Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Gig Economy? Ini 3 Alasan Banyak Orang Bekerja Project Based
ilustrasi kurir makanan (Pexels.com/wal_ 172619)
  • Gig economy adalah sistem kerja berbasis tugas atau proyek, dengan penghasilan dari pesanan tertentu alih-alih hubungan kerja tetap di satu perusahaan.
  • Fleksibilitas waktu, lokasi, dan pilihan pekerjaan mendorong banyak orang mengambil gig sebagai penghasilan tambahan atau pekerjaan utama, meski pendapatan dapat menurun saat pesanan sepi.
  • Platform digital memperluas akses klien dan pekerjaan lintas wilayah, tetapi pekerja tetap perlu mempertimbangkan kestabilan pendapatan, biaya kerja, serta perlindungan sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat orang yang pagi menjadi pengemudi ojol, siangnya mengerjakan proyek desain, lalu malamnya menerima pekerjaan sebagai freelancer? Model kerja seperti ini semakin mudah ditemui. Seseorang tidak selalu bekerja untuk satu perusahaan dengan jam kerja tetap dan gaji bulanan. Sebaliknya, mereka bisa mengambil pekerjaan berdasarkan proyek, pesanan, atau tugas tertentu.

Fenomena tersebut berkaitan dengan gig economy atau ekonomi gig. Lantas, apa sebenarnya ekonomi gig? Mengapa semakin banyak orang bekerja dengan pola seperti ini? Simak penjelasan berikut ini.

1. Gig economy membuat pekerjaan lebih berbasis proyek atau tugas

ilustrasi freelancer (Pexels.com/Vitaly Gariev)

Secara sederhana, gig economy adalah sistem kerja ketika seseorang memperoleh penghasilan dari pekerjaan atau tugas tertentu, bukan semata-mata dari hubungan kerja tetap dengan satu perusahaan. Menurut International Labour Organization (ILO), gig economy mencakup berbagai bentuk pekerjaan seperti crowdwork dan pekerjaan berdasarkan permintaan melalui aplikasi. Dalam model tersebut, permintaan dan tenaga kerja dapat dipertemukan melalui platform digital.

Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pengemudi transportasi online mendapatkan penghasilan dari setiap perjalanan. Freelancer bisa dibayar setelah menyelesaikan desain, artikel, atau proyek tertentu. Pekerja digital bahkan dapat menerima tugas dari klien di negara lain tanpa harus menjadi karyawan perusahaan tersebut. Karena itu, istilah "gig" sebenarnya menggambarkan pekerjaan yang lebih berdasarkan tugas atau proyek dibandingkan pekerjaan tetap.

2. Fleksibilitas menjadi salah satu alasan orang memilih pekerjaan gig

ilustrasi work from anywhere (Pexels.com/Bimbim Sindu)

Salah satu daya tarik gig economy adalah fleksibilitas. Dalam pekerjaan konvensional, seseorang biasanya memiliki jadwal kerja, tempat kerja, dan tanggung jawab yang relatif sudah ditentukan. Sementara itu, sebagian pekerja gig memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan kapan, di mana, dan pekerjaan apa yang ingin mereka ambil.

ILO mencatat bahwa pekerjaan dalam gig economy dapat memberikan fleksibilitas jadwal dan mempertemukan pekerja dengan peluang kerja yang sesuai. Bagi sebagian orang, fleksibilitas ini penting. Misalnya, seseorang bisa menjadikan pekerjaan freelance sebagai sumber penghasilan tambahan setelah menyelesaikan pekerjaan utama.

Ada pula orang yang memang menjadikan pekerjaan gig sebagai pekerjaan utama karena ingin memiliki lebih banyak kendali atas waktu kerjanya. Namun, fleksibilitas bukan berarti selalu lebih mudah. Jika tidak ada pekerjaan yang masuk, pendapatan juga bisa ikut berkurang.

3. Teknologi membuat pekerjaan tanpa kantor semakin mudah

ilustrasi work from anywhere (Pexels.com/Anna Shvets)

Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor penting di balik pertumbuhan ekonomi gig. Platform digital memungkinkan perusahaan atau konsumen mencari tenaga kerja tanpa harus merekrut mereka sebagai karyawan tetap. Sebaliknya, pekerja dapat menawarkan keahlian mereka kepada lebih banyak calon klien.

Platform kerja digital telah mengubah cara pekerjaan diorganisasi. Bentuknya pun beragam, mulai dari pekerjaan yang dilakukan sepenuhnya secara online hingga layanan yang dilakukan secara langsung di suatu wilayah, seperti transportasi dan pengantaran. Misalnya, seorang ilustrator tidak lagi harus bekerja di kantor sebuah perusahaan untuk mendapatkan proyek. Ia bisa memperoleh pekerjaan dari platform digital dan mengirimkan hasilnya secara online. Hal serupa terjadi pada penulis, penerjemah, programmer, fotografer, konsultan, hingga pekerja jasa lainnya.

Dengan kata lain, teknologi membuat pasar tenaga kerja menjadi lebih mudah diakses tanpa harus selalu melalui hubungan kerja konvensional. Pertumbuhan pekerjaan berbasis platform menunjukkan bahwa cara orang bekerja sedang mengalami perubahan. Platform ekonomi telah menciptakan peluang baru bagi perusahaan dan pekerja sekaligus menghadirkan tantangan terkait kualitas pekerjaan dan perlindungan pekerja. Gig economy memang menawarkan fleksibilitas dan akses terhadap peluang kerja yang lebih luas. Namun, model ini juga membuat pekerja perlu lebih aktif memikirkan kestabilan pendapatan, biaya kerja, dan perlindungan sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article