Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Susut Jadi 3,2 Persen di 2026

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
Intinya sih...
  • Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi 3,2 persen di 2026
  • Pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India diperkirakan melambat disebabkan menurunnya permintaan domestik dan ekspor
  • Tarif resiprokal AS picu peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan melambat menjadi sekitar 3,2 persen, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi 2025 yang mencapai 3,3 persen. Perlambatan ini diperkirakan terjadi akibat terus meningkatnya ketidakpastian global.

"Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta meningkatnya kerentanan rantai pasok global. Tekanan tersebut membuat prospek pemulihan ekonomi global berjalan lebih terbatas," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam Konferensi Pers RDG BI, Rabu (21/1/2026).

Meski demikian, prospek perekonomian Amerika Serikat dinilai relatif membaik. Hal itu didorong oleh peningkatan investasi di sektor teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), serta stimulus fiskal berupa pengurangan pajak. Namun, perbaikan tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi perlambatan di sejumlah negara besar lainnya.

1. Pertumbuhan ekonomi Jepang, China, hingga India, diproyeksikan lesu pula

ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Monstera)
ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Monstera)

Perry menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India pada 2026 diperkirakan melambat. Pelemahan ini disebabkan oleh menurunnya permintaan domestik dan ekspor, meskipun investasi di sektor AI di negara-negara tersebut terus meningkat.

Dari sisi pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Fund Rate (FFR) dinilai semakin terbatas. Kondisi ini diiringi dengan masih tingginya imbal hasil US Treasury, sejalan dengan besarnya defisit fiskal Amerika Serikat.

2. Tarif resiprokal AS picu peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan

ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Pixabay)

Selain itu, ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat, terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik. Perkembangan tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap mata uang negara maju serta meningkatkan aliran modal keluar dari negara berkembang.

"Situasi ini memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari dampak negatif perlambatan global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ujar Perry.

3. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan tetap positif

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pixabay.com/Tumisu)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pixabay.com/Tumisu)

Lebih lanjut, Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV tetap berada pada level yang baik, namun perlu terus ditingkatkan agar sejalan dengan kapasitas perekonomian nasional. Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku usaha serta meningkatnya stimulus fiskal pemerintah.

Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta informasi dan komunikasi menunjukkan kinerja yang tetap positif.

"Secara regional, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tercatat di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Jawa, serta Kalimantan. Kinerja tersebut terutama didorong oleh kenaikan permintaan domestik di masing-masing wilayah," kata Perry.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada dalam kisaran 4,7 hingga 5,5 persen. Sementara itu, pada 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat ke kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More

Perry Warjiyo Akui Usulkan Thomas Djiwandono Calon Deputi Gubernur BI

21 Jan 2026, 15:45 WIBBusiness