Rabbit and Wheels Yakin Apparel Lokal Mampu Saingi Produk Impor

Jakarta, IDN Times - Merek apparel Rabbit and Wheels percaya apparel riding buatan Indonesia mampu bersaing dengan produk luar negeri.
Ketimbang melihat merek lokal sebagai pesaing utama, perusahaan justru menempatkan produk impor sebagai tolok ukur dalam mengembangkan kualitas produknya.
Founder Rabbit and Wheels, Ibam Octria, mengatakan sejak awal perusahaan dibangun dengan tujuan menghadirkan apparel berkualitas tinggi yang tetap dapat dijangkau oleh lebih banyak pengendara motor di Indonesia.
1. Berawal dari kebutuhan rider Indonesia

Ibam menjelaskan, ide mendirikan Rabbit and Wheels muncul karena melihat masih banyak pengendara motor yang kesulitan mendapatkan apparel riding berkualitas dengan harga terjangkau.
Bersama adiknya, ia kemudian mencari bahan baku yang kualitasnya mendekati produk impor agar dapat menghasilkan produk dengan standar tinggi tanpa harus dijual mahal.
“Puji syukur dengan ikhtiar kami, akhirnya kami menemukan beberapa tempat yang raw material-nya sama dengan produk impor. Dari situ kami menciptakan Rabbit and Wheels dengan visi meng-upgrade riders Indonesia,” ujar Ibam saat ditemui IDN Times di Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, penggunaan material mesh juga dipilih karena lebih sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia sehingga memberikan sirkulasi udara yang lebih baik untuk penggunaan harian maupun touring.
2. Kompetitor utama adalah produk impor

Menurut Ibam, banyak orang menganggap persaingan Rabbit and Wheels berada di antara sesama merek lokal. Namun, pandangan perusahaan berbeda.
“Saya selalu bilang kompetitor kami bukan lokal, tetapi impor. Kalau dibandingkan produk impor, tentu kami jauh lebih terjangkau,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah aspek yang terus dikembangkan, terutama pada riset dan pengembangan produk agar dapat mengejar standar merek luar negeri.
3. Ingin menjadi brand yang paling dicintai

Ibam menegaskan Rabbit and Wheels tidak memiliki ambisi menjadi brand apparel terbaik, melainkan menjadi merek yang paling dekat dengan konsumennya.
Karena itu, perusahaan rutin mengumpulkan masukan melalui berbagai kegiatan komunitas. Seluruh saran dari pengguna menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan produk berikutnya.
“Kami tidak ingin menjadi brand yang paling baik, tetapi ingin menjadi brand yang paling dicintai. Kami terus meminta masukan dari user agar kebutuhan mereka bisa kami jawab satu per satu,” tambah Ibam.



















