Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
⁠Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) bersama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia meluncurkan Kajian Perdagangan Digital Indonesia yang membahas ekosistem perdagangan digital Indonesia di Hotel Shangri-La Jakarta
⁠Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) bersama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia meluncurkan Kajian Perdagangan Digital Indonesia yang membahas ekosistem perdagangan digital Indonesia di Hotel Shangri-La Jakarta (Dok. Pusat Informasi PBB/Dedy M)

Intinya sih...

  • Kajian eT Ready dorong UMKM go digital.

  • Laporan prioritas nasional menuju ekonomi digital inklusif.

  • Transformasi digital bermanfaat untuk semua pihak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laporan terbaru dari Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menghadirkan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem niaga digital Indonesia. Kajian ini merupakan permintaan Pemerintah Indonesia dan dikembangkan bersama UNCTAD berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Kajuan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Peluncuran nasional eTrade Readiness Assessment (eT Ready) dianggap memberikan arahan komprehensif bagi pembangunan ekosistem e-commerce yang inklusif dan berkelanjutan. 

1. Kajian strategis untuk dorong UMKM go digital

ilustrasi e-commerce (Unsplash/Growtika)

Kajian eT Ready memetakan peluang besar bagi UMKM untuk menjangkau pasar domestik dan global melalui perdagangan digital. Laporan ini juga menegaskan pentingnya penguatan pembayaran digital dan tata kelola regulasi.

Dengan ekonomi digital yang mencapai nilai  90 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2024, Indonesia memegang peran besar di kawasan regional. Sebagai satu-satunya anggota G20 di Asia Tenggara, Indonesia menempatkan perdagangan digital sebagai elemen penting pembangunan jangka panjang.

“Indonesia menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat menjadi pendorong daya saing dan inklusi secara bersamaan,” kata Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD, Pedro Manuel Moreno dalam keterangan tertulis.

“eTrade Readiness Assessment ini mendukung upaya Pemerintah untuk memperkuat koordinasi, memberdayakan UMKM agar dapat mengakses pasar daring, membangun kepercayaan dalam transaksi digital, serta memastikan ekonomi digital Indonesia terus tumbuh secara tangguh dan berkelanjutan,” sambung dia.

2. Prioritas nasional menuju ekonomi digital inklusif

Serah terima Kajian Perdagangan Digital Indonesia oleh Martine Julsaint Kidane dari Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) kepada Dr. Ditya Agung Nurdianto, Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Dok. Pusat Informasi PBB/Dedy M)

Laporan ini merupakan eTrade Readiness Assessment pertama UNCTAD yang dilakukan di negara anggota G20 dan yang pertama mengintegrasikan pertimbangan keberlanjutan lingkungan dalam analisis ekosistem e-commerce dan perdagangan digital. Ini diklaim mencerminkan komitmen Indonesia untuk memastikan pertumbuhan digital berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

eTrade Readiness Assessment memberikan tinjauan menyeluruh terhadap ekosistem e-commerce dan perdagangan digital Indonesia, mencakup koordinasi kebijakan dan kelembagaan, adopsi teknologi dan infrastruktur, partisipasi UMKM, kerangka hukum dan regulasi, pembayaran digital, serta inklusi keuangan. 

 “Temuan dalam kajian ini akan membantu mengarahkan upaya Indonesia dalam memperkuat ekosistem e-commerce dan perdagangan digital serta mendorong penyelarasan yang lebih baik, sehingga ekonomi digital Indonesia tumbuh tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih adil, aman, dan tangguh,” ujar Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri, Ditya Agung Nurdianto.

3. Transformasi digital bermanfaat untuk semua

UNCTAD - Wikipedia

Dalam laporan tersebut juga mengintegrasikan isu lintas sektor. Mulai dari partisipasi perempuan, pemuda, orang dengan disabilitas, pelaku sektor informal, serta komunitas di wilayah pedesaan dan daerah yang kurang terlayani. Ini dilakukan guna memastikan transformasi digital memberikan manfaat seluruh semua pihak.

"Laporan ini disusun berdasarkan konsultasi luas dengan para pemangku kepentingan nasional dan regional di seluruh Indonesia. Ini menjadi wujud kemajuan yang kuat dalam konektivitas, pembayaran digital, dan platform e-commerce lokal," kata Ditya.

Dalam laporan tersebut juga ditawarkan sejumlah langkah praktis untuk meningkatkan koordinasi, memperbaiki logistik dan pengiriman, membangun keterampilan digital dan mempermudah prosedur bagi para pelaku usaha, memperkuat perlindungan data dan keamanan siber, serta memperluas akses pembiayaan dan layanan digital bagi bisnis daring.

 “Melalui kolaborasi erat dan aksi terkoordinasi dengan UNCTAD serta para pemangku kepentingan nasional, Indonesia berkomitmen untuk memajukan ekonomi digital yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh,” ujarnya.

Editorial Team