Brasil Geser AS sebagai Produsen Daging Sapi Terbesar Dunia

- Brasil melampaui AS sebagai produsen daging sapi terbesar di dunia pada 2025
- Populasi sapi melimpah dorong Brasil jadi produsen daging sapi terbesar dunia
- Teknologi pakan dan inseminasi dorong efisiensi produksi sapi di Brasil
- Produktivitas tinggi dorong ekspor dan kurangi tekanan deforestasi di Brasil
Jakarta, IDN Times - Brasil resmi melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai produsen daging sapi terbesar di dunia pada 2025, berdasarkan estimasi pasar terbaru. Kenaikan produksi ini berkontribusi dalam meredakan tekanan terhadap pasokan daging sapi global yang sempat ketat dalam beberapa tahun terakhir.
Produktivitas tinggi menjadi faktor utama keberhasilan Brasil, memungkinkan peningkatan volume produksi tanpa perlu menambah jumlah ternak atau memperluas lahan penggembalaan.
1. Populasi sapi melimpah dorong Brasil jadi produsen daging sapi terbesar dunia
Brasil kini menempati posisi sebagai produsen daging sapi terbesar di dunia, didukung oleh populasi ternak yang mencapai 238 juta ekor. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 94 juta ekor sapi di AS, menurut data pemerintah Brasil dan Asosiasi Industri Ekspor Daging Brasil (ABIEC). Keunggulan ini memperkuat dominasi Brasil dalam pasar daging sapi global.
Sementara itu, produksi daging sapi AS pada 2025 turun sebesar 3,9 persen akibat kekeringan berkepanjangan dan proses pemulihan populasi ternak, menurut laporan Departemen Pertanian AS (USDA). Sebaliknya, Brasil mencatat hasil produksi yang melampaui perkiraan hingga 800 ribu ton, menjadikannya produsen terbesar dunia untuk pertama kalinya.
2. Teknologi pakan dan inseminasi dorong efisiensi produksi sapi di Brasil
Peternak di Brasil meningkatkan efisiensi produksi dengan mempercepat siklus penggemukan sapi melalui sistem feedlot. Dalam metode ini, sapi digemukkan selama sekitar 100 hari, jauh lebih singkat dibanding dua tahun jika dibiarkan merumput secara alami. Pada 2025, sekitar 22 persen populasi sapi di Brasil digemukkan di feedlot, dan angka ini diperkirakan meningkat menjadi 28 persen pada 2027, menurut lembaga riset Scot Consultoria.
“Jika sepuluh tahun lalu sapi disembelih pada usia lima tahun, kini rata-rata 36 bulan dan akan segera turun menjadi 24 bulan,” ujar Manajer feedlot CMA di Barretos, Vinicius Barbosa,
Inovasi seperti teknik inseminasi buatan dan penggunaan pakan hasil sampingan industri etanol berbasis jagung turut meningkatkan efisiensi peternakan.
Kepala Lembaga Konsultan Athenagro, Mauricio Nogueira menyebut, perkembangan ini meningkatkan tingkat kehamilan sapi hingga 54 persen pada 2027.
“Kami melihat lebih banyak kehamilan, genetika yang lebih baik, dan pertumbuhan lebih cepat, sambil menjaga populasi sapi tetap stabil,” katanya, dilansir Yahoo Finance.
3. Produktivitas tinggi dorong ekspor dan kurangi tekanan deforestasi di Brasil
ABIEC melaporkan peningkatan produktivitas telah memisahkan pertumbuhan output dari jumlah populasi sapi. Dalam satu dekade ke depan, produksi daging sapi Brasil diperkirakan naik 24 persen, sementara populasi ternak hanya meningkat 4 persen. Efisiensi ini berpotensi menekan ekspansi lahan penggembalaan dan membantu memperlambat laju deforestasi di wilayah Amazon.
Permintaan ekspor yang kuat dari China dan AS turut mendorong sektor peternakan Brasil. Pada 2025, nilai ekspor daging sapi negara itu mencapai hampir 17 miliar dolar AS (Rp285,7 triliun).
“Belum pernah ada permintaan internasional sebesar ini untuk daging sapi Brasil,” ujar Guilherme Jank dari lembaga riset pertanian Datagro.
Menurut USDA, produksi daging sapi global dari enam negara produsen utama akan turun 2,4 persen pada 2026, termasuk penurunan tambahan 0,9 persen di AS. Dalam kondisi ini, dominasi Brasil diperkirakan mampu membantu menstabilkan pasokan dan meredakan kenaikan harga daging sapi dunia.


















