Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Risiko Duduk Membungkuk Saat Naik Motor, Bisa Merusak Postur Tubuh?

4 min read
5 Risiko Duduk Membungkuk Saat Naik Motor, Bisa Merusak Postur Tubuh?
ilustrasi mengendarai motor (pexels.com/William Body)
  • Duduk membungkuk saat naik motor dalam waktu lama membebani leher, bahu, dan punggung bawah, sehingga dapat memicu pegal, kaku, hingga nyeri.
  • Kebiasaan berulang membuat tubuh beradaptasi pada posisi kurang ideal, dengan otot tertentu menegang dan postur membungkuk berpotensi terbawa ke aktivitas lain.
  • Postur membungkuk mengurangi keluwesan gerak, mengganggu kenyamanan serta fokus, dan mempercepat kelelahan; jeda, peregangan, serta penyesuaian posisi dapat membantu mengurangi ketegangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengendarai motor dalam waktu lama sering membuat tubuh secara gak sadar mencari posisi yang dianggap paling nyaman, salah satunya dengan membungkukkan punggung ke arah setang. Posisi tersebut mungkin terasa lebih santai pada awal perjalanan, terutama ketika tubuh sudah lelah atau harus menghadapi kemacetan yang panjang. Namun, kebiasaan membungkuk terus-menerus dapat memberikan tekanan yang kurang ideal pada beberapa bagian tubuh dan memicu keluhan jika berlangsung dalam durasi lama.

Postur berkendara bukan sekadar persoalan kenyamanan karena posisi tubuh juga menentukan bagaimana beban tersebar pada tulang belakang, leher, bahu, hingga pinggang. Risiko gangguan akan semakin besar ketika posisi membungkuk dipertahankan terlalu lama, terlebih jika dilakukan berulang setiap hari tanpa diselingi peregangan dan perubahan posisi. Supaya perjalanan tetap nyaman sekaligus lebih ramah bagi tubuh, yuk pahami beberapa risiko duduk membungkuk saat naik motor berikut ini.

  1. 1. Membebani otot leher dan bahu secara berlebihan

    ilustrasi mengendarai motor
    ilustrasi mengendarai motor (pexels.com/Ishan Kulshrestha)

    Posisi membungkuk ketika mengendarai motor biasanya membuat kepala terdorong lebih jauh ke depan dari posisi netral tubuh. Otot leher dan bahu kemudian harus bekerja lebih keras untuk menopang kepala sekaligus mempertahankan pandangan tetap mengarah ke jalan. Jika berlangsung lama, ketegangan tersebut dapat memicu rasa pegal, kaku, atau tidak nyaman pada area leher hingga bahu.

    Keluhan bisa semakin terasa ketika perjalanan dilakukan dalam durasi panjang atau kondisi jalan menuntut tubuh terus menahan getaran. Kebiasaan tersebut juga dapat membuat otot tertentu bekerja lebih dominan dibanding kelompok otot lainnya sehingga keseimbangan tubuh terganggu. Karena itu, rasa pegal setelah berkendara sebaiknya gak selalu dianggap sebagai konsekuensi biasa dari perjalanan jauh.

  2. 2. Memicu nyeri pada bagian punggung bawah

    ilustrasi mengendarai motor
    ilustrasi mengendarai motor (pexels.com/Popoy Dev)

    Membungkuk dalam waktu lama dapat mengubah posisi alami tulang belakang dan meningkatkan beban pada bagian punggung bawah. Saat tubuh terus condong ke depan, otot di sekitar pinggang harus mempertahankan posisi tersebut sembari menerima getaran selama perjalanan. Kombinasi posisi statis dan getaran inilah yang dapat membuat punggung bawah lebih mudah terasa kaku atau nyeri.

    Risikonya dapat semakin terasa pada pengendara yang setiap hari menempuh perjalanan jauh tanpa jeda untuk mengubah posisi tubuh. Jok, posisi setang, tinggi badan, dan karakter motor juga dapat memengaruhi kenyamanan serta postur selama berkendara. Jika keluhan nyeri terus muncul atau semakin berat, pemeriksaan tenaga medis dapat membantu mencari penyebabnya secara lebih tepat.

