Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Alasan Barang Second Makin Menarik saat Ekonomi Tak Pasti

4 min read
3 Alasan Barang Second Makin Menarik saat Ekonomi Tak Pasti
ilustrasi laptop bekas (Pexels.com/John Giannis Tekeridis)
  • Ketidakpastian ekonomi mendorong konsumen lebih hemat, sehingga barang second makin diminati sebagai cara mendapatkan kebutuhan dengan harga lebih rendah.
  • Survei eBay mencatat 76 persen responden global membeli barang secondhand dalam setahun terakhir; penghematan menjadi alasan utama bagi 46 persen responden.
  • Daya tarik barang second juga bergantung pada fungsi, kualitas, dan value for money, termasuk akses terhadap merek yang sebelumnya sulit dijangkau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika kondisi ekonomi tidak pasti, konsumen biasanya mulai lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Bukan berarti mereka berhenti membeli, tetapi cara mereka memilih barang bisa berubah. Salah satu perubahan yang semakin terlihat adalah meningkatnya minat terhadap barang second atau barang bekas. Produk yang sebelumnya dianggap sebagai pilihan kedua kini mulai dilihat sebagai alternatif untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan pengeluaran lebih rendah.

Fenomena ini juga terlihat dalam perkembangan recommerce, yaitu aktivitas jual-beli barang yang sebelumnya sudah dimiliki orang lain. Dalam Recommerce Report 2026, eBay mencatat 76 persen konsumen yang disurvei secara global pernah membeli barang secondhand dalam setahun terakhir. Bahkan, 47 persen mengaku membeli barang secondhand setidaknya sebulan sekali. Lantas, mengapa barang second semakin menarik ketika ekonomi sedang penuh ketidakpastian?

  1. 1. Harga awal lebih rendah

    ilustrasi laptop bekas (Pexels.com/Karolina Grabowska)
    ilustrasi laptop bekas (Pexels.com/Karolina Grabowska)

    Barang second biasanya ditawarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan produk baru. Bagi konsumen yang sedang berusaha menjaga anggaran, selisih harga tersebut bisa menjadi pertimbangan penting. Misalnya, seseorang membutuhkan ponsel, laptop, kamera, sepeda, atau furnitur. Jika barang yang sudah pernah digunakan masih berada dalam kondisi baik, membeli barang second dapat menjadi alternatif untuk mendapatkan produk yang sama tanpa harus mengeluarkan uang sebesar harga barang baru.

    Data eBay Recommerce Report 2026 menunjukkan bahwa 84 persen konsumen yang disurvei menempatkan penghematan uang sebagai salah satu dari tiga alasan utama membeli barang secondhand. Bahkan, bagi 46 persen responden, menghemat uang merupakan alasan nomor satu.

    Temuan serupa muncul dalam OfferUp Recommerce Report 2025. Hampir 70 persen konsumen Amerika Serikat yang disurvei mengatakan mereka lebih mungkin membeli atau menjual barang secondhand ketika kondisi ekonomi terasa tidak menentu. Sementara itu, 79 persen mengatakan mereka membeli barang bekas untuk menghemat uang. Dengan demikian, barang second dapat menjadi salah satu cara konsumen membuat uang yang dimiliki terasa lebih panjang.

  2. 2. Fungsi tetap bisa didapat

    ilustrasi ponsel bekas (Pexels.com/Arif Syuhada)
    ilustrasi ponsel bekas (Pexels.com/Arif Syuhada)

    Harga yang lebih rendah tidak akan menarik jika barang tersebut tidak lagi berfungsi dengan baik. Karena itu, daya tarik barang second sebenarnya bukan sekadar karena murah, tetapi karena konsumen masih bisa memperoleh fungsi yang mereka butuhkan. Contohnya, seseorang tidak selalu membutuhkan laptop keluaran terbaru. Jika laptop generasi sebelumnya masih mampu digunakan untuk bekerja, mengetik, melakukan rapat daring, atau mengedit dokumen, membeli barang second bisa terasa lebih masuk akal.

    Begitu pula dengan pakaian, furnitur, ponsel, kamera, kendaraan, hingga berbagai barang elektronik. Selama fungsi dan kondisinya masih memenuhi kebutuhan, produk bekas dapat menjadi substitusi bagi barang baru.

    Penelitian mengenai keputusan pembelian pakaian thrifting di Indonesia yang dipublikasikan dalam Jariqa: Journal of Management, Business, and Economics pada 2025 menunjukkan bahwa harga dan kualitas sama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen. Artinya, konsumen tidak sekadar mencari harga rendah, tetapi juga mempertimbangkan apakah kualitas produk sepadan dengan harga yang dibayar. Inilah yang membuat barang second menarik. Konsumen tidak harus mendapatkan barang yang paling baru untuk mendapatkan manfaat yang mereka perlukan.

  3. 3. Konsumen makin menghitung value for money

    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)
    ilustrasi rupiah (Pexels.com/Defrino Maasy)

    Di tengah ketidakpastian ekonomi, konsumen cenderung semakin kritis terhadap hubungan antara harga dan manfaat. Barang second bisa menarik ketika konsumen merasa bahwa harga yang dibayarkan sebanding dengan kualitas dan fungsi yang diperoleh. Hal ini terlihat dalam Recommerce Report 2026. Selain penghematan, konsumen menyebut kemampuan mendapatkan merek yang sebelumnya mungkin tidak terjangkau sebagai salah satu alasan membeli barang secondhand. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 70 persen responden merasa barang secondhand membantu mereka mengelola anggaran rumah tangga.

    Menariknya, fenomena ini juga tidak hanya berkaitan dengan konsumen berpenghasilan rendah. Barang bekas dapat menjadi pilihan bagi siapa saja yang merasa bahwa membeli produk baru tidak memberikan tambahan manfaat yang cukup besar dibandingkan harganya. Dengan kata lain, konsumen sedang belajar membedakan antara barang baru dan barang yang benar-benar dibutuhkan.

    Meningkatnya minat terhadap barang second menunjukkan perubahan cara konsumen melihat nilai sebuah produk. Ketika ekonomi tidak pasti, usia barang atau status “baru” tidak selalu menjadi pertimbangan utama. Selama barang masih berfungsi, kondisinya dapat dipercaya, dan harganya masuk akal, produk second bisa menjadi pilihan yang jauh lebih menarik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More