TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Tanpa Modal Awal, Bisnis Serum Tanaman Ini Laku Ribuan Botol per Detik

Omzet per bulan bisa mencapai Rp300-Rp450 juta

Serum No Brand Plant (IDN Times/Muhammad Athif Aiman)

Jakarta, IDN Times - Serum #nobrandplant pamornya kian menanjak di kalangan pecinta tanaman. Bisnis serum tanaman yang dibangun oleh dua sekawan Asoka Remadja dan Primus Hans ini menjadi buah bibir lantaran disebut-sebut bisa menyuburkan kembali tanaman yang hampir mati.

Kedua pemuda tersebut kini tengah mendulang untung dari usaha yang mereka rintis sejak Maret tahun ini. Bisnis serum mereka itu laris manis.

"Sekali jual itu terakhir tuh yang paling banyak 2.400 botol habis dalam waktu 40 sampai 45 detik. Itu untuk serum doang, belum yang produk-produk lain yang lain dari #nobrandplant," kata Asoka dalam wawancara khusus bersama IDN Times, Jumat (18/12/2020).

Namun, serum ini tidak diproduksi setiap hari. Asoka menuturkan, waktu produksinya bisa mencapai dua bulan atau tiga bulan sekali. Dalam sekali produksi, sebanyak 5.000 botol bisa siap dijual. Belum setahun berjalan, omzet yang mereka raih sudah bisa mencapai Rp450 juta.

Padahal, bisnis serum ini dibangun tanpa modal awal. Kok bisa? Begini kisah Asoka dan Hans merintis #nobrandplant.

Baca Juga: Modal hanya Ratusan Ribu, Bisnis Sedotan Bambu ini Raih Omzet Jutaan

1. Dibangun tanpa modal

IDN Times / Muhammad Athif Aiman, (Pendiri Serum No Brand Plant)

Jika biasanya modal yang besar menjadi hambatan seseorang dalam langkah memulai bisnis, kedua pemuda ini membuktikan sebaliknya. Dari kejelian dan kreativitas, Asoka dan Hans tidak mengeluarkan modal sedikit pun dalam memulai bisnis serum tanaman ini.

Serum ini dibuat dari bahan sampah organik. "Karena kita itu memaksimalkan sampah yang ada di rumah kan, jadi bisa dibilang #nobrandplant ini kita tuh bisnis yang hampir tidak ada risiko sama sekali, karena kita gak pakai modal," ujar Asoka.

"Udah gitu waktu itu di support sama si Mamanya Hans kan. Jadi di rumah (Hans) ada monstera banyak banget dan dia emang lagi mau dirapiin. Dia bilang ambil aja, itu jualin," sambungnya.

2. Omzet per bulan rata-rata bisa mencapai Rp300-Rp450 juta

IDN Times / Muhammad Athif Aiman, ( PameranTanaman Hias)

Hans mengatakan harga jual serum ini secara offline berkisar Rp75 ribu, sementara untuk online hanya dibanderol Rp59 ribu. Sehingga berdasarkan perhitungannya secara rata-rata, bisnis ini bisa meraih omzet Rp300-Rp450 juta dalam kurun waktu satu bulan.

Saat dijual secara offline, lebih banyak biaya yang mereka keluarkan. "Kita kan harus buka tempat investasi di tempat, terus juga ada orang-orang yang kita tempatkan di dalam, plus kayak tempat tempat, lokasi ya bayar rental, bayar profit sharing gitu," kata Hans.

"Jadi kita udah put account nominal nominal itu sih di dalam situ. Itu kenapa harganya lebih mahal di offline," ujarnya.

Baca Juga: Kisah Kebun Binar Bumi, Merintis Bisnis Tanaman Raih Omzet Rp100 Juta

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya