Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Alasan Bisnis Lama Lebih Tahan Menghadapi Perubahan

3 min read
3 Alasan Bisnis Lama Lebih Tahan Menghadapi Perubahan
ilustrasi bisnis online (Pexels.com/Kampus Production)
  • Bisnis berumur panjang umumnya memenuhi kebutuhan yang relatif tetap, bukan hanya mengikuti tren viral yang permintaannya mudah menurun saat selera konsumen berubah.
  • Perusahaan yang bertahan lama terus menyesuaikan strategi, teknologi, dan operasional terhadap perubahan pasar, sambil menjaga nilai serta karakter utama bisnisnya.
  • Viralitas menghasilkan perhatian, tetapi keberlanjutan bergantung pada pelanggan yang kembali melalui kepuasan, kepercayaan, kualitas layanan, dan hubungan jangka panjang dengan merek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah melihat sebuah bisnis yang tiba-tiba ramai karena viral di media sosial, lalu beberapa bulan kemudian tidak terdengar lagi? Fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan di era digital. Sebuah produk bisa mendadak populer setelah masuk TikTok, Instagram, atau platform lainnya. Antrean pembeli mengular, konten tentang produk tersebut bermunculan, dan orang-orang ikut penasaran untuk mencoba.

Namun, popularitas seperti itu belum tentu bertahan lama. Di sisi lain, ada bisnis yang mungkin tidak pernah menjadi viral, tetapi tetap beroperasi selama puluhan tahun. Pelanggannya datang silih berganti, generasi berganti, bahkan tren ikut berubah, tetapi bisnis tersebut tetap bertahan.

Viral dan berkelanjutan merupakan dua hal yang berbeda. Viral dapat mendatangkan perhatian dalam waktu singkat, sedangkan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar perhatian untuk bertahan dalam jangka panjang. Berikut tiga alasannya.

  1. 1. Bisnis lama biasanya menjual kebutuhan, bukan sekadar tren

    ilustrasi bekerja di kantor (Pexels.com/Thirdman)
    ilustrasi bekerja di kantor (Pexels.com/Thirdman)

    Salah satu alasan bisnis bisa bertahan lama adalah karena produk atau jasanya menjawab kebutuhan yang terus ada. Contohnya, makanan, pakaian, jasa transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Tren dapat berubah, tetapi kebutuhan dasar manusia relatif tetap.

    Sementara itu, sebagian bisnis yang viral dibangun di atas tren tertentu. Produk tersebut bisa sangat populer ketika sesuai dengan selera pasar, tetapi permintaannya dapat menurun ketika konsumen mulai bosan atau muncul tren baru.

    Bukan berarti bisnis berbasis tren pasti gagal. Justru, banyak bisnis yang awalnya mengikuti tren kemudian mampu bertahan setelah menemukan pasar yang lebih stabil. Namun, viralitas sendiri bukan jaminan keberlanjutan.

    Kemampuan perusahaan bertahan dalam jangka panjang berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis dan mempertahankan keunggulan yang relevan. Dengan kata lain, bisnis yang mampu bertahan biasanya tidak hanya mengakomodasi apa yang disukai konsumen, melainkan juga apa yang dibutuhkan konsumen.

  2. 2. Bisnis yang bertahan mampu beradaptasi dengan perubahan

    ilustrasi bisnis UMKM (Pexels.com/Kampus Production)
    ilustrasi bisnis UMKM (Pexels.com/Kampus Production)

    Bertahan puluhan tahun bukan berarti menjalankan bisnis dengan cara yang sama selama puluhan tahun. Justru sebaliknya. Bisnis yang berumur panjang biasanya harus berkali-kali menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi, perilaku konsumen, kompetisi, hingga kondisi ekonomi.

    Perusahaan yang mampu membaca perubahan dan menyesuaikan strategi memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi lingkungan bisnis yang terus berubah. Selain itu, perusahaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang juga menunjukkan pentingnya kemampuan melakukan perubahan strategis ketika kondisi pasar berubah.

    Inilah perbedaan penting antara mempertahankan identitas bisnis dan mempertahankan semua cara lama. Bisnis bisa tetap mempertahankan nilai dan karakter utamanya, sambil mengubah cara beroperasi.

  3. 3. Bisnis lama membangun pelanggan, bukan hanya perhatian

    ilustrasi belanja online (Pexels.com/Marcial Comeron)
    ilustrasi belanja online (Pexels.com/Marcial Comeron)

    Viralitas memberikan satu hal yang sangat berharga bagi bisnis, yakni perhatian. Namun, perhatian belum tentu berubah menjadi pelanggan loyal. Seseorang mungkin membeli produk karena melihatnya viral di media sosial. Setelah mencoba sekali, belum tentu ia kembali membeli.

    Bisnis yang mampu bertahan puluhan tahun membutuhkan lebih dari sekadar pembelian pertama. Mereka membutuhkan pelanggan yang mau kembali. Di sinilah customer loyalty menjadi penting. Loyalitas pelanggan dapat membantu perusahaan mempertahankan hubungan jangka panjang dengan konsumennya, mengurangi ketergantungan pada akuisisi pelanggan baru, dan menciptakan nilai yang lebih berkelanjutan.

    Kepuasan, kepercayaan, kualitas layanan, serta hubungan pelanggan dengan merek dapat berperan dalam membangun loyalitas. Meski demikian, bukan berarti bisnis yang viral pasti akan hilang atau bisnis yang sudah lama berdiri pasti akan bertahan selamanya. Viralitas dapat menjadi mesin pertumbuhan yang sangat kuat jika berhasil diubah menjadi pelanggan dan pendapatan yang berkelanjutan. Sebaliknya, bisnis yang sudah berusia puluhan tahun pun bisa kehilangan pasar jika tidak mampu beradaptasi.

    Untuk bertahan selama puluhan tahun, bisnis membutuhkan sesuatu yang lebih sulit dibangun, yakni nilai yang konsisten bagi pelanggan dan kemampuan untuk terus berubah ketika dunia berubah. Viralitas bisa membuat bisnis dikenal dalam semalam, tetapi belum tentu membuatnya bertahan selama bertahun-tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More