Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS dan India Sepakati Kerangka Perdagangan Baru Menuju Pakta Besar
bendera india (unsplash.com/Naveed Ahmed)

Intinya sih...

  • AS dan India sepakati pemangkasan tarif dagang

  • India sepakati komitmen belanja produk AS senilai Rp8,4 kuadriliun

  • AS dan India sepakati kerja sama teknologi dan regulasi dagang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan India resmi mengumumkan pencapaian kerangka kerja perdagangan interim, pada Sabtu (7/2/2026). Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat integrasi ekonomi kedua negara melalui pemangkasan tarif timbal balik, restrukturisasi kemitraan energi, serta pendalaman koordinasi ekonomi.

Kesepakatan ini juga menjadi bagian dari upaya global dalam mendiversifikasi serta menyelaraskan kembali rantai pasok agar tidak bergantung pada blok tertentu. Kerangka kerja tersebut mempertegas komitmen Washington dan New Delhi untuk melanjutkan negosiasi menuju Perjanjian Perdagangan Bilateral yang lebih luas dan komprehensif.

Melalui kerja sama ini, kedua negara berupaya menciptakan keseimbangan pasar yang lebih adil bagi produsen maupun konsumen. Meskipun pencapaian ini dinilai sebagai tonggak sejarah penting, kedua pihak mengakui bahwa pembicaraan teknis lebih lanjut masih diperlukan untuk mematangkan detail pakta perdagangan tersebut.

1. AS dan India sepakati pemangkasan tarif dagang

Presiden AS, Donald Trump resmi menurunkan tarif impor terhadap barang-barang asal India dari 50 persen menjadi 18 persen. Langkah ini merupakan bentuk timbal balik atas perubahan kebijakan energi India, yang setuju untuk menghentikan seluruh pembelian minyak mentah dari Rusia. Keputusan strategis ini bertujuan memutus pendanaan tidak langsung terhadap operasi militer Rusia di Ukraina, di mana India akan mengalihkan pasokan energinya ke AS dan Venezuela.

"Kesepakatan ini akan membantu MENGAKHIRI PERANG di Ukraina, yang sedang berlangsung saat ini, dengan ribuan orang tewas setiap minggunya," ujar Trump, dilansir Economic Times.

Selain penurunan tarif oleh AS, India juga berkomitmen menghapus hambatan perdagangan bagi produk industri AS. Perwakilan Perdagangan AS (USTR), Jamieson Greer, mengungkapkan bahwa tarif rata-rata barang industri India yang sebelumnya sebesar 13,5 persen, akan dipangkas hingga mendekati nol persen untuk hampir 99 persen kategori produk.

"Ini adalah saat yang dinantikan, dan sekarang kita telah memiliki kesepakatannya. Kami akan menyelesaikan proses administrasinya, namun kami telah mengetahui rincian teknisnya. Ini adalah peluang yang sangat menarik bagi kedua negara," kata Greer, dilansir Livemint.

Implementasi struktur tarif baru ini diharapkan dapat memulihkan daya saing sektor padat karya India, seperti industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki di pasar AS. Meskipun tarif 18 persen tetap diberlakukan untuk sebagian besar produk guna mengatasi defisit perdagangan, kesepakatan ini memberikan pengecualian serta kuota tarif preferensial bagi sektor strategis seperti suku cadang otomotif dan komponen kedirgantaraan. AS juga berkomitmen untuk mempertimbangkan penurunan tarif lebih lanjut di masa depan seiring dengan perkembangan dialog dalam kerangka Perjanjian Perdagangan Bilateral.

2. India sepakati komitmen belanja produk AS senilai Rp8,4 kuadriliun

India secara resmi berkomitmen untuk membeli produk-produk asal AS dengan nilai total mencapai 500 miliar dolar AS (Rp8,4 kuadriliun) selama lima tahun ke depan. Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan bilateral melalui pengadaan di berbagai sektor strategis, mulai dari energi seperti minyak bumi dan gas alam cair, hingga peralatan kedirgantaraan serta logam mulia.

"Perdana Menteri Modi dan saya adalah dua orang yang menyelesaikan segala sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dikatakan untuk sebagian besar orang lainnya," ujar Trump, dilansir Hindustan Times.

Di sektor pertanian, India sepakat menghapus tarif hingga nol persen bagi berbagai komoditas pangan AS, termasuk buah-buahan, minyak kedelai, serta produk minuman beralkohol. Kebijakan ini juga mencakup komoditas pakan ternak yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi industri peternakan India, sekaligus memperluas pasar bagi petani Amerika.

"Kesepakatan AS-India yang baru akan mengekspor lebih banyak produk pertanian Amerika ke pasar India yang masif, meningkatkan harga, dan memompa uang tunai ke pedesaan Amerika," ujar Sekretaris Pertanian AS, Brooke Rollins.

Meskipun membuka akses pasar yang luas, pemerintah India memastikan bahwa sektor-sektor sensitif seperti industri susu dan nasib petani kecil tetap terlindungi melalui mekanisme pengamanan yang ketat. Kerja sama strategis ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan domestik India yang tumbuh pesat, tetapi juga sejalan dengan upaya pemerintah AS dalam menghidupkan kembali sektor manufaktur nasional.

3. AS dan India sepakati kerja sama teknologi dan regulasi dagang

Kerangka perdagangan interim antara AS dan India kini merambah ke sektor teknologi masa depan, khususnya pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pusat data. Kedua negara sepakat untuk memperluas perdagangan perangkat keras canggih seperti GPU, guna mempercepat transformasi digital serta menyelaraskan kebijakan kontrol ekspor teknologi sensitif untuk melindungi keamanan nasional.

Selain kolaborasi teknologi, pakta ini fokus pada penyesuaian standar regulasi untuk menghapus hambatan teknis pada produk medis dan komunikasi. India berkomitmen untuk meninjau prosedur lisensi impor barang teknologi informasi dan menyelaraskan standar keselamatannya dengan standar internasional dalam waktu enam bulan. Terkait langkah ini, perwakilan USTR, Jamieson Greer, menekankan pentingnya pengakuan standar keamanan produk Amerika di pasar India sebagai kunci untuk membuka pasar bagi lebih dari satu miliar orang.

Untuk menjamin efektivitas kerja sama, kedua negara juga menetapkan aturan asal barang (Rules of Origin) yang sangat ketat. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa keuntungan ekonomi dari perjanjian ini benar-benar mengalir kepada produsen di AS dan India, sekaligus mencegah negara ketiga memanfaatkan kesepakatan ini sebagai jalur transit barang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team