ilustrasi perusahaan energi (pexels.com/Pixabay)
Lonjakan permintaan energi menjadi tantangan struktural yang semakin terasa pada 2026. Kecerdasan buatan, pusat data berskala besar, kendaraan listrik, serta program elektrifikasi mendorong konsumsi listrik melonjak cepat. Lonjakan ini terjadi di saat banyak negara masih menghadapi keterbatasan infrastruktur energi. Proses perizinan yang panjang dan keterbatasan jaringan transmisi menjadi hambatan utama.
Proyeksi lembaga energi menunjukkan kebutuhan listrik Amerika Serikat akan meningkat ratusan terawatt-hour hingga akhir dekade. Pembangunan pembangkit dan jaringan listrik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa beroperasi penuh. Ketimpangan antara permintaan dan pasokan berisiko mendorong kenaikan harga listrik di berbagai wilayah. Tekanan biaya energi pun semakin terasa bagi dunia usaha.
Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan industri teknologi dan manufaktur yang sangat bergantung pada pasokan listrik stabil. Perusahaan dapat menunda ekspansi atau memindahkan investasi ke wilayah dengan ketersediaan energi lebih baik. Investor perlu mencermati risiko ini karena pasokan energi kini menjadi faktor kunci daya saing ekonomi.
Tahun 2026 bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi global. Di balik proyeksi positif, terdapat tekanan struktural yang berpotensi memicu gejolak pasar. Fragmentasi perdagangan, eskalasi geopolitik, serta volatilitas energi saling berkaitan dan memperbesar risiko satu sama lain.
Investor perlu lebih jeli membaca dinamika global, bukan sekadar mengandalkan data makro konvensional. Strategi investasi berbasis manajemen risiko dan diversifikasi lintas aset akan menjadi kunci bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.