Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Amazon PHK Massal 16 Ribu Karyawan usai Ngaku Salah Kirim Email
logo Amazon (unsplash.com/BoliviaInteligente)

Intinya sih...

  • Amazon mengonfirmasi PHK massal setelah insiden salah kirim email

  • Amazon sering melakukan PHK sejak Jeff Bezos mundur

  • Amazon jadi hemat soal biaya sejak era Andy Jassy

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat, Amazon bakal kembali melakukan PHK massal terhadap 16 ribu karyawannya untuk memangkas birokrasi. Kabar ini sudah dikonfirmasi langsung oleh Amazon pada Rabu (28/1/2026).

Meski begitu, Amazon belum mengumumkan karyawan di negara mana saja yang akan terdampak. Namun, Wakil Presiden Senior bidang Pengalaman Karyawan dan Teknologi Amazon, Beth Galetti menegaskan, yang jelas perusahaannya tidak akan melakukan PHK massal setiap beberapa bulan sekali seperti narasi yang beredar di media massa.

Galetti menambahkan, karyawan yang berada di Amazon Amerika Serikat akan diberi waktu selama 90 hari untuk mencari posisi baru. Selama itu, mereka bisa melamar lagi di Amazon untuk posisi yang sedang dibutuhkan.  Namun, karyawan yang memilih resign karena terdampak PHK akan diberikan pesangon, tunjangan asuransi kesehatan, dan hak-hak lainnya, seperti bantuan untuk mendapatkan kerja. 

1. Amazon mengonfirmasi PHK massal setelah insiden salah kirim email

ilustrasi PHK (pixabay.com/Mohamed_hassan)

Konfirmasi info soal gelombang PHK massal ini disampaikan Amazon tidak lama setelah perusahaan tersebut mengirim email yang membuat panik para karyawannya pada Selasa (27/1/2026) malam lalu.

Saat itu, Amazon tidak sengaja mengirim email berisi info gelombang PHK massal kepada karyawan yang ada di Kanada, Amerika Serikat, dan Kosta Rika. Email itu dikirim secara tiba-tiba oleh akun wakil presiden senior Amazon Web Service (AWS), Colleen Aubrey.

"Ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan yang telah kami lakukan selama lebih dari setahun. Langkah ini diambil untuk memperkuat perusahaan dengan mengurangi lapisan manajemen, meningkatkan kepemilikan, dan menghilangkan birokrasi," demikian isi email tersebut dilansir BBC.

Namun, Amazon saat itu langsung menghapus email tersebut. Sebab, perusahaan mengonfirmasi, email itu dikirim secara tidak sengaja imbas kesalahan teknis.

2. Amazon sering melakukan PHK sejak Jeff Bezos mundur

Mantan CEO Amazon, Jeff Bezos (commons.wikimedia.org/Los Angeles Air Force Base Space and Missile System Center)

Amazon memang jadi sering melakukan PHK massal sejak Jeff Bezos mundur dari jabatannya sebagai CEO pada 2021. Penggantinya, Andy Jassy, kerap melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan efisiensi.

Pada Oktober 2025 lalu, Amazon juga sudah melakukan PHK massal terhadap 14 ribu karyawannya yang tersebar di seluruh dunia. Gelombang PHK massal juga terjadi pada 2023 lalu. Saat itu, Jassy memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan 27 ribu karyawan Amazon.

Selain sering melakukan PHK massal, Jassy sebagai CEO juga mengubah seluruh budaya kerja di Amazon jadi makin ketat. Ia mewajibkan seluruh karyawannya untuk bekerja di kantor selama 5 hari dalam 1 minggu. Kebijakan ini mengakhiri skema hybrid working yang sudah diterapkan Amazon selama bertahun-tahun.

3. Amazon jadi hemat soal biaya sejak era Andy Jassy

logo Amazon (unsplash.com/Christian Wiediger)

Sejak Andy Jassy menjabat, Amazon juga berubah menjadi perusahaan yang sangat hemat biaya. Menurut laporan Business Insider, Jassy bahkan sering memantau penggunaan telepon seluler oleh karyawannya agar tidak boros biaya.

Semua itu dilakukan Jassy sebagai upaya untuk menata ulang perusahaan. Sebab, menurutnya, Amazon perlu beradaptasi dengan perubahan zaman yang makin cepat. Apalagi, teknologi saat ini juga kian berkembang. 

Jassy sendiri sebetulnya bukan orang asing di Amazon. Sebab, Jassy sudah bergabung dengan perusahaan tersebut sejak 1997. Sebelum didapuk jadi CEO, ia menjabat sebagai kepala tim cloud di Amazon Web Service (AWS).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team