Kebijakan penghapusan tarif impor dari 10 persen menjadi 0 persen secara resmi menghilangkan hambatan biaya yang sebelumnya diproyeksikan membebani ekspor jet regional sebesar 9 juta dolar AS (Rp151,5 miliar) per unit. Langkah yang diumumkan pada Selasa (24/2) ini meningkatkan efisiensi bagi maskapai penerbangan di AS yang sangat bergantung pada armada buatan Brasil.
Melalui penghapusan beban fiskal tersebut, Embraer dapat mempertahankan dominasi pasarnya di AS, yang merupakan tujuan utama bagi 45 persen pesawat komersial dan 70 persen jet eksekutif mereka. Tanpa kebijakan ini, Embraer diperkirakan akan kehilangan pendapatan hingga 3,6 miliar dolar AS (Rp60,6 triliun) sampai tahun 2030.
"Mengingat relevansi pasar ini, kami memperkirakan bahwa jika rencana tarif ini berlanjut pada besaran tersebut, kami akan mengalami dampak yang mirip dengan pandemi COVID-19 dalam hal penurunan pendapatan perusahaan," kata Francisco Gomes Neto, Chief Executive Officer Embraer, dilansir Economic Times.
Keputusan AS untuk memberikan pengecualian tarif ini tidak lepas dari dukungan kuat operator penerbangan regional seperti SkyWest Airlines dan Republic Airways. Para operator tersebut sangat mengandalkan model pesawat E175 untuk menjaga stabilitas operasional transportasi udara domestik mereka. Selain itu, kerja sama strategis Embraer dengan perusahaan-perusahaan AS, termasuk penggunaan mesin General Electric, memperkuat argumen bahwa kebijakan bebas tarif ini saling menguntungkan bagi kedua negara karena turut mendukung ribuan lapangan kerja di sektor manufaktur AS.