  3. 3. Membuat postur tubuh terbiasa berada dalam posisi kurang ideal

    ilustrasi mengendarai motor sport
    ilustrasi mengendarai motor sport (pexels.com/Tiwi Riders)

    Duduk membungkuk sesekali gak otomatis membuat postur tubuh berubah secara permanen, tetapi kebiasaan yang berlangsung lama tetap perlu diperhatikan. Tubuh dapat beradaptasi terhadap posisi yang sering dipertahankan sehingga sejumlah otot menjadi lebih kaku, sementara otot lainnya kurang aktif. Kondisi tersebut dapat membuat posisi tegak terasa kurang nyaman setelah tubuh terbiasa membungkuk dalam berbagai aktivitas.

    Efeknya juga gak hanya berkaitan dengan kebiasaan saat berada di atas motor karena pola serupa dapat terbawa ketika duduk bekerja atau menggunakan ponsel. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan dengan posisi kepala maju dan bahu membulat, semakin besar pula akumulasi beban pada sistem otot dan rangka. Jadi, persoalannya bukan satu perjalanan singkat, melainkan pola postur kurang ideal yang terus berulang sepanjang hari.

  4. 4. Mengurangi kenyamanan dan keluwesan gerak saat berkendara

    ilustrasi mengendarai motor
    ilustrasi mengendarai motor (pexels.com/Anderson Martins)

    Postur yang terlalu membungkuk dapat membuat beberapa kelompok otot berada dalam keadaan tegang lebih lama daripada seharusnya. Ketika tubuh mulai kaku, pergerakan leher, bahu, pinggang, dan lengan dapat terasa kurang leluasa dibanding saat posisi berkendara lebih netral. Kondisi tersebut tentu kurang ideal karena pengendara perlu bergerak secara nyaman ketika mengamati situasi jalan atau mengendalikan motor.

    Rasa gak nyaman juga dapat mengganggu konsentrasi apabila tubuh terus memberikan sinyal berupa pegal atau nyeri sepanjang perjalanan. Pengendara akhirnya lebih sering menggeser posisi duduk, meregangkan bahu, atau mencari posisi lain untuk mengurangi ketegangan. Menjaga postur yang nyaman dan gak terlalu membungkuk dapat membantu tubuh tetap lebih rileks tanpa mengorbankan kendali terhadap kendaraan.

  5. 5. Memperbesar efek kelelahan ketika perjalanan berlangsung lama

    ilustrasi mengendarai motor matik
    ilustrasi mengendarai motor matik (pexels.com/Tiwi Riders)

    Berkendara jarak jauh menuntut tubuh mempertahankan posisi relatif statis dalam waktu yang cukup panjang. Jika posisi tersebut sudah kurang ideal sejak awal, otot harus mengeluarkan usaha tambahan untuk menjaga kestabilan tubuh selama perjalanan. Akibatnya, rasa lelah dapat muncul lebih cepat pada punggung, bahu, leher, maupun area pinggang.

    Kelelahan fisik yang menumpuk tentu gak boleh disepelekan karena kenyamanan tubuh turut mendukung fokus selama berada di jalan. Memberikan jeda saat perjalanan jauh, melakukan peregangan ringan, dan menyesuaikan posisi duduk dapat membantu mengurangi ketegangan akibat posisi statis berkepanjangan. Posisi berkendara juga sebaiknya disesuaikan dengan karakter motor dan proporsi tubuh karena satu postur belum tentu nyaman bagi setiap pengendara.

    Duduk membungkuk saat naik motor memang gak serta-merta merusak postur tubuh hanya karena dilakukan sesekali. Risiko lebih berkaitan dengan kebiasaan mempertahankan posisi kurang ideal dalam waktu lama dan berulang, terutama ketika sudah muncul ketegangan otot, rasa kaku, atau nyeri. Memperhatikan posisi berkendara, memberi tubuh waktu istirahat, dan gak mengabaikan keluhan yang menetap menjadi langkah penting agar aktivitas naik motor tetap nyaman dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More