja terus serta memiliki batas usia pakai.
  • Tekanan ban yang tidak sesuai, velg lebih besar, dan ban berprofil tipis dapat meneruskan getaran serta benturan lebih besar ke suspensi.
  • Kecepatan tinggi di polisi tidur, menghantam lubang kecil, naik trotoar miring, dan pengereman agresif mempercepat keausan; tekanan ban serta gejala bunyi perlu diperiksa rutin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak yang mengira kaki-kaki mobil hanya cepat rusak jika sering melewati jalan berlubang atau rusak. Padahal, komponen suspensi dan kemudi tetap mengalami keausan meskipun mobil lebih sering digunakan di jalan yang mulus.

Kaki-kaki bekerja setiap kali mobil bergerak, berbelok, mengerem, atau melewati permukaan yang tidak sepenuhnya rata. Ada juga kebiasaan lain yang tanpa disadari dapat mempercepat keausan komponen, meskipun kondisi jalan terlihat baik.

  1. 1. Usia komponen tetap berjalan

    ilustrasi kaki-kaki mobil
    ilustrasi kaki-kaki mobil (pexels.com/Malte Luk)

    Kaki-kaki mobil terdiri dari banyak komponen yang memiliki bagian bergerak dan material elastis. Bushing, misalnya, menggunakan material karet yang secara alami dapat mengalami pengerasan, retak, atau kehilangan elastisitas seiring waktu. Jadi, komponen tetap bisa menurun kondisinya meskipun mobil jarang bertemu jalan rusak.

    Tie rod, ball joint, bearing, dan shockbreaker juga memiliki batas usia pakai yang dipengaruhi jarak tempuh serta kondisi penggunaan. Mobil yang sering digunakan setiap hari tetap memberikan beban kerja pada komponen tersebut. Karena itu, jalan mulus tidak berarti kaki-kaki bebas dari proses keausan.

  2. 2. Ban dan tekanan angin ikut menentukan

    Pemilik mobil mengecek keadaan kaki kaki mobil
    Pemilik mobil mengecek keadaan kaki kaki mobil (Unsplash.com/Li Yang)

    Tekanan ban yang tidak sesuai juga dapat membuat kerja suspensi berubah. Ban yang terlalu keras akibat tekanan berlebihan cenderung meneruskan lebih banyak getaran dari permukaan jalan ke suspensi. Sebaliknya, tekanan yang terlalu rendah membuat dinding ban bekerja lebih berat dan dapat memengaruhi respons kendaraan.

    Ukuran roda dan jenis ban juga berpengaruh. Penggunaan velg berdiameter lebih besar dengan profil ban lebih tipis dapat membuat benturan dari permukaan jalan lebih terasa. Ketika mobil melewati sambungan aspal, lubang kecil, atau permukaan bergelombang, beban yang diteruskan ke kaki-kaki bisa lebih besar dibandingkan konfigurasi standar.

  3. 3. Cara mengemudi tetap punya pengaruh

    Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif
    Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif (freepik.com/diana.grytsku)

    Jalan yang mulus bukan berarti pengemudi bebas melaju tanpa memperhatikan kondisi permukaan. Kecepatan tinggi ketika melewati polisi tidur, sambungan jalan, atau permukaan bergelombang tetap memberikan beban besar pada shockbreaker dan komponen suspensi lainnya.

    Kebiasaan menghantam lubang kecil dengan kecepatan tinggi, naik ke trotoar secara miring, atau sering melakukan pengereman dan akselerasi secara agresif juga dapat mempercepat keausan. Karena itu, menjaga kaki-kaki bukan hanya soal memilih jalan yang bagus. Tekanan ban perlu diperiksa secara rutin, gejala bunyi atau getaran jangan diabaikan, dan gaya berkendara tetap perlu disesuaikan dengan kondisi permukaan jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More