Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspada! Udara di Kabin Mobil Bisa Lebih Beracun daripada di Jalanan

Waspada! Udara di Kabin Mobil Bisa Lebih Beracun daripada di Jalanan
ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Penelitian University of Surrey menemukan bahwa udara di dalam kabin mobil saat macet bisa dua kali lebih berpolusi dibanding udara luar karena akumulasi partikel mikro PM2.5.
  • Gas karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan partikel hitam dari asap kendaraan dapat menembus filter AC standar dan memicu gangguan pernapasan serta risiko penyakit jantung dan paru-paru.
  • Pengemudi disarankan mengaktifkan mode resirkulasi AC saat macet untuk mencegah masuknya polusi, lalu mematikannya di area terbuka agar oksigen segar kembali masuk ke kabin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Banyak orang mengira bahwa kabin mobil yang tertutup rapat dengan AC yang menyala dingin adalah tempat perlindungan terbaik dari polusi udara jalanan. Saat terjebak di tengah kemacetan kota yang padat, menutup kaca jendela rapat-rapat sering kali memunculkan rasa aman palsu bahwa debu dan asap knalpot beracun di luar sana tidak akan bisa masuk menyentuh tubuh.

Namun, asumsi umum tersebut berhasil dipatahkan oleh fakta ilmiah yang cukup mengejutkan. Kabin mobil yang tertutup rapat justru berpotensi menjadi perangkap gas beracun yang mengancam kesehatan saluran pernapasan, bahkan dengan tingkat kepekatan polutan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi udara di luar jalanan raya.

Berikut adalah ulasan ilmiah mengenai fenomena polusi kabin serta solusi taktis untuk menjaga kualitas udara di dalam kendaraan.

1. Akumulasi partikel mikro yang terperangkap di ruang sempit

Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)
Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)

Ancaman tersembunyi ini dibuktikan melalui sebuah studi lingkungan berskala luas yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Surrey. Riset tersebut berfokus pada pengujian tingkat paparan partikel mikro berbahaya yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2.5) di berbagai jenis moda transportasi jalan raya.

Hasil studi dari University of Surrey tersebut mengungkap bahwa saat mobil terjebak dalam kondisi macet total, sistem ventilasi kendaraan sering kali bertindak seperti vakum yang menyedot asap knalpot dari kendaraan di depannya secara langsung. Karena volume ruang kabin mobil sangat terbatas dan sempit, polutan yang terlanjur masuk tidak dapat mengalir keluar, sehingga menciptakan akumulasi polusi di dalam kabin yang mencapai dua kali lebih pekat daripada udara di luar mobil.

2. Bahaya gas karbon monoksida dan partikel hitam bagi kesehatan

ilustrasi knalpot mobil keluar embun (pexels.com/Khunkorn Laowisit)
ilustrasi knalpot mobil keluar embun (pexels.com/Khunkorn Laowisit)

Kandungan udara beracun yang menumpuk di dalam kabin didominasi oleh gas karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2​), serta karbon hitam dari sisa pembakaran mesin diesel. Karena sifat partikel PM2.5 yang sangat halus, senyawa berbahaya ini dapat dengan mudah menembus sistem filtrasi AC mobil standar yang tidak dilengkapi dengan teknologi khusus.

Menghirup udara yang terkontaminasi di dalam kabin dalam durasi yang lama dapat memicu penurunan kadar oksigen di dalam darah, yang ditandai dengan gejala pusing, mual, rasa kantuk yang hebat, hingga penurunan tingkat konsentrasi berkendara. Dalam jangka panjang, paparan konstan partikel mikro ini di dalam ruang kemudi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta kerusakan permanen pada jaringan paru-paru.

3. Solusi ilmiah melalui manajemen tombol resirkulasi udara ac

ilustrasi ac mobil (pexels.com/UMA media)
ilustrasi ac mobil (pexels.com/UMA media)

Untuk memutus rantai penumpukan racun di dalam kabin, pengemudi harus memahami fungsi ilmiah dari tombol resirkulasi udara pada sistem AC mobil. Langkah taktis yang paling direkomendasikan berdasarkan hasil riset adalah selalu mengaktifkan mode resirkulasi (gambar mobil dengan panah berputar di dalam) sesaat sebelum memasuki area kemacetan atau terowongan.

Mode resirkulasi ini akan menutup pintu ventilasi luar secara total, sehingga AC hanya akan memutar dan mendinginkan udara yang sudah ada di dalam kabin tanpa menyedot polusi dari kendaraan di depan. Namun, saat mobil sudah terlepas dari kemacetan dan melaju di jalanan yang lengang atau area terbuka bervegetasi, matikan mode resirkulasi tersebut selama beberapa menit. Langkah ini penting untuk memasukkan oksigen segar dari luar dan membuang akumulasi gas karbon dioksida (CO2​) hasil embusan napas penumpang agar kondisi kabin tetap sehat dan segar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More