Menjelang Hari Natal 2023, PT Pertamina Patra Niaga mengoptimalkan layanan energi di wilayah Sulawesi, baik BBM, LPG dan Avtur. (Dok. Pertamina)
Bukan cuma akselerasi, tetapi performa kendaraan juga bisa menurun. Karena senyawa kedua bahan bakar dengan oktan yang berbeda itu dapat meninggalkan residu penyebab kerak di mesin, sehingga performanya menurun.
Terakhir efek yang bisa dirasakan ialah sensor check engine yang menyala, yang terjadi karena sensor mendeteksi secara otomatis bahwa terjadi pasokan bahan bakar yang bukan peruntukannya.
Apakah mencampur dua jenis bahan bakar dengan kadar oktan berbeda benar-benar membawa efek negatif? | Kebiasaan tersebut terbukti memberikan efek negatif karena percampuran dua nilai oktan yang berbeda justru mengacaukan formulasi kimia masing-masing bensin, sehingga performa pembakaran di dalam silinder mesin menjadi tidak stabil. |
Apa masalah mekanis utama yang langsung muncul akibat pencampuran bahan bakar tersebut? | Masalah mekanis utama yang muncul adalah hilangnya efisiensi pembakaran yang memicu gejala mesin mengelitik atau knocking, di mana bensin meledak terlalu dini sebelum piston mencapai posisi puncaknya akibat nilai oktan yang tidak konsisten. |
Bagaimana dampak pencampuran bensin ini terhadap efisiensi konsumsi bahan bakar harian? | Alih-alih menghemat pengeluaran, mencampur BBM justru membuat konsumsi bensin menjadi lebih boros karena mesin harus bekerja ekstra keras dan membakar lebih banyak bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang setara akibat pembakaran yang setengah-setengah. |
Apa kerusakan jangka panjang yang mengancam komponen mesin motor jika kebiasaan ini diteruskan? | Kerusakan jangka panjangnya meliputi penumpukan kerak karbon yang tebal pada kepala silinder dan piston, penurunan kualitas daya lumas oli mesin karena kontaminasi sisa bensin, hingga risiko kerusakan permanen pada komponen injektor. |