Aksesoris Motor Ini Justru Mengurangi Kenyamanan Berkendara

- Penggunaan jok tipis atau jok papas demi gaya
- Spion kecil dan modifikasi lampu yang mengganggu visibilitas
- Handgrip logam dan handle rem variasi yang kaku
Dunia modifikasi motor memang menawarkan godaan besar untuk mengubah tampilan kendaraan agar terlihat lebih personal dan menonjol di jalanan. Banyak pemilik motor yang rela menghabiskan tabungan demi membeli berbagai pernak-pernik demi mengejar predikat keren atau mengikuti tren yang sedang viral di media sosial.
Namun, sering kali estetika yang dikejar berbanding terbalik dengan fungsionalitas dan keamanan saat berkendara. Aksesoris yang terlihat mahal dan futuristik di etalase toko bisa berubah menjadi sumber gangguan mental dan fisik ketika motor digunakan untuk mobilitas harian yang menuntut kenyamanan ekstra.
1. Penggunaan jok tipis atau jok papas demi gaya

Salah satu tren yang masih digandrungi adalah mengubah bentuk jok menjadi sangat tipis atau melakukan "papas jok" agar motor terlihat lebih ceper dan ramping. Secara visual, motor memang akan terlihat lebih proporsional, terutama bagi mereka yang menyukai aliran modifikasi street racing atau minimalis. Namun, fungsi utama jok sebagai peredam getaran dan penyangga tubuh akan hilang seketika saat busa asli diganti dengan lapisan yang keras dan tipis.
Berkendara lebih dari lima belas menit dengan jok yang keras akan membuat tulang ekor dan pinggang terasa cepat pegal. Tanpa busa yang empuk, setiap guncangan dari jalanan yang tidak rata akan langsung tersalurkan ke tubuh pengendara tanpa filter sama sekali. Alih-alih merasa keren, perjalanan jauh justru akan menjadi siksaan fisik yang bisa berdampak buruk pada kesehatan tulang belakang dalam jangka panjang.
2. Spion kecil dan modifikasi lampu yang mengganggu visibilitas

Penggantian spion standar dengan ukuran mini atau spion model "jalu" sering dianggap sebagai cara instan untuk membuat kemudi motor terlihat lebih bersih dan simpel. Sayangnya, ukuran cermin yang terlalu kecil sangat membatasi bidang pandang ke arah belakang, sehingga pengendara harus memutar kepala lebih banyak hanya untuk memastikan kondisi lalu lintas. Hal ini tidak hanya mengurangi kenyamanan karena leher yang cepat lelah, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan akibat adanya titik buta (blind spot) yang sangat besar.
Hal yang sama terjadi pada modifikasi lampu, seperti penggunaan lampu depan berwarna yang terlalu redup atau pemasangan lampu strobo tambahan yang dipasang tidak pada tempatnya. Lampu dengan warna selain putih atau kuning standar sering kali gagal menerangi jalan dengan baik saat hujan atau kondisi gelap gulita. Selain menyiksa mata karena harus bekerja lebih keras untuk fokus, penggunaan lampu yang tidak sesuai aturan juga berpotensi mengganggu kenyamanan pengendara lain dari arah berlawanan, yang justru bisa memicu konflik di jalan raya.
3. Handgrip logam dan handle rem variasi yang kaku

Genggaman tangan atau handgrip berbahan logam dengan motif krom memang memberikan kesan mewah pada area kemudi. Namun, material logam memiliki sifat penghantar panas yang sangat baik; saat diparkir di bawah sinar matahari, handgrip akan terasa menyengat, dan saat hujan, permukaannya menjadi sangat licin. Berbeda dengan bahan karet standar yang mampu meredam getaran mesin, handgrip logam akan membuat telapak tangan terasa kesemutan karena getaran motor merambat langsung ke saraf tangan.
Selain itu, penggantian tuas rem atau handle variasi yang tidak memiliki desain ergonomis sering kali membuat jari-jari tangan cepat kaku. Banyak produk variasi yang hanya mengutamakan bentuk tanpa mempedulikan jarak jangkau jari manusia yang berbeda-beda. Tuas yang terlalu jauh atau sudutnya yang tajam akan membuat proses pengereman terasa tidak natural dan melelahkan, terutama saat harus menghadapi kemacetan panjang yang mengharuskan tangan terus-menerus menekan rem.



















