Perjanjian ini mencakup komitmen timbal balik, di mana Bangladesh sepakat memberikan akses pasar preferensial bagi berbagai produk industri dan pertanian dari AS. Komoditas yang mendapatkan akses tersebut meliputi bahan kimia, peralatan medis, mesin, suku cadang otomotif, serta produk pangan seperti kedelai, susu, daging sapi, dan gandum.
Selain itu, Bangladesh berkomitmen untuk menghapus hambatan non-tarif dengan mengakui standar keselamatan kendaraan AS dan sertifikasi FDA untuk obat-obatan, serta memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual dan standar tenaga kerja internasional.
Penasihat Perdagangan Bangladesh, Sheikh Bashir Uddin menyatakan, penandatanganan kesepakatan ini merupakan pencapaian bersejarah bagi diplomasi ekonomi kedua negara. Ia meyakini akses pasar yang lebih luas akan menguntungkan pengusaha di kedua belah pihak secara adil.
Sebagai langkah strategis untuk meredakan tekanan tarif, Bangladesh berkomitmen membeli 25 pesawat Boeing dan menjalin kerja sama energi jangka panjang melalui pembelian LNG senilai miliaran dolar. Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), Jamieson Greer mengapresiasi upaya tersebut karena dinilai menyelaraskan kebijakan perdagangan Bangladesh dengan visi global AS dalam mendorong perdagangan yang adil.
Bagi AS, kesepakatan ini membuka peluang ekspansi bagi produk gandum, kedelai, gas alam, serta sektor teknologi dan kesehatan di pasar Asia Selatan yang sedang berkembang pesat. Selain penguatan hubungan bilateral, pemerintah Bangladesh juga sepakat untuk mendukung usulan reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang diajukan oleh AS.