Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Resmi Bebaskan Bea Masuk Pesawat Asal Brasil Jadi 0 Persen
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)
  • Amerika Serikat resmi menghapus bea masuk pesawat asal Brasil menjadi 0 persen, langkah ini disambut positif karena memperkuat hubungan dagang dan menekan biaya ekspor industri kedirgantaraan.
  • Keputusan tarif nol persen merupakan dampak putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan dasar hukum tarif sebelumnya, memberi kepastian hukum bagi Embraer dan stabilitas perdagangan bilateral.
  • Kebijakan bebas tarif meningkatkan daya saing ekspor Brasil senilai miliaran dolar, memulihkan prinsip perdagangan adil, serta memperkuat posisi Embraer di pasar penerbangan global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Brasil secara resmi menyambut baik keputusan otoritas Washington, Amerika Serikat (AS), yang membebaskan bea masuk bagi ekspor pesawat terbang asal Brasil ke pasar Amerika Utara. Kebijakan ini menjadi titik balik penting dalam hubungan dagang kedua negara, mengingat sebelumnya produk kedirgantaraan Brasil sempat terancam oleh beban tarif tinggi yang memberatkan industri manufaktur nasional.

Keputusan tersebut dipandang sebagai kemenangan strategis bagi sektor kedirgantaraan Brasil, terutama bagi Embraer yang merupakan produsen pesawat utama di pasar global. Melalui penerapan tarif nol persen, produk-produk Brasil kini memiliki posisi tawar yang setara dengan kompetitor internasional lainnya.

1. AS hapus tarif impor pesawat Brasil untuk jaga stabilitas industri penerbangan

Kebijakan penghapusan tarif impor dari 10 persen menjadi 0 persen secara resmi menghilangkan hambatan biaya yang sebelumnya diproyeksikan membebani ekspor jet regional sebesar 9 juta dolar AS (Rp151,5 miliar) per unit. Langkah yang diumumkan pada Selasa (24/2) ini meningkatkan efisiensi bagi maskapai penerbangan di AS yang sangat bergantung pada armada buatan Brasil.

Melalui penghapusan beban fiskal tersebut, Embraer dapat mempertahankan dominasi pasarnya di AS, yang merupakan tujuan utama bagi 45 persen pesawat komersial dan 70 persen jet eksekutif mereka. Tanpa kebijakan ini, Embraer diperkirakan akan kehilangan pendapatan hingga 3,6 miliar dolar AS (Rp60,6 triliun) sampai tahun 2030.

"Mengingat relevansi pasar ini, kami memperkirakan bahwa jika rencana tarif ini berlanjut pada besaran tersebut, kami akan mengalami dampak yang mirip dengan pandemi COVID-19 dalam hal penurunan pendapatan perusahaan," kata Francisco Gomes Neto, Chief Executive Officer Embraer, dilansir Economic Times.

Keputusan AS untuk memberikan pengecualian tarif ini tidak lepas dari dukungan kuat operator penerbangan regional seperti SkyWest Airlines dan Republic Airways. Para operator tersebut sangat mengandalkan model pesawat E175 untuk menjaga stabilitas operasional transportasi udara domestik mereka. Selain itu, kerja sama strategis Embraer dengan perusahaan-perusahaan AS, termasuk penggunaan mesin General Electric, memperkuat argumen bahwa kebijakan bebas tarif ini saling menguntungkan bagi kedua negara karena turut mendukung ribuan lapangan kerja di sektor manufaktur AS.

2. Mahkamah Agung AS batalkan tarif impor pesawat asal Brasil

Penetapan tarif nol persen untuk pesawat terbang asal Brasil merupakan dampak langsung dari putusan Mahkamah Agung AS. Pengadilan menyatakan, penggunaan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) oleh presiden untuk mengenakan tarif adalah tidak sah secara hukum.

Keputusan ini memaksa pemerintah AS untuk merombak aturan tarifnya dan beralih menggunakan Seksi 122 dari Trade Act tahun 1974. Meski menerapkan tarif global sementara, AS memberikan pengecualian luas bagi sektor kedirgantaraan guna melindungi kepentingan ekonomi nasional dan kepatuhan terhadap perjanjian internasional.

Transisi hukum ini memberikan kepastian bagi Embraer dan mengakhiri kekhawatiran akan lonjakan bea masuk pada pengiriman komoditas lainnya dari Brasil ke AS. Langkah ini dianggap sangat penting untuk menjaga stabilitas perdagangan antar kedua negara.

Meskipun AS tetap memberlakukan tarif global sebesar 10 hingga 15 persen pada beberapa kategori produk lain, sektor kedirgantaraan serta suku cadang pesawat secara eksplisit masuk dalam daftar pengecualian karena dianggap sebagai komponen vital infrastruktur ekonomi global. Keberhasilan diplomasi perdagangan ini memastikan hubungan industri antara São Paulo dan Washington tetap terjaga di bawah kerangka kerja legal yang lebih stabil.

"Pesawat terbang merupakan komoditas ekspor utama ketiga Brasil ke AS pada tahun 2024 dan 2025, dengan nilai tambah tinggi serta konten teknologi yang penting," kata Kementerian Pengembangan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil (MDIC).

3. Penghapusan tarif pesawat Brasil ke AS perkuat daya saing ekspor

Penghapusan tarif ekspor pesawat memberikan dampak positif yang luas bagi neraca perdagangan Brasil, di mana sekitar 46 persen dari total ekspor ke AS kini terbebas dari bea masuk tambahan. Kebijakan yang bernilai kolektif sekitar 17,5 miliar dolar AS (Rp294,5 triliun) tersebut juga mengakhiri diskriminasi harga yang sebelumnya dialami produk Brasil dibandingkan dengan pesaing dari Kanada dan Prancis. Langkah ini secara efektif memulihkan prinsip perdagangan bebas yang adil sesuai dengan standar internasional.

Keberhasilan di sektor penerbangan ini diharapkan menjadi pendorong bagi pemulihan sektor ekspor lainnya, seperti agribisnis dan manufaktur ringan, yang juga mengalami penurunan tarif signifikan dari 50 persen menjadi 10 persen. Mengingat pesanan Embraer yang mencapai nilai tertinggi dalam sembilan tahun terakhir sebesar 31 miliar dolar AS (Rp521,8 triliun), stabilitas tarif di pasar AS menjadi pilar utama untuk memastikan target pengiriman pesawat tahunan tercapai tanpa hambatan biaya tambahan bagi pembeli. Pemerintah Brasil menegaskan komitmennya untuk terus berdialog dengan Washington guna meminimalkan dampak tarif pada sektor lain yang masih terdampak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team