Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bahaya Menutup Gas Motor secara Mendadak Saat Ngebut
ilustrasi naik motor (pexels.com/Alejandro Cely Follow)
  • Menutup gas motor mendadak saat ngebut dapat memicu backfire karena sisa bahan bakar terbakar di knalpot panas, berisiko merusak sekat knalpot dan sensor emisi.
  • Perbedaan putaran mesin dan roda belakang akibat gas dilepas tiba-tiba menciptakan sentakan pada transmisi, mempercepat keausan v-belt, kopling sentrifugal, serta gir rasio.
  • Engine brake yang terlalu keras bisa menghilangkan traksi roda belakang, memicu selip terutama di jalan licin; pengendara disarankan mengurangi gas secara bertahap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menutup gas motor tiba-tiba saat ngebut itu bahaya. Motor bisa bunyi meletup dari knalpot. Bagian dalam motor juga bisa cepat rusak. Roda belakang dapat selip, apalagi jalannya basah. Pengendara bisa susah mengarahkan motor. Jadi gas sebaiknya dikurangi pelan-pelan supaya motor tetap aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengendarai sepeda motor pada kecepatan tinggi membutuhkan konsentrasi serta kontrol yang halus terhadap seluruh komponen kemudi. Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan pengendara tanpa disadari adalah melepas atau menutup tuas gas secara tiba-tiba saat kendaraan sedang melaju kencang.

Kebiasaan mengendurkan gas secara mendadak ini dianggap sepele oleh sebagian orang sebagai cara cepat untuk mengurangi laju kendaraan. Padahal, tindakan refleks tersebut menyimpan berbagai potensi bahaya teknis yang dapat merusak komponen mekanis hingga mengancam keselamatan berkendara.

1. Munculnya letupan backfire berbahaya pada saluran knalpot

ilustrasi asap knalpot motor (pexels.com/Gera Cejas)

Penutupan tuas gas secara mendadak pada kecepatan tinggi akan memotong pasokan udara secara drastis ke dalam ruang bakar mesin. Kondisi ini membuat campuran bahan bakar dan udara menjadi tidak seimbang karena sisa bensin masih terhisap ke dalam silinder. Campuran yang terlalu kaya bahan bakar tersebut tidak terbakar sempurna di dalam ruang bakar.

Sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna tersebut akhirnya terdorong keluar menuju saluran pembuangan atau knalpot yang bersuhu sangat panas. Pertemuan antara uap bahan bakar bebas dengan suhu panas knalpot memicu terjadinya ledakan susulan yang dikenal dengan istilah backfire. Suara letupan keras ini tidak hanya mengagetkan pengendara lain, tetapi juga berisiko merusak sekat internal knalpot dan sensor emisi.

2. Tekanan beban mekanis berlebih pada komponen transmisi

ilustrasi mendengarkan suara mesin motor (pexels.om/cottonbro studio)

Saat tuas gas dilepas secara tiba-tiba, laju putaran mesin akan turun jauh lebih cepat daripada laju putaran roda belakang. Perbedaan kecepatan putar yang drastis ini menciptakan efek kebalikan gaya putar pada sistem penyalur tenaga kendaraan. Akibatnya, transmisi manual maupun transmisi otomatis cvt harus menahan beban sentakan mekanis yang sangat kuat secara mendadak.

Pada motor transmisi otomatis, komponen sabuk karet v-belt dan mangkok kopling sentrifugal akan menerima tarikan ekstrem dari perubahan torsi tersebut. Gesekan hebat ini mempercepat keausan komponen transmisi, membuat v-belt cepat retak, serta berpotensi merusak gir rasio. Beban sentakan yang berulang-ulang dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan fatal pada komponen penggerak roda.

3. Risiko hilangnya traksi roda belakang secara mendadak

Ilustrasi Touring (Pexels.com/Ene Marius)

Dampak paling berbahaya dari penutupan gas secara mendadak adalah munculnya efek hambatan mesin atau engine brake yang terlalu keras. Hambatan mesin yang terjadi secara instan ini bertindak mirip seperti pengereman mendadak pada roda belakang. Daya cengkeram tapak ban terhadap permukaan jalan dapat terputus seketika akibat guncangan perlambatan yang tidak bertahap.

Kondisi hilangnya traksi roda belakang ini sangat rawan menyebabkan sepeda motor mengalami selip atau tergelincir, terutama saat melintas di jalanan basah atau licin. Pengendara akan kesulitan mengendalikan arah kemudi ketika bagian belakang motor mulai bergoyang mendadak. Untuk menjaga kestabilan dan keawetan komponen, penurunan kecepatan sebaiknya dilakukan secara halus dengan mengendurkan gas secara bertahap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article