Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Atasi Krisis Energi, Vietnam-Rusia Bangun PLTN Kapasitas 2.400 MW
Bendera Vietnam (unsplash.com/Sam Williams)
  • Vietnam dan Rusia sepakat membangun PLTN Ninh Thuan 1 berkapasitas 2.400 MW dengan teknologi VVER-1200, ditargetkan beroperasi sebelum akhir 2031 untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik nasional.
  • Selain proyek nuklir, Vietnam juga bekerja sama dengan Novatek Rusia dalam pasokan LNG, termasuk pembangunan terminal penyimpanan di Hai Phong dan Ca Na guna memperkuat ketahanan energi nasional.
  • Pemerintah Vietnam menegaskan kerja sama ini sebagai langkah strategis diversifikasi energi demi mengurangi ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah dan memperkuat kedaulatan energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Vietnam dan Rusia resmi menyepakati kerja sama pembangunan infrastruktur energi nuklir pertama di Vietnam. Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan bilateral antara Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, dan pemerintah Rusia di Moskow, pada Senin (23/3/2026).

Langkah ini diambil guna memperkuat keamanan energi nasional Vietnam melalui diversifikasi sumber daya di tengah ketidakpastian geopolitik global. Selain proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Ninh Thuan 1, kedua negara juga menyepakati pasokan gas alam cair (LNG) dalam skala besar untuk mengantisipasi krisis bahan bakar dunia.

Vietnam berharap kolaborasi ini mampu menciptakan cadangan energi yang stabil demi menyokong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

1. Rusia dan Vietnam bangun PLTN Ninh Thuan 1 berkapasitas 2.400 megawatt

PLTN(@JohannesPlenio)

Proyek PLTN Ninh Thuan 1 akan menggunakan dua unit reaktor canggih tipe VVER-1200 dengan teknologi Generasi III+ dari Rosatom. Pembangkit ini memiliki kapasitas total 2.400 Megawatt menggunakan teknologi yang telah teruji keamanannya pada berbagai proyek internasional di Rusia dan Belarusia.

Kolaborasi ini mencakup penyusunan payung hukum, transfer teknologi, serta pelatihan intensif bagi ribuan tenaga ahli Vietnam agar mampu mengoperasikan fasilitas tersebut secara mandiri. Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin, menekankan signifikansi proyek ini bagi kemajuan teknologi Vietnam.

"Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir ini akan memberikan dorongan kuat bagi pengembangan kerja sama di bidang teknologi tinggi, serta penelitian dasar dan terapan di Vietnam," ujar Mikhail Mishustin, dilansir Enerdata.

Pemerintah menargetkan unit pertama terhubung ke jaringan listrik nasional sebelum akhir tahun 2031. Target ini selaras dengan proyeksi lonjakan kebutuhan listrik nasional sebesar 12-13 persen per tahun. Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan fondasi kemandirian energi Vietnam.

"Bagi kami, ini bukan sekadar perjanjian membangun dua unit pembangkit listrik nuklir. Kami melihatnya sebagai fondasi kemitraan industri jangka panjang yang akan memperkuat kemandirian energi Vietnam dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi," kata Alexey Likhachev, dilansir The Star.

2. Vietnam dan Novatek Rusia sepakati kerja sama pasokan gas alam cair

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Foto: Pixabay

Selain nuklir, Vietnam juga menyepakati kerja sama dengan Novatek, produsen LNG terbesar di Rusia. Kerja sama ini mencakup pembangunan terminal penyimpanan di lokasi strategis seperti Hai Phong dan Ca Na, serta investasi pada pembangkit listrik tenaga gas.

Chairman Novatek, Leonid Mikhelson, menyambut baik potensi pasar Asia Tenggara dan komitmen Vietnam dalam pengembangan energi.

"Vietnam adalah salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Novatek berharap dapat memperluas kerja sama serta investasi berdasarkan kemitraan strategis komprehensif kedua negara," ujar Mikhelson, dilansir The Investor.

Langkah ini dinilai sebagai solusi krusial dalam masa transisi energi menuju rendah karbon. Infrastruktur penyimpanan gas nasional ini diharapkan mampu melindungi Vietnam dari fluktuasi harga energi global akibat gangguan rantai pasok.

"Kami telah bernegosiasi dengan pembeli potensial selama lebih dari lima tahun dan baru saja menandatangani perjanjian pasokan awal. Kami siap memulai pengiriman sesegera mungkin," ujar Mikhelson.

3. Vietnam gandeng Rusia demi perkuat kedaulatan energi nasional

PLTN (pexels.com/jason hu)

Upaya diversifikasi energi Vietnam didorong oleh tekanan pada kedaulatan energi akibat konflik di wilayah Iran yang mengganggu jalur ekspor melalui Selat Hormuz. Dengan ketergantungan impor minyak mentah dari Timur Tengah yang mencapai 80 persen, Vietnam harus segera mencari alternatif untuk mencegah krisis domestik.

Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, menegaskan pentingnya perubahan arah kebijakan energi negara.

"Sangat penting untuk mendiversifikasi sumber pasokan dan rantai pasok di tengah situasi global yang kompleks, demi mendukung transformasi sektor energi Vietnam melalui sains dan teknologi," ujar Pham Minh Chinh, dilansir Associated Press.

Sinergi Hanoi dan Moskow ini diharapkan mengukuhkan posisi Vietnam sebagai kekuatan ekonomi baru yang mandiri secara energi di Asia Tenggara.

"Kesepakatan ini merupakan langkah penting dalam kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai, dan kami meyakini proyek ini akan menjadi simbol baru persahabatan Vietnam dan Rusia," kata Pham Minh Chinh.

Sumber

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team