Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Krisis Energi Imbas Perang Timur Tengah Ancam Ekonomi Global

Krisis Energi Imbas Perang Timur Tengah Ancam Ekonomi Global
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol (IAEA Imagebank, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kepala IEA Fatih Birol memperingatkan krisis energi akibat perang di Timur Tengah lebih parah dari krisis minyak 1970-an dan berdampak pada seluruh perekonomian global.
  • Penutupan Selat Hormuz serta serangan ke fasilitas energi mengurangi pasokan minyak dunia hingga 11 juta barel per hari dan LNG sekitar 140 miliar meter kubik.
  • Ketegangan meningkat setelah AS mengancam Iran terkait Selat Hormuz, sementara harga minyak melonjak lebih dari 50 persen sejak konflik dimulai akhir Februari 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengatakan perekonomian global menghadapi ancaman besar akibat krisis energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Krisis kali ini bahkan dinilai lebih parah dibandingkan krisis minyak pada 1973 dan 1979 serta krisis gas akibat dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

“Dalam kondisi saat ini, krisis ini pada dasarnya merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas,” kata Birol dalam pidatonya di National Press Club di ibu kota Australia, Canberra, pada Minggu (22/3/2026), dikutip dari The Straits Times.

Menurutnya, tidak ada satu pun negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini.

1. Pasokan minyak global berkurang sekitar 11 juta barel per hari

selat Hormuz
selat Hormuz (Goran_tek-en, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Birol mengatakan, penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi telah mengurangi pasokan minyak global sekitar 11 juta barel per hari, lebih dari dua kali lipat dibandingkan total kekurangan pada krisis energi era 1970-an. Selain itu, pasokan gas alam cair (LNG) juga berkurang sekitar 140 miliar meter kubik, jauh lebih besar dibandingkan defisit sekitar 75 miliar meter kubik pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Kepala IEA itu juga menyebutkan setidaknya 40 fasilitas energi di sembilan negara mengalami kerusakan parah akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Ekonomi global saat ini menghadapi ancaman yang sangat besar, dan saya sangat berharap masalah ini dapat segera diselesaikan,” kata Birol.

2. IEA dorong masyarakat lakukan langkah-langkah penghematan energi

pengeboran minyak di lepas pantai
pengeboran minyak di lepas pantai (pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite)

Birol mengungkapkan bahwa besarnya skala krisis ini belum sepenuhnya dipahami oleh para pengambil keputusan di seluruh dunia, sehingga mendorongnya untuk memutuskan berbicara secara terbuka mengenai situasi tersebut pekan lalu. Dalam hal ini, IEA mengusulkan langkah-langkah penghematan energi, seperti menambah jumlah karyawan yang bekerja dari rumah, menurunkan sementara batas kecepatan di jalan tol, dan mengurangi perjalanan udara.

Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa dirinya tengah berkonsultasi dengan berbagai negara mengenai pelepasan tambahan cadangan minyak strategis jika diperlukan. Namun, menurutnya, solusi paling efektif untuk mengatasi krisis ini adalah membuka kembali Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global.

3. Iran ancam akan tutup sepenuhnya Selat Hormuz imbas ancaman AS

pengeboran minyak di lepas pantai
pengeboran minyak di lepas pantai (pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite)

Dilansir Al Jazeera, harga minyak telah melonjak lebih dari 50 persen sejak dimulainya perang di Timur Tengah, yang diawali dengan serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Pada Sabtu (21/3/2026), Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau pembangkit listrik negara tersebut akan dihancurkan. Batas waktu ini akan berakhir pada Senin (23/3/2026) malam waktu AS.

Menanggapi ancaman Trump, Iran mengatakan akan menutup sepenuhnya jalur perairan strategis tersebut, yang saat ini hanya dilintasi oleh sejumlah kecil kapal yang tidak berafiliasi dengan AS atau Israel, dan menyerang infastruktur energi dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